Sejenak Menepi di BSD City

“Life is like a roller coaster. It has its ups and downs… but it’s your choice to either scream or enjoy the ride. Be Positive.”

Sumber foto: http://4.bp.blogspot.com/-xpax69A_zRU/UhJNFB-CaVI/AAAAAAAAJ1s/fMItqP1qYgU/s1600/Life+Is+Like+A+Rollercoaster.jpg
Sumber foto: http://4.bp.blogspot.com/

16 Mei 2013, dimana chapter perjalanan kali ini dimulai. Tepatnya beberapa saat sebelum anakku yang keempat terlahir, sebuah pesan masuk ke perangkat smartphone-ku.

Inti pesannya, sebuah peluang kerja bersama seorang pakar industri otomotif asal Amerika Serikat. Dari beberapa literasi yang berhasil aku kumpulkan, “Dia salah satu yang terbaik di industri otomotif Asia.”

Layaknya ungkapan klasik yang dipercaya sebagian orang, manusia tidak pernah tahu kapan peluang dan rejeki diutus Tuhan mengetuk kehidupan kita sebagai sebuah kejutan istimewa. Untuk itu, kuanggap peluang ini sebagai rejeki untuk anak keempatku di hari kelahirannya. Di Kitab Suci pun telah dijelaskan, jika anak – anak kita telah memiliki rejekinya masing -masing. Aku percaya itu. 

Sekitar sepekan kemudian, aku akhirnya bersua dengan sang tokoh. Ada beberapa kilasan pertanda jika suatu saat aku dapat kembali bertemu dengannya (kami sempat bertemu tahun 2011). Saat bertemu, kita berdiskusi mengenai sebuah peluang usaha, termasuk tentang kemungkinan aku bergabung dalam timnya. Bagiku ini tentu intinya, dan sepekan kemudian aku telah mendapat kejelasan tentang peluang itu.

Tanggal 17 Juni 2013 menjadi mementum yang disepakati untuk memulai proses perjalanan kerja bersama sang tokoh.

Pada pekan pertama bekerja, aku senantiasa menggunakan mobil dengan melalui rute jalan tol Jagorawi – JORR, dengan kalkulasi biaya perjalanan sebulan sekitar seperempat dari gajiku. Untuk menekan biaya pengeluaran yang berlebih seperti ini, maka sebuah rencana perjalanan baru pun aku himpun pada pekan berikutnya. Skuter matik yang sebelumnya dipakai untuk kebutuhan sekolah putri sulung ganti aku kendarai, sementara dia aku sewakan motor ojek.

Skenario proses perjalanan ini tentu lebih bersahabat dalam hal biaya pengeluaran, meski ternyata belum dalam pilihan rute perjalanan. Pasalnya melalui informasi dari pramuwisma di rumahku, rute baru yang aku lewati adalah akses jalan penghubung yang sepi dan rusah parah. 

Bulan berikutnya sebuah rute baru kutemukan, melintasi kawasan Sawangan, Pondok Petir, Villa Pamulang, pemukiman orang – orang kaya di BSD City, sebelum akhirnya tiba di kantor di German Center – BSD. Rute perjalanan kali ini begitu mulus dan nyaris anti macet. Walhasil aku senantiasa masih sempat shalat Dhuha, sebelum berangkat beraktivitas. 

Indahnya BSD City

Keindahan BSD City seperti sebuah mimpi – mimpi yang terjawab. Mimpiku yang ingin menghindari sesak dan macetnya Jakarta, dan mimpi istriku yang menginginkan aku bekerja di sebuah perkantoran dengan fasilitas jaminan – jaminan yang ditanggung kantor.

Bekerja dengan sang tokoh? Ya, ini sebuah jawaban dari mimpi lainnya, bekerja bersama seorang figur terhebat di industri otomotif, dan dia juga seorang penulis industri otomotif Asia yang sangat handal. Rekaman jejak kualitas kerjanya masuk kategori “superb“, demikian yang aku dengar dari beberapa orang penting di industri otomotif roda empat di Indonesia. Sebuah kebanggaan buatku, meski sejenak.

