Olga Syahputra dan Kejenuhan Kelas Menengah

Sumber foto: KapanLagi.com
Sumber foto: KapanLagi.com

Bagi para tv jungkie di Indonesia, setidaknya ada satu nama yang sangat sering “dikonsumsi” di layar kaca, mulai dari pagi hari hingga larut malam. Figur tersebut bernama Yoga Syahputra, atau lebih dikenal dengan nama Olga Syahputra. Anak pertama dari tujuh bersaudara ini umumnya telah memulai waktu kerjanya pukul delapan pagi hingga pukul 10 WIB, dengan tampil “live” di acara musik Dahsyat di RCTI.

Saat sore menjelang, mulai pukul 17.00 hingga 19.30, Olga kembali tampil “live” di acara Pesbukers di stasiun tv ANTV. Ia kembali main “live” satu segmen selama setengah jam di acara Campur – Campur di stasiun tv yang sama. Setelah itu, pria yang agak kemayu ini langsung bergegas tampil “live” di stasiun tv TransTV di acara YKS, hingga pukul 24 WIB.

Itu baru acara tv yang sifatnya “live”, belum termasuk program rekaman (recording) seperti acara Catatan si Olga di ANTV, Korslet di Trans TV, dan acara tv lainnya.

Artinya jika dihitung, waktu kerja artis satu ini sekitar 16 jam sehari (08.00 – 24.00), selama tujuh hari dalam seminggu. Perhitungan waktu itupun belum termasuk waktu perjalanan yang harus ia tempuh dari rumahnya ke lokasi syuting dan sebaliknya sekembalinya dari lokasi syuting ke rumah di tengah malam.

Saya pribadi tidak terlalu tertarik, bagaimana soal Olga menjaga kesehatan dan mood-nya agar tidak jenuh selama periode kerja gila – gilaan tersebut. Saya justru tertarik melihat bagaimana kehadiran artis seperti Olga Syahputra sebagai magnet yang diperebutkan berbagai stasiun tv. Targetnya tentu guna menaikkan rating dan berujung pada pemasukan yang lebih besar dari para pemasang iklan.

Diakui atau tidak, figur Olga kini telah menjelma sebagai sebuah “produk” bernilai komersial tinggi untuk mendatangkan atensi publik dan pemasukan yang besar dalam waktu bersamaan.  Saya tiba – tiba ingin berandai – andai, jika saja ada lembaga survei yang bersedia mengukur seberapa banyak perbandingan orang yang menonton Olga Syahputra dan Presiden RI, jika tampil bersamaan pada stasiun yang berbeda.

Secara nilai edukasi, figur Olga tentu bukanlah sosok yang mampu memberikan kontribusi konstruktif bagi perkembangan wawasan dan menginspirasi, layaknya Uztad Yusuf Masyur, Mario Teguh, Andy Noya atau Merry Riana. Olga hadir lebih sebagai sosok penghibur yang piawai di tengah suasana jenuh, dan upaya melarikan diri dari kepenatan.

Sederhananya, sosok Olga dengan karakter kemayunya mampu melampaui popularitas dari dari para tokoh edukatif di Indonesia, setidaknya jika hal ini diukur dari indikator intensitas kemunculan di media televisi.

Kejenuhan Kelas Menengah

Saya teringat pada ucapan Jusuf Kalla terkait Konferensi Tingkat Menteri (KTM) WTO IX yang berlangsung di Bali, 3 – 6 Desember 2013. Ketua Palang Merah Indonesia ini menyebut jika WTO (World Trade Organization) atau Organisasi Perdagangan Dunia hanyalah menguntungkan negara – negara maju dan industri. Sementara untuk negara berkembang seperti Indonesia hanya dijadikan pasar bagi produk negara – negara industri.

Pandangan Jusuf Kalla tersebut akan terlihat ukuran kebenarannya, jika dihubungkan dengan prilaku kelas menengah di Indonesia. Menurut informasi dari Bank Indonesia pada bulan Februari 2013, jika 60 persen masyarakat di Indonesia dikuasai oleh kalangan kelas menengah. Hal ini juga nampak dibenarkan pula oleh Hatta Rajasa selaku Menteri Koordinator Perekonomian RI pada bulan Oktober 2013 lalu, jika kalangan menengah di Indonesia tengