Menyusuri Wisata Alam Batu Karas & Situ Patenggang

Image
Pantai Batu Karas, 11 September 2012

Sudah lama ide artikel ini mengendap di kepala. Tepatnya sejak bulan September 2012. Saat itu PT Ford Motor Indonesia, Agen Pemegang Merek Ford di Indonesia meminjamkan seunit All New Ford Ranger XLT 4×4 berkelir Aurora Blue bertransmisi manual enam percepatan.

Sebagai informasi, di Jakarta mobil bergenre desain pikap dobel kabin ini ditempeli stiker harga Rp 355,5 juta (on the road). Artinya berada di atas harga favorit umumnya konsumen di Indonesia (baca: di bawah Rp 250 juta). Itu pulalah yang menjadikan perjalanan kali ini cukup istimewa.

Mobil ini juga seketika mengingatkanku pada duo sosok imajiner ala Hollywood, Harley Davidson and Marlboro Man yang diproduksi tahun 1991. Bayangan akan duo heroik imajiner ini pulalah yang menyertai selama empat hari tiga malam (10 – 13 September 2012), bersama seorang rekan fotografer muda handal asal Jogja, Setyo Adi Nugroho.

Rute pun ditentukan, yakni kawasan wisata pantai Batu Karas dan Situ Patenggang. Keduanya berada di wilayah Jawa Barat. Mengapa? Rasanya suasana wisata alam mampu mengendapkan rasa sesak dan penat para warga Jakarta dan sekitarnya, seperti kami.

10 September 2013

Meski berpostur gambot, All New Ford Ranger XLT ini memiliki level kenyamanan berkendara setara mobil penumpang seperti sedan atau MPV. Terlebih team engineer dan desainer dari Ford telah mempersiapkan sedemikian rupa level kenyamanan, keamanan, hingga fitur terdepan pada varian kendaraan dengan cap lahir (baca: merek) Amerika Serikat, melalui serangkaian masa pengujian yang cukup panjang di berbagai negara dan kondisi medan di dunia.

Saya pun sempat merasakan sebuah pengalaman, ketika mengemudikannya di antara kemacetan jalan Arteri Pondok Indah di waktu yang cukup sibuk, sekitar pukul tiga hingga empat sore. Saya ingin memberi tahu Anda sebuah rahasia kecil, jika di antara kemacetan perbedaan dimensi kendaraan tidak memberikan dampak perbedaan besar dalam berkendara.

Setidaknya jika Anda mengendarai All New Ford Ranger XLT, yang memiliki dimensi panjang 5.351 mm, lebar 1.850 mm, tinggi 1.821, serta jarak antar sumbu roda 3.220 mm.

11 September 2013

Medan off road ringan di kawasan pantai Batu Karas
Medan off road ringan di kawasan pantai Batu Karas

Perjalanan kali ini awalnya diberi nama misi “mengejar Matahari” di pantai dan di gunung. Berhasilkah? Simak ceritanya…

Matahari masih perlahan keluar dari sudut Timur batas panorama Bumi, saat setir kemudi kendaraan dobel kabin ini diarahkan menuju jalur Selatan Jawa.

Torsi berlimpah layaknya kendaraan diesel modern, 375 Nm pada putaran mesin 2.500 rpm, serta transmisi enam percepatan, membuat mobil sangat mudah beradaptasi. Sederhananya dibawa kencang oke, dibawa hemat BBM juga bisa. Di putaran 2.000 rpm maksimal dan posisi gigi transmisi enam, kecepatan kendaraan bisa melaju pada indikator speedometer 80 km/jam.

Jika Anda suka dunia otomotif, tentu bisa membayangkan efisiensi konsumsi BBM dari mesin diesel Duratorq 2,2-L.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore ketika mobil tiba di kawasan Batu Karas, sekitar 34 km dari Pangandaran. Dengan kata lain, tanpa terasa sudah sekitar 10 jam berada di atas mobil ini dan tidak membuat kami lelah mengemudikannya, ataupun saat duduk sebagai penumpang di kursi depan.

Ini karena kinerja suspensi dan bantingan setir terhitung presisi untuk mengakomodir kesenangan dalam mengemudi, termasuk dalam mengantisipasi ruas jalan yang cukup sempit, berkelok dan lubang jalan.

Semilir udara pantai, ombak, hamparan pasir, sampan para nelayan, warung – warung warga setempat, deretan pepohonan kelapa yang menjulang, hingga kontur jalan bergelombang menyambut kehadiran kami di Batu Karas.