Ya, hanya sejenak. Di akhir Agustus lalu, dia pamit untuk memulai karirnya memimpin sebuah perusahaan otomotif terkemuka di Indonesia asal negerinya. Maka sebuah perjalanan baru pun dimulai, seorang anak muda dari negeri yang sama dengannya menjadi pimpinan baru kami di kantor.

Kantorku

Biar aku ceritakan sejenak tentang kantorku satu ini. Lokasi ruang kantorku berada di lantai empat gedung German Center – BSD, tepatnya di pojok kanan gedung. Di ruangan kantorku itu terdapat ada lima meja dan kursi kerja, atau dengan kata lain sesuai jumlah pekerja. Ruangannya sangat bersih dengan desain kaca – kaca jendela yang besar, sehingga baik sinar matahari ataupun awan mendung nampak jelas dari meja kami masing – masing.

Aku punya tiga rekan kerja, selain bos bule muda itu. Figur pertama yang duduk di dekat pintu adalah seorang perempuan belia asal Jogjakarta. Dia sangat potensial dalam banyak hal keahlian, meski jam terbangnya belum cukup mengantarkannya pada kedewasaan. Mungkin karena ini merupakan pengalaman pertamanya bekerja secara profesional. Perempuan belia ini duduk membelakangiku.

Seorang berikutnya adalah pria Indonesia keturunan Tionghoa, lulusan sebuah universitas di Australia. Kemampuan bahasa Inggris-nya sangat istimewa. Ia juga telah banyak mengunjungi beberapa negara terkemuka di dunia, termasuk untuk keperluan bekerja. Menurutku, ia memiliki pola hidup yang hampir sama dengan bule muda yang menjadi atasan kami, seorang traveller. Kemampuan wawasan internasionalnya pun terlihat ketika ia bertutur dan menjelaskan.  Pria Tionghoa ini duduk di meja tengah di sampingku. 

Rekan kerjaku yang lain duduk di meja pojok dekat papan tulis. Ia adalah perempuan berdarah Sumatera Utara, namun telah berdomisili di wilayah pulau Jawa sejak terlahir. Perempuan yang telah menikah ini memiliki rekam jejak pengalaman kerja di sejumlah kantor ternama di Jakarta. Menurutku dia hebat sebagai seorang akunting dan urusan legal, namun yang terunik ia tidak seseram seperti para akunting kantor yang aku kenal sebelumnya. Perempuan satu ini tergolong akunting yang ramah dan baik hati.

Di ruangan seperti itu dan bersama rekan – rekan sekantor inilah aku bekerja hingga akhir Oktober lalu. Keunikan lainnya dan merupakan hal baru buatku adalah saat para karyawan bekerja, situasi kantor bagai ruangan perpustakaan yang hening dan tenang. Ilustrasi kerja seperti itu mengingatkanku suasana kantor pada penggalan – penggalan film modern produksi Hollywood.

Pakaian kerja di ruangan ini pun harus formil layaknya para eksekutif muda. Sebuah peraturan yang agak kurang nyaman sebenarnya buat sosok manusia bar – bar seperti aku, tapi aku terima sebagai sebuah warna baru.

Akhir Sebuah Cerita

Seperti prediksiku, pondasi bisnis kantor tempatku belum cukup kuat, terlebih setelah sang tokoh pergi. Meski selama proses perjalanan menuju titik akhir, aku berharap anak muda Amerika itu memiliki sentuhan magis a la  Amerika Serikat yang tidak terbaca oleh orang Indonesia kebanyakan sepertiku. Alhasil sesi perjalanan ini pun usai hanya dalam waktu dua bulan sejak kepergian sang tokoh.

Nilai yang bisa kupetik kali ini, tidak ada yang perlu disesali dari sebuah proses perjalanan. Rasa sedih untuk berpisah tentu manusiawi, tapi rute perjalanan berikutnya juga senantiasa membutuhkan energi dan fokus pada level tinggi. Diiringi warna langit yang kelam dan hujan yang turun di tengah perjalanan pada petang itu, aku pun tenggelam dalam sebuah perenungan menuju ke rumah mungilku yang berada di pinggiran…

“Hidup seperti roller coaster, baik naik atau turunnya sudah ada Hukum yang mengatur. Tinggal dijalani secara positif, agar senantiasa dapat naik lagi.”

Bismillah.

Pabuaran, 1 November 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s