68 Tahun, Jayalah Selalu Indonesia-ku

Banyak yang tidak terungkap selama berdirinya negara ini, dan kita sudah biasa (atau dipaksa sebagai budaya) untuk melupakan. 17 Agustus 2013, Indonesia disebut akan merayakan hari kemerdekaan ke-68.

Indonesia, sungguhkah kau ada? Memoriku merekam jejak tentang nasionalisme dan patriotisme di jaman kuliah dulu. Dari film “The Brave Heart” (1995) dan “The Patriot” (2000), dikisahkan jika konon perang kemerdekaan Skotlandia di abad 13 (1296 – 1328) dan Amerika Serikat di abad ke-18 (1775 – 1783) memiliki kemiripan dengan upaya kemerdekaan Indonesia.

Dari kedua film itu disebutkan masing – masing, upaya kemerdekaan rakyat Skotlandia merupakan persatuan para clan dan upaya kemerdekaan rakyat Amerika merupakan persatuan para state. Sederhananya, kemerdekaan dari kedua negara ini dibangun berdasarkan persatuan perbedaan budaya dan latar belakang dari para kelompok orang.

Bukankah ini mengingatkan pada Indonesia, yang juga bereksistensi atas dasar perbedaan berbagai budaya, suku bangsa dan agama seperti terkandung dalam semboyannya, Bhinneka Tunggal Ika. Namun sejujurnya pula ego – ego kesukuan, budaya, bahasa, agama dan kelompok masih mewarnai negeri ini, hingga kini. Rasanya belum pernah mendengar adanya konsensus kebangsaan layaknya Skotlandia dan Amerika Serikat di atas.

Lalu benarkah ada persatuan Indonesia layaknya Skotlandia dan Amerika Serikat? Sepanjang jaman sekolah dasar dulu yang saya ingat adalah banyaknya literasi tentang pertempuran di bumi pertiwi, namun berlangsung secara kedaerahan.

Cut Nyak Dien berperang untuk Aceh, Pattimura untuk Maluku, Pangeran Diponegoro di kawasan Jawa, atau Sultan Hasanuddin di Sulawesi Selatan. Tak ada perang atas nama Indonesia, kecuali di jaman kerajaan Majapahit. Itupun namanya Nusantara, sebuah ambisi dari Mahapatih Gajah Mada untuk mempersatukannya yang dikenal dalam sumpahnya, Sumpah Palapa.

Kemudian lahirlah era dua anak bangsa Soekarno – Hatta dan kemudian dikenal sebagai bapak proklamator kemerdekaan Indonesia. Awalnya saya ragu, apa iya mereka bapak pemersatu Indonesia. Premisnya sederhana saja, invasi Belanda ke Indonesia hadir dengan sebuah pemaksaaan paham “feodalisme” yang sifatnya top down. Warna ini terus bertahan hingga era Orde Baru, dimana ketidaksukaan yang ditunjukkan pada penguasa adalah berarti mengundang petaka. Anda bisa dibedil, layaknya fenomena “petrus” atau media yang dibredel/dicabut SIUPP-nya.

Rakyat senantiasa dibodohkan dan dipaksa melupakan sejarah. Dan yah, banyak yang senantiasa diendapkan sedemikian rupa secara terstruktur. Tidak banyak mencuat literasi jika Sukarno meninggal dalam suasana keprihatinan dan statusnya sebagai tahanan politik. Lalu Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya juga meninggal dalam usia muda 35 tahun juga di situasi penuh keprihatinan.

Taruhlah Sukarno belum berhasil mempersatukan Indonesia, taruhlah demikian. Namun di sisi lain, hingga di ujung hayatnya Sukarno memilih untuk tidak menentang Suharto demi sebuah kekuasaan negara. Baginya, persatuan Indonesia lebih penting. Taruhlah Sukarno belum membuat bangunan utuh sebuah negara bernama Indonesia, tapi mustahil mengingkari bersama M. Hatta dan pahlawan perjuangan Indonesia lainnya, pondasi kebangsaan dan negara telah dibangun utuh. Giliran kita melanjutkan, hanya kita yang dimuliakan tentunya.

Cukuplah hal – hal di atas mengingatkanku begitu banyak orang yang telah berkorban nyawa demi kebahagiaan negara ini, Indonesia. Negara ini memang bukan agama, tapi dengan kedaulatan di negeri ini harus diakui telah memberikan ketenangan yang cukup baik bagi para pemeluk agama secara pluralis.

“Jas Merah”, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.” Inilah satu di antara kumandang Sukarno yang paling legedaris sepanjang masa.

Allah SWT juga telah melimpahkan kekayaan alam sangat berlimpah di negeri ini, meski di tengah ketamakan dan keserakahan orang – orangnya, khususnya di Pemerintahan. Sebutlah mereka adalah preman – preman yang terlembaga dan dilindungi oleh undang – undang yang dibuatnya sendiri, demi keuntungan tentu untuk mayoritas keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Tapi sudahlah, lupakan mereka dan tetaplah berjalan, serta berjuang layaknya para pendahulu kita yang mulia. Jas Merah, terima kasih Sukarno, terima kasih Hatta, terima kasih W.R. Supratman, terima kasih semua pahlawan Indonesia.

Tuhan seperti mengutus langsung para malaikatnya untuk menaburkan kearifan serta kemuliaan di hati dan pikiran rakyat Indonesia. Layaknya berkah kearifan pada para pahlawan terdahulu, rakyat Indonesia secara intuitif semakin cerdas dan kreatif untuk berjuang melanjutkan kontruksi bangunan kemerdekaan.

Jayalah selalu Indonesiaku, saya sangat bangga menjadi anak negeri ini, dengan catatan tentu tidak bangga dengan pemerintahan, para uztad selebritis yang hipokrit, dan lembaga – lembaga yang mengatasnamakan Tuhan untuk keserakahan serta nafsu kebinatangan.

DeLivina, Pabuaran 17 Agustus 2013

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Umum and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s