Jiwa liarku sempat membuat petaka kecil di sini. Mobil kuarahkan ke pasir Pantai yang ternyata cukup basah. Hasilnya cukup membuat keempat ban mobil terjerembab dan tenggelam. Situasi ini tidak berlangsung lama, karena warga sekitar pantai seketika langsung menghampiri dan beramai – ramai mencari cara untuk membuat mobil keluar dari pasir.

Dahan ranting kelapa dan batu, serta tenaga – tenaga beberapa orang sekitar membuat ban mobil bergerak dan keluar dari garis pasir pantai. Kembali ke jalan umum.

Bebas dari situ, bukan berarti jiwa petualanganku kapok dan berhenti. Di antara pepohonan kelapa terlihat medan off – road ringan terhampar. Seketika kemampuan a la off-roader amatiranku seakan terpanggil. Tuas transfer case aku pindahkan ke posisi 4-H, dan kurasa cukup tanpa perlu mendorongnya ke posisi 4-L.

Terbukti tanpa butuh banyak bantuan tekanan gas, beberapa kali pikap dobel kabin ini berhasil dibuat naik turun perbukitan kecil dan merambat pelan. Yeah, this is why automotive world will be always toys for big boys…

Puas bermain 4 x 4, kami menyempatkan mencari informasi mengenai harga sewa penginapan di sekitar kawasan Batu Karas. Hasilnya dengan biaya sekitar Rp 300 ribu per malam, Anda telah dapat menginap di sebuah penginapan yang cukup bersih dan asri.

Kami pun awalnya ingin menginap di kawasan ini, meski akhirnya dibatalkan. Alasannya cukup remeh temeh, ternyata pantai di kawasan Batu Karas bukanlah tempat di mana Matahari terbenam, melainkan tempat Matahari terbit. Kami pun gagal mengabadikan momen tenggelamnya matahari di balik batas permukaan laut sana.

Salah satu target utama tidak berjalan mulus, dan membuat saya memutuskan kembali ke kabin kendaraan dan memutar kunci kontak. Buckle up, dan saatnya balik kanan. Semburan jingga senja mulai pudar, saat saya dan Adi meninggalkan kawasan wisata Pantai Batu Karas.

Diiringi deretan pepohonan tinggi dan perbukitan, serta rute jalan yang berkelok, All New Ford Ranger XLT diarahkan menuju ke arah kota Banjar.

Jam makan malam sebenarnya telah cukup lewat, saat kami tiba di kota yang menjadi pintu gerbang terakhir sebelah Selatan dari propinsi Jawa Barat, sebelum memasuki kawasan Jawa Tengah. Di kota kecil ini, selepas pukul delapan malam, mayoritas warganya seperti telah terlelap di pembaringan masing – masing.

Beruntung masih ada rumah makan yang buka, sehingga perut – perut kami yang keroncongan bisa kembali terisi energi.

Entahlah, sekitar jam 10 atau 11 malam, kami tiba di kota Ciamis. Sebuah hotel bernama Tyara Plaza di jalan Jenderal Sudirman – Ciamis menjadi destinasi terakhir di hari itu. Harga kamar standar twin bed di hotel ini juga cukup terjangkau, sekitar Rp 300 ribu per malam.

Kami pun terlelap. Zzzzzz…

12 September 2012

Perkebunan teh di kawasan Ciwidey, Kab, Bandung.
Perkebunan teh di kawasan Ciwidey, Kab, Bandung.

Nasi goreng dan telur dadar a la kadarnya menjadi hidangan sarapan pagi di Tyara Hotel – Ciamis. Cukuplah untuk mengganjal isi perut, sebelum melanjutkan perjalanan.

Seperti layaknya kisah para petualang, kami pun melanjutkan perjalanan kala Matahari masih bersemu merah. Kali ini rute tujuan adalah Situ Patenggang, yang berarti harus kembali melintasi jalur Selatan Jawa.

Entah kenapa saya suka jalur Selatan Jawa ini, tentunya saat tidak macet:d. Rasanya sepanjang lajur ini aura dan budaya Parahyangan masih berusaha dipertahankan oleh sebagian masyarakatnya.

Dari beberapa literasi, Parahyangan adalah daerah kebudayaan Sunda yang terdiri dari tiga tatar (tanah) wilayah. Tatar satu meliputi Bogor, Cianjur dan Sukabumi. Tatar dua meliputi Bandung, Cimahi dan Sumedang. Dan tatar tiga yang tidak lain tiga wilayah daerah kabupaten yang menjadi pilar jalur Selatan, yakni Garut, Tasikmalaya dan Ciamis.

