Namaku Sabuk Pengaman

Safety belt for life

Safety belt for life

Namaku sabuk pengaman atau safety belt. Posisiku ada di kendaraan roda empat atau lebih, meski tidak semua mobil baru di Indonesia dilengkapi diriku, seperti di beberapa varian terbawah mobil Low Cost Green Car (LCGC).

Mengenakan aku di dalam kabin kendaraan mungkin terasa tidak nyaman pada awalnya, karena ada perasaan terkekang. Jika Anda termasuk yang demikian, biasakanlah. Seperti makna sebuah petuah, “Biasa karena terbiasa.”

Saat berkendara, fungsiku sangatlah penting. Tanpa diriku, sudah banyak manusia cidera berat bahkan meninggal dunia. Dua contoh fenomenal adalah kasus tabrakan yang melibatkan anak seorang menteri di awal tahun 2013, atau yang terbaru di bulan September yaitu kasus tabrakan anak bungsu seorang musisi kenamaan di negeri ini.

Kendaraan – kendaraan yang ditabrak oleh anak menteri atau anak musisi itu (seperti diketahui oleh publik), bukanlah pencetus atau penyebab terjadinya kecelakaan tersebut. Malangnya para penumpang kendaraan yang ditabrak justru meninggal dunia. Dua orang menjadi korban jiwa dari tabrakan sang anak menteri, sementara dari kasus si anak musisi ada tujuh orang meninggal dunia.

Dari berbagai sumber, para korban jiwa umumnya disebut tidak menggunakan aku. Baiklah, mari beranalogi. Bayangkanlah jika sebuah mobil yang melaju 40 km/jam, lalu direm mendadak. Atau mobil yang melaju 40 km/jam, lalu mendapat hantaman atau tekanan dari kendaraan lain, sehingga mobil langsung berhenti seketika atau malah melaju lebih kencang lepas dari kendali pengemudi. Dapat dibayangkan daya lontar yang terjadi pada penumpang di dalam kabin kendaraan.

40 km/jam bukanlah laju yang kencang, khususnya di jalan bebas hambatan yang menganjurkan kecepatan maksimum antara 60 km/jam hingga 80 km/jam. Artinya 40 km/jam tergolong pelan, dan besar kemungkinan mobil – mobil yang bertabrakan dengan kendaraan anak menteri atau anak sang musisi melaju lebih cepat.

Yah, 40 km/jam memang pelan, namun makna pelan di sini tentu dalam konteks kebutuhan laju kendaraan, bukan untuk manusia penumpangnya.

Sebagai perbandingan, manusia – manusia super dengan kemampuan sangat terlatih “hanya” mampu melaju di kecepatan 40 km/jam. Usain Bolt, pemegang kecepatan rekor dunia lari sprint, “hanya” mampu berlari 44 km/jam. Sementara Cristiano Ronaldo bahkan tidak sampai 40 km/jam, “hanya” 39,2 km/jam. Artinya kecepatan kendaraan bukanlah serta merta menjadi kecepatan yang dapat ditolelir oleh mahluk bernama manusia yang berada di dalam kabin kendaraan.

Kembali ke soal korban jiwa di jalan raya di atas. Para korban yang wafat telah meninggalkan istri dan anak – anak yang masih kecil. Meski para pesohor itu mengaku menanggung biaya hidup para keluarga korban, tapi takdir ini mungkin masih bisa dihindari andai saja mereka mengingat aku. Namaku sabuk pengaman, kumohon ingatlah aku selama mengemudikan mobil atau ketika hanya menjadi penumpang sekalipun.

Semoga dapat membantu.

Sumber foto: http://www.safeminers.com/wp-content/uploads/2010/06/Belt-Up-for-Life.jpg

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Otomotif Roda Empat and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s