Mencari Kerja: Proses Memotivasi Diri

“There is only one thing that makes a dream impossible to achieve: the fear of failure.” 
― Paulo CoelhoThe Alchemist

Dream Job - Freeway Exit SignSetiap kisah tentu butuh cerita, dan setiap cerita butuh mimpi agar dapat bergerak.

Di akhir tahun 2001, aku datang ke Jakarta dengan mimpi orang kebanyakan, menaklukkan Jakarta. Konon di kota ini, mayoritas para petarung terbaik di negeri ini berada dan berebut eksistensi menuju puncak. Dan ego mudaku dulu meneriakkan hal yang sama.

Berbekal selembar ijazah S1 Ilmu Komunikasi dari sebuah PTN di kota Makassar dan semangat muda yang berlimpah, perjalanan mencari kerja pun dimulai.

Fase Awal: Cobaan Awal

Saat itu (tahun 2001), satu di antara amunisi terbaik untuk mencari peluang kerja adalah harian Kompas terbitan Sabtu.

Proses “persahabatan” dengan harian Kompas edisi Sabtu berjalan cukup panjang, sekitar setahun. Ada banyak proses sugesti yang kucetuskan sepanjang kurun waktu itu, agar semangat mencari kerja tetap terjaga.

 The only suggestion I get on my plays is to make them more of what they already are, and that’s wonderful. (Jesse Eisenberg, American actor)

Sebagian sugesti itu terinspirasi dari kisah beberapa tokoh yang kukagumi, seperti Bob Sadino dan komedian legendaris, almarhum Benyamin Sueb. Entah benar atau tidak, aku pernah mendengar Bob Sadino sempat berjualan roti dengan menggunakan sepeda di kawasan Harmoni, ataupun Bang Ben yang sempat menjadi kenek Metromini.

Aku perlu sugesti semacam ini, karena modal terbesarku menaklukkan Jakarta hanyalah semangat, selain memohon berkah dari Tuhan sebagai “beking” satu – satunya. Berbekal sugesti positif inilah, tidak terasa surat lamaran yang aku kirim kiranya mencapai kisaran di atas 300 aplikasi. Meski sangat sedikit perusahaan yang mau merespon aplikasi lamaran yang aku kirim, aku tetap semangat dan bersenang hati melakukannya.

Tidak jarang surat lamaran kerja aku antar sendiri dengan bersepeda ke kantor yang bersangkutan, termasuk ke sebuah stasiun tivi baru di bilangan Kapten Tendean, Jakarta. Beberapa saat kemudian di awal tahun 2002, ternyata pihak manajemen SDM stasiun tivi tersebut memberiku kesempatan ujian masuk.

Proses ujian untuk dapat masuk di stasiun tivi ini cukup panjang. Total ada sekitar delapan prosesi tes yang harus dilalui, dengan jumlah pelamar disebut di kisaran 6.000 orang dan tenaga yang bakal diterima hanya kurang dari 200 orang. Artinya perlu menaklukkan setidaknya 29 orang untuk mendapatkan satu kursi.

Hal yang cukup membuatku bangga kala itu, karena ada sekitar 50 – 60an lulusan luar negeri yang ikut bertarung. Dan ketika tahap kelulusan menuju tanda tangan kontrak diumumkan, hanya kurang dari 10 orang luar negeri tersebut yang berhasil lulus. Sayangnya sebuah “kontroversi” pun muncul, setelah proses tanda tangan kontrak tersebut, ternyata masih ada satu proses yang harus dilalui, yakni tes kesehatan. Tak dinyana, aku ternyata memiliki masalah kesehatan pada fungsi hati.

Aku pun dinyatakan gugur. Kejadian ini sempat membuatku cukup drop. Apakah akan ada peluang kerja lagi buatku di masa depan…

Fase Kedua: Perjuangan Tidak Boleh Berakhir

Meski cukup terpukul, kejadian ini tidak boleh membunuh semangatku. Aku meyakini jika hidup ini adalah permainan, dimana yang lemah akan kalah.

Di bulan September 2002, aku pun akhirnya memulai karir kerja pertamaku di sebuah majalah otomotif di kawasan Barito, Jakarta Selatan. Meski tidak segemerlap prestise bekerja di stasiun televisi, aku tentu tidak ingin mengutuk takdirku sendiri. Ini adalah hidupku, dan bagaimanapun caranya aku harus bangga dengan segala pencapaian serta usahaku.