Dari wawasan umum, bisa disebut memang Tatar tiga bumi Parahyangan yang belum terkontaminasi modernisasi seperti Bandung dan Bogor. Ini pula yang membuat keasrian alamnya masih dapat dinikmati sebagai harmoni atau penyeimbang bagi warga kota yang terbiasa dengan budaya bergegas dan rutinitas nan padat.

Kembali ke cerita perjalanan kali ini. Setelah melintasi rute Nagreg yang berkelok, kawasan Rancaekek dan pintu tol Cileunyi, kendaraan dobel kabin tandem perjalanan kali ini kami arahkan keluar pintu tol Soreang. Untuk sampai ke kawasan wisata Situ Patenggang atau kawah putih Ciwidey, akses melintasi Soreang yang merupakan ibukota kabupaten Bandung adalah rute utama yang kerap dilewati.

Untuk melintasi rute ini, Anda perlu trik khusus. Sebaiknya hindari melintasi masuk pagi ketika orang – orang berangkat beraktivitas atau kala petang saat bubaran kerja. Jika tidak, bersiaplah melintasi rute yang padat, dengan ruas jalan yang bisa disebut sempit, serta kendaraan roda dua, pedagang kaki lima dan orang – orang yang bersiliweran tidak beraturan.

Selepas kawasan Soreang, lalu lintas bisa disebut semakin lancar. Hanya saja ketika sudah mulai melintasi kawasan jalan perbukitan menuju kawasan Ciwidey dan Situ Patenggang, ada baiknya Anda lebih berhati – hati. Khususnya jika Anda mengendarai kendaraan roda empat berdimensi di atas rata – rata seperti All New Ford Ranger XLT. Selain menggunakan dobel kabin dari Ford ini, saya juga pernah melintasi rute ini menggunakan Mazda CX-9, sebuah SUV yang berdimensi regular.

Ada beberapa titik kemacetan kecil di jalan menanjak dan ruas jalan cukup sempit yang harus dilalui, namun selepas tantangan tersebut, bersiaplah merasakan udara sejuk menghinggapi Anda.

Meski Matahari mulai meninggi, tidak perlu menaikkan suhu pendingin udara di kabin untuk mendapatkan kesejukan. Cukup buka kaca jendela setengah, matikan A/C dan rasakan sejuknya udara alami di sekitar kawasan ini. Dijamin kepenatan dari Jakarta luntur seketika.

Sengaja kendaraan tidak diarahkan ke wisata favorit kawah putih Ciwidey, melainkan ke arah Situ Patenggang, sebuah obyek wisata danau di kawasan Ciwidey dengan ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut.

Di pertengahan jalan, sebuah kawasan perkebunan teh menggugah naluri kami untuk sesi pemotretan. Walhasil meski jalanan menuju kawasan ini ditutup dengan ranting pepohonan, saya dengan nakalnya memindahkan. Setelah mobil masuk, baru ranting itu dikembalikan ke posisi semula. Hasilnya seperti yang bisa Anda lihat melalui foto berikut.

Puas sesi foto, perjalanan kami arahkan kembali ke Situ Patenggang. Di tempat wisata ini tepatnya di tengah danau Situ Patenggang ada sebuah batu yang diberi nama “Batu Cinta”. Dari informasi penduduk setempat, “Batu Cinta” kabarnya kerap menjadi tempat foto pra-wedding. Bagaimana Anda berminat menjadikannya sebagai literasi juga dengan calon pasangan hidup tercinta?!

Sayangnya lagi rencana kami meleset. Tidak ada lokasi foto yang pas buat mengabadikan perpaduan antara All New Ford Ranger XLT dan kawasan alam di Situ Patenggang. Kami pun memutuskan pulang, namun sebelumnya dari beberapa penjual strawberry, beberapa paket buah tersebut berpindah ke ruang kabin kendaraan sebagai oleh – oleh perjalanan.

Harganya cukup murah, cukup membayar Rp 20 ribu – Rp 25 ribu, Anda sudah bisa mendapatkan tiga paket buah strawberry.

Buat Anda yang ingin menginap di kawasan ini, harga penginapan pun cukup terjangkau. Dengan biaya sekitar Rp 200 ribu, Anda sudah dapat penginapan yang cukup bersih untuk keluarga kecil Anda.

Semoga bermanfaat…

One Reply to “Menyusuri Wisata Alam Batu Karas & Situ Patenggang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s