Islam Lebih Dari Sekedar Hubungan Darah

sumber foto: islamnyamuslim.com/

sumber foto: islamnyamuslim.com/

Tanggal 14 November 2013 atau tepatnya 10 Muharram jika berdasar kalender Islam, beberapa tempat di Indonesia merayakan Asyura. Di kalangan Syiah, perayaan Asyura merupakan momentum untuk mengenang wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husain bin Ali pada tragedi Karbala. Pro kontra perayaan inilah menjadi satu di antara dikotomi antara kalangan Syiah dan Sunni.

Seorang kawan menyebut karena peringatan Asyura tidak serta merta lebih membesarkan Imam Husain dibanding kakeknya Muhammad, karena tidak ada Shalawat yang dipanjatkan untuk Husain.

sumber image: pondokalfurqan.com/

sumber image: pondokalfurqan.com/

Atas nama kemanusiaan, miris memang rasanya jika mendengar kisah cucu kesayangan Nabi Muhammad tersebut dipenggal kepalanya oleh Ubaidullah bin Ziyâd, utusan Yazîd bin Muâwiyah dari Bani Umayyah. Serangan keji pada cucu Muhammad tentu merupakan tragedi kemanusiaan, namun sekian pertanyaan menggelantung di benak saya:

(1) Apakah kaum penyerang itu dari kaum penganut agama keyakinan yang berbeda atau non Islam?

(2) Apakah alasan penyerangan dan  pembantaian ini dari pihak musuh?

(3) Apakah hanya kekerabatan yang memiliki pertautan darah langsung dengan Nabi Muhammad SAW yang memegang otoritas kebenaran sahih?

Dari sekian literasi yang saya temui, para penganut Syiah lebih fokus pada kematian Husain bin Ali, dan tidak mengulas lebih jauh mengenai hal – hal literasi pembanding dari kalangan musuh. Kalangan Syiah kerap mengagungkan keluarga Muhammad sebagai yang paling mulia. Disadari atau tidak, pesan lain yang muncul, jika kebesaran keluarga Muhammad terkesan lebih besar dibanding Muhammad Sang Nabi itu sendiri dan para Sahabat Beliau yang mengiringi perjalanan Syiar Islam.

Hmm, bukankah Islam mestinya bukanlah sekedar hubungan darah, karena keyakinan akan Tuhan tentu lebih dari sekedar itu? Bukankah kehadiran Nabi Muhammad SAW di muka bumi tentu bukan hanya dipahami sebatas hubungan fisik dan darah, serta hanya yang memiliki aliran darah Beliau yang paling bertaqwa di hadapan Allah SWT?

Dalam Al-Quran, saya beberapa kali mendapati jika bahkan figur Nabi Muhammad SAW pun hanya sebagai penyampai pesan, jika tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah SWT. Dalam Rukun Islam dan Rukun Iman pun tidak saya temui sebuah kalimat keyakinan jika keluarga Nabi Muhammad SAW menjadi bagian syariat yang harus dipatuhi dan dijalankan.

Meski demikian tentu tidak serta merta, mazhab lain lebih benar dan berhak menghakimi penganut mazhab lain, karena posisi manusia semua juga adalah sebagai ummat. Pemegang otoritas kebenaran tetaplah Allah SWT, dan Tuhan tentu lebih terlalu besar untuk dibela.

Apakah perlu menjadi manusia yang demikian cerdas, kompleks  dan terkadang kejam untuk memahami Tuhan? Apakah Tuhan tidak bisa dipahami dengan cara – cara yang sederhana dan damai?

Sekedar renungan di pagi ini. Semoga hidup bisa lebih indah dan damai, meski berbeda.

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Umum and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Islam Lebih Dari Sekedar Hubungan Darah

  1. dadang says:

    saya lebih melihat hal tsb sebagai konflik politik dijamannya dibanding sebagai perbedaan pandangan aqidah,.yg perlu kita khawatirkan apabila hal ini dimanfaatkan oleh pihak yg tdk senang ummat islam bersatu dan damai, dan gejala itu mulai nampak termasuk di negeri kita ini,.marilah kita ttp pada islam yg toleran thp kedamaian yg menjunjung tinggi nilai kemanusiaan kpd seluruh ummat

    • jbkderry says:

      Terima kasih sumbang pendapatnya, uDa. Sungguh bermakna dan berkesan telah bersedia mampir:) SalamaQ.

      • dadang says:

        sy termasuk salah satu sahabat yg bangga dekat dgn seorang yg bertalenta spt jbkderry 😀

      • jbkderry says:

        Subhanallah, tafaddal, uztad. *ndak yauk kenapa, saya masih suka bayangkan ekspresinya Hasanuddin, kalau ucapakan kata” ini. Beliau orang cerdas, berwajah lucu…:d Astagafirullah, macalla’ma’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s