38 Tahun & Selebrasi di Kawasan Bersejarah

Hidup adalah perjuangan dan upaya tanpa henti merealisasikan mimpi – mimpi, disertai doa kepada Sang Pemberi Kehidupan.”

Merayakan 38 tahunku dan 2 tahun Rasy di Monas
Merayakan 38 tahunku dan 2 tahun Rasy di Monas

Hari Minggu lalu (3/11), aku tepat berusia 38 tahun. Artinya tinggal dua tahun lagi hidup akan “dimulai”, jika merujuk pada pandangan yang dipercayai sebagian orang, “Life is begin at 40″.

Seminggu sebelumnya (26/10), putra ketigaku yang memiliki rasi bintang dan zodiak sama sepertiku “scorpion rabbit“, Muhammad Arasy Akiyory juga berulang ulang tahun yang kedua.

Syukur alhamdulillah kupanjatkan atas segala rahmat dan karunia Allah SWT kepadaku dan keluarga kecilku.

Minggu, 3 November 2013

Jam di rumah masih menunjukkan sekitar pukul tiga dinihari, kala aku terbangun dari tidur. “Hari ini aku tepat 38 tahun.”

Ya, memang masih dinihari, namun sudah menjadi kebiasaanku sepertinya bangun sebelum matahari terbit. Sebagai perwujudan rasa syukur, aku bergegas ke kamar mandi, berwudhu. Selanjutnya diikuti dengan persimpuhan delapan rakaat shalat Tahajjud dan tiga rakaat Kwitir.

Waktu pun hanya terpaut sekitar setengah jam dari waktu Subuh seusai shalat Tahajjud. Ya, sudah beberapa hari terakhir, jam waktu shalat datang lebih dini seperti Subuh di pukul empat lewat beberapa menit.

Selepas Subuh, aku pun bergegas mempersiapkan diri ke Monas. Ya, Monumen Nasional sebagai titik nol kilometer Jakarta, ibukota Indonesia. Kabarnya Soekarno, Presiden RI pertama menetapkan tujuan pendirian Monas sebagai simbol untuk mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia di masa revolusi kemerdekaan 1945, agar dapat terus menjadi inspirasi dan semangat patriotisme generasi berikutnya.

Itulah mengapa pucuk Monas dibuat dalam relief lidah api dan dilapisi lembaran emas sebagai lambang perjuangan yang menyala – nyala.

Ini pula yang menjadi salah satu alasanku ingin merayakan ulang tahun secara sederhana di Monas. Entah telah berapa lama aku tidak pernah lagi menjejakkan kaki ke dalam areal Monas, seingatku mungkin di masa SMP atau SMA.

Awalnya aku ingin menyimpan mobil di salah satu stasiun kereta api di wilayah Depok, dan menyambung dengan Commuter Line ke Monas, namun niat ini akhirnya surut. Alasannya sederhana saja, aku punya banyak anak yang aktif dan cenderung sudah sangat merepotkan bersama mereka jika menggunakan alat transportasi umum. Belum lagi termasuk barang bawaan yang seabrek.

Maka berangkatlah kami ke Monas dengan mobil keluarga kesayangan kami yang berwarna putih. Dan biar aku buka satu rahasia kecil, “Belum ada seorang pun penumpang di dalam mobil itu yang mandi, sebelum pergi.”

Monas, Minggu Pagi

Ternyata cukup sulit mencari lokasi parkir mobil pagi itu di Monas, entah ini memang fenomena umum di Minggu pagi atau tidak. Aku sendiri memilih memarkir mobil di kawasan stasiun kareta api Gambir.

Ternyata Monas saat ini tidak beda situasinya dengan jaman terakhir aku kali kunjungi. Masih banyak pedagang kaki lima dan orang – orang yang meramaikan kawasan monumen yang dibuka untuk publik pertama kali pada 12 Juli 1975 ini.

Oka, putri sulungku seperti biasa menginginkan banyak hal, mulai dari rental otopet listrik hingga layang – layang. Aku akhirnya seperti biasa luruh, namun kali ini aku hanya membelikannya sebuah layang – layang dan benang. Sempat kami bermain sebentar di sebuah areal rerumputan, namun tidak lama. Selain situasi yang panas, Monas terlalu ramai buat kami yang memiliki banyak anak yang super aktif. Terdengar paranoid mungkin, tapi aku dan istri tentu tidak ingin kehilangan pengawasan pada anak – anak di tengah keramaian pagi itu.

Tidak lama perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Pasar Baroe yang lokasinya memang tidak jauh dari Monas. Pasar Baroe merupakan kawasan perbelanjaan tertua di Jakarta sejak tahun 1920.

Ada banyak alasan ingin mampir ke Pasar Baroe. Pertama ingin mengajak istri melihat – lihat, upaya mencari sepatu kulit berkualitas namun murah, hingga ingin memperlihatkan bentuk liburan tradisional dan bersejarah kepada keluarga kecilku. Apa lajur, pagi itu menunjukkan jika Pasar Baroe pun telah berubah, terutama soal bandrol harga. Atau mungkin juga tidak, mungkin aku saja yang berlebihan berpikir tentang transaksi a la Pasar Baroe.

Ya, Jakarta telah berubah, setidaknya tidak sesuai ekspektasiku. Meski demikian aku tetap senang dapat merealisasikan bentuk selebrasi yang kutipan yang kubuat di atas.

Saatnya kembali ke rumah mungilku di kawasan pinggiran sana, dan menetapkan rencana – rencana berikutnya untuk diperjuangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s