Suatu ketika aku mendapat kesempatan mewawancari almarhum Taufik Savalas, komedian yang kemudian meninggal dunia pada tahun 2007. Ada satu hal yang rasanya sulit aku lupakan saat mewancarai beliau. Kira – kira ucapan beliau saat itu seperti ini, “Gue ini awalnya pengen banget jadi tentara. Tapi singkat kata mimpi itu gak pernah terwujud. Dalam hati gue bicara, haruskah perjuangan berakhir, ketika mimpi besar tidak terwujud?!”

Sebuah kalimat retorik yang sangat membakar semangat juangku, dan menjadi bentuk sugesti baru.

Kembali ke situasi kala aku bekerja di kawasan Barito tersebut, dimana terkadang aku tidak pulang ke rumah kontrakan ibu. Alasannya sederhana, untuk berhemat gaji sejumlah 1,1 juta rupiah saat itu.

Aku tiba – tiba teringat ungkapan seorang sahabat di jaman kuliah dulu, “Kalau anak – anak orang kaya tidak perlu melompat tinggi untuk sukses. Sementara kita yang terlahir dari orang tua yang berekonomi pas – pasan harus berani dan bisa melompat sangat tinggi untuk bisa sukses.

Sekitar sembilan bulan aku bekerja di kantor majalah otomotif roda empat tersebut, sampai suatu ketika ada peluang baru datang. Peluang ini bisa disebut sebuah kejutan.

Untuk menjelaskan mengapa aku menyebutnya sebagai kejutan, biar aku ceritakan kisah beberapa bulan sebelumnya. Saat masih bekerja di kawasan Barito itu, seorang teman menyebut kemampuan bahasa Inggris-ku cukup baik. Hal ini ia utarakan, karena beberapa kali aku mengerjakan tugas artikel terjemahan darinya. Ia lalu memberitahuku, jika ada sebuah majalah waralaba otomotif asal Inggris yang tengah membuka peluang kerja.

Aku pun mencoba melamar dan ternyata tidak lulus. Nah, meski tidak lulus untuk majalah terkait, ternyata perusahaan tersebut beberapa bulan kemudian berencana menerbitkan sebuah majalah lisensi otomotif dari Amerika. Uniknya, pihak HRD majalah yang bersangkutan menerangkan padaku, jika saat ujian beberapa waktu lalu, hasil ujianku dinilai terbaik kedua dan dinyatakan dapat bergabung dengan majalah baru tersebut.

Sebuah proses perjalanan pekerjaan baru pun dimulai. Berkah lain dari tempat kerja baru ini lokasi tidak jauh dari rumah kontrakan ibuku, jadi aku cukup berjalan kaki ke kantor. Di tempat ini bisa disebut aku cukup lama bekerja, sekitar 3,5 tahun.

Hingga di tahun 2006, aku memberanikan diri keluar dari zona aman. Kembali untuk bertarung dengan mencari pekerjaan baru.

Fase Ketiga: Proses Bunglon

Pasca menjadi reporter di majalah waralaba otomotif tersebut, berbagai posisi kerja aku jalani. Mulai dari Editor di sebuah buletin segmen mahasiswa di kawasan Kemang, copy writer di sebuah agensi, managing editor di sebuah majalah roda dua terbitan perusahaan finance ternama, juri kontes modifikasi, hingga menjadi moderator di beberapa event seminar pemerintahan.

Kegiatan Jurnalis otomotif juga tetap aku lakoni. Beberapa prestasi aku raih sebagai Jurnalis otomotif, mulai dari beberapa kali juara lomba mengemudi, juara lomba penulisan, dan juara lomba foto. Prestasi ini pun terbilang cukup prestisius, karena merupakan ajang lomba yang dibuka untuk para Jurnalis dari berbagai media massa di level nasional.

Ada beberapa hal yang membuatku suka untuk berlomba. Selain melatih kemampuan fokus, keikutsertaan di sebuah ajang kompetisi berarti berani untuk masuk ke dalam sebuah pertarungan dengan kemampuan terbaik. Kalau kalah berarti harus berlatih lagi. Jika menang tentu banyak manfaatnya, mulai dari pengalaman, meningkatkan rasa kepercayaan diri, menambah daftar pengalaman prestasi, dan tentu saja hadiahnya yang cukup lumayan.

Visi Pertarungan

Dari segala pengalaman sejauh ini, aku berpikir jika pekerjaan harus dilakukan dengan hati dan kesenangan. Terkadang kekalahan akan datang menghadang, namun ini bukan alasan untuk menghentikan pertarungan. Pasalnya untuk menjaga semangat hidup, kita senantiasa memerlukan inspirasi pertarungan, jika perlu setiap hari.

Semoga bermanfaat.

 “There is only one meaning of life: the act of living itself.” (Eric Fromm)

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Umum and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s