Fase Balita Oka

Riyory Rahmaoka Andjani
Riyory Rahmaoka Andjani

Dunia anak adalah dunia bermain dan menjadi sebuah fase kehidupan. Dan inilah yang tengah dilalui Riyory Rahmaoka Andjani, putri sulungku yang lahir di pertengahan 2008.

Oka, demikian sapaan akrabnya, adalah karunia yang sempat cukup terbengkalai dalam berbagai kesempatan. Sekitar tiga tahun kehidupan awalnya cukup lekat dengan pembantu di rumah kami, ataupun neneknya (ibuku). Meski itulah takdir, namun sempat ada perasaan bersalah membuatnya sempat tumbuh dalam kondisi agak cukup jarang bersama kedua orang tuanya.

Baru saat kelahiran adiknya, Muhammad Arasy Akiyory jelang akhir 2011, Oka mulai bisa bersama dengan Bundanya yang memutuskan untuk berhenti bekerja dan mengurus anak – anak.

Dahulu saat kutinggal bersama istri pergi bekerja, wajah Oka sering menampakkan wajah kesedihan yang amat sangat, sebelum menangis. Sebuah suasana yang kerap membuatku sangat tidak tega.

Syukurlah Oka kini bisa senantiasa bersama Bunda dan kedua adik laki – lakinya berbagi kebahagiaan di rumah.

Masa Sekolah

Mungkin ini yang menjadi bagian menarik dari kisah Oka di sini. Saat usianya menginjak tiga tahun, ia kumasukkan ke sebuah PlayGroup di dekat rumah ibuku.

Di sekolah yang bayaran masuknya cukup tinggi itu, bisa disebut Oka tidak mengalami perkembangan yang berarti secara kreativitas atau pun wawasan. Pihak sekolah hanya terus memberi masukan, dan masa sekolah Oka di situ pun akhirnya tidak berlangsung lama. Tidak sampai satu semester sepertinya. Pasca pengasuhnya berhenti, Oka pun berhenti sekolah.

Selebihnya Oka banyak menghabiskan waktu di rumah bersama pengasuhnya yang baru. Kekhawatiran terbesarku, tidak ada motivasi buatnya untuk bertumbuh kembang bersama seorang pengasuh. Terlebih Oka termasuk speech delay.

Tahun 2012, saat tahun ajaran baru, Oka kudaftarkan ke sebuah TK terbaik yang ada di dekat rumah. Setidaknya jika ukurannya adalah bangunan sekolah yang besar. Bayarannya pun cukup tinggi, makanya aku sempat bernegosiasi dengan kepala sekolahnya untuk membayar separuh dulu. Nanti jika Oka suka bersekolah di situ, aku lunasi.

Ternyata kejadiannya tidak jauh berbeda, Oka lebih banyak bermain sendiri dan pihak sekolah hanya terus memberikan masukan yang tanggung, tanpa solusi yang jelas. Alhasil Oka hanya kembali satu semester di situ, dan aku sempat bersitegang dengan pihak sekolah yang sempat keukeuh memintaku melunasi sisa pembayaran.

Hmm, ini sekolah sudah kayak preman saja. Maunya uang, tapi kualitasnya tidak bisa dipertanggungjawabkan,” ungkapku.

Oka pun kembali dirumahkan, hingga memasuki semester kedua, ia kembali bersekolah. Kali lebih dekat dari rumah, dan bayarannya cukup murah. “Yah, sudahlah yang penting sekolah,” kata Bundanya.

Dan betul menurut sebagian orang, jika kearifan itu tidak harus selalu terikat dengan ruang – ruang yang mewah dan mahal. Di sekolahnya nan murah meriah ini, Oka mulai fasih berbicara, menulis dan menggambar. Ia pun semakin aktif menunjukkan hasil kreativitasnya padaku.

Antusiasmenya dalam berkomunikasi dan menjelaskan juga dapat disebut berkembang pesat. Secara bertahap, Oka terus menunjukkan jika doa yang kusempatkan dalam namanya mulai mewujud.

Ya, seperti arti namamu yang menjadi doaku, “Putri kami karunia Allah SWT dengan kemampuan a la bangsa Jepang dan setara dengan dewa – dewi.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s