Jakarta dari sebuah kacamata

Jakarta-1600x1200Banyak cerita tentang Jakarta, dan satu di antaranya adalah ceritaku…

Jakarta merupakan tempat mengais mimpi, di kota ini hamparan mimpi orang Indonesia bertebaran. Itulah mengapa Jakarta menjadi tempat yang diimpikan para petarung terbaik negeri ini. Tentu saja dengan kemampuan terbaik yang berbeda – beda, namun yang pasti petarung dengan kemampuan tanggung sedianya akan terhempas. Ibukota kejam, demikian pandangan orang – orang dengan kemampuan tanggung, atau mungkin tangguh tapi kurang beruntung, sehingga Jakarta mampu memukulnya kala ia lengah.

Jakarta adalah ibukota negara Indonesia. Hampir seluruh orang Indonesia pasti tahu. Itulah kenapa segala pencapaian di Jakarta adalah potret atau representasi Indonesia. Sebagian dari Anda mungkin mendebatnya, dan mungkin saja pandangan ini mulai terkikis. Ya, terkikis, tapi bukan berarti habis. Perspektif ini tetaplah mainstream.

Di Jakarta pula, tinggal kepala negara. Sosok yang elegan dan identik dengan pencitraan. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, potret sikap seperti ini adalah gambaran orang berada. Bagian kalangan menengah ke bawah, sikap ini dapat dianggap kurang membumi dan cenderung membosankan. Bukan karena tidak bermutu, tapi sangat jauh dari pemahaman kebudayaan dan pola hidup orang kebanyakan. Ibarat barang mewah, gambaran ini hanya menjadi fenomena “window shopping” bagi orang – orang yang melintas di pusat perbelanjaan elit.

Lain lagi dengan kepala daerah yang tengah memimpin. Sosoknya sangat merakyat, perawakan rupanya juga harus diakui kelas rakyat rata – rata. Terlepas dari kesuksesan dia menjalankan program atau tidak untuk membuat Jakarta lebih baik, namun inilah potret yang tentu saja langka untuk gambaran pemimpin di Indonesia. Bagaimana mungkin seorang kepala daerah mau terus – terusan berada di antara rakyatnya. Jika pun hanya untuk kepentingan diliput media sekalipun, sosok seperti ini tentu saja menghibur masyarakat, bahkan yang tengah berduka sekalipun. Mereka bisa melihat bahkan menyentuh pemimpinnya. Subhanallah.

Kini sang pemimpin tinggal membuktikan kebijakan pro rakyatnya (entah rakyat yang mana), yang jelas Jakarta jadi tambah lebih baik, tidak macet, lebih teratur dan indah, serta tambah makmur masyarakatnya.

Ya, setidaknya itulah tentu menjadi harapan sebagian besar orang Jakarta, khususnya yang menginginkan perubahan lebih baik.

??????????Jakarta macet? Hmm, menurutku, Jakarta bikin stress kalau berkendara di jalan raya. Jangankan naik mobil, naik motor pun sangat butuh kesabaran ekstra. Bayangkan saja panambahan ruas jalan bisa disebut stagnan, kalaupun ada pembangunan jalan layang atau perluasan jalan memakan waktu lama, teramat lama bahkan terkadang.

Lihat saja pembangunan jalan layang di daerah Kasablanka. Sudah tahunan pengerjaannya, sekarang terhenti pula, karena asumsi ada kesalahan anggaran. Atau perluasan jalan di kawasan Serpong dari arah Parung menuju BSD City, sekaliapun ada beberapa perbaikan jalan di beberapa titik, ada juga kondisi jalan yang hancur dan sepertinya sengaja dibiarkan terbengkalai. Oh iya, kawasan ini memang bukan lagi bagian Jakarta, Parung secara administratif milik Kabupaten Bogor, sementara Serpong masuk Propinsi Banten. Tapi yang pasti keduanya merupakan daerah penyangga Jakarta.

Kembali ke kondisi jalan di antara Parung menuju Serpong, banyak jalanan yang berlubang. Dan jika hujan turun cukup deras sebentar saja (mungkin sekitar sejam), bisa dua hingga tiga hari dibutuhkan agar genangan air yang ada di lubang – lubang itu surut. Itu pun jika hujan tidak turun lagi kemudian.

Plus lagi lampu penerangan jalan yang hampir bisa disebut tidak ada, jadi terasa lumayan angker kalau malam. Sebuah fenomena yang sangat unik dan menggelikan di satu sisi, karena lokasinya tidak jauh dari Jakarta, atau cukup dekat dari sebuah kota satelit mandiri bernama BSD City yang harga rumahnya di sini super mahal, atau dipimpin oleh Gubernur yang telah masuk periode kedua kepemimpinannya. Aku sendiri bingung, apakah sebaiknya jalanan ini diperbaiki atau tidak. Ada kekhawatiran, jika diperbaiki dan penerangannya baik akan lebih banyak orang lewat jalan sini, dan akhirnya menjadi titik kemacetan baru. Sederhananya jadi titik stress baru.

Ya, inilah jalan yang harus kulalui setiap hari, kalau menggunakan sepeda motor. Bagaimana jika aku berkendara menggunakan mobil? Hmm, selain harus melalui tiga gerbang tol untuk sekali perjalanan, kemacetannya cukup akut di beberapa titik. Ini adalah titik stress, karena akan menemui orang – orang yang berebutan ruas jalan, dan berpindah lajur semaunya. Bukan pilihan ideal keduanya, tapi tetap harus dijalani mana yang terbaik. Aku sendiri akhirnya memilih lebih sering naik motor. Meski badan jadi sering pegal – pegal melintasi jalanan berlubang, namun waktu tempuh lebih cepat, lebih irit bensin, dan yang tidak kalah pentingnya, menghindari macet.

Pasalnya jika terjebak di antara kemacetan, dibutuhkan kesabaran ekstra untuk mensugesti diri agar tetap tenang dan tidak terpancing dengan persoalan sesaat. Ingat anak istri yang menunggu di rumah misalnya bisa jadi salah satu kiat jitu.

Kini, Jakarta tambah macet, tambah banyak orang kaya, tambah banyak kepentingan, tambah banyak jalan berlubang, tambah banyak kendaraan, tambah banyak orang pintar, tambah riuh…

Ya, itulah Jakarta di mataku. Di kota ini banyak orang mengais mimpi, di kota ini pula Anda bisa merenda mimpi. Di kota ini sebaiknya Anda harus tetap fit dan segar, karena Anda harus melihat pertarungan itu sebagai seni yang harus dimengerti. Dan untuk dapat mengerti, Anda butuh energi prima.

Tetap semangat, dan sukses selalu.

BSD City, 25 Juli 2013

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Umum and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Jakarta dari sebuah kacamata

  1. rischi says:

    heheeee…….diperbaiki percuma depok-BSD, hannya menguntungkan jenderal naga bonar

    • jbkderry says:

      @ bro rischi: Gw juga sebenarnya bingung, baiknya itu jalanan diperbaiki atau enggak…hehehehe… nanti kalau diperbaiki malah banyak orang lewat situ dan macet:p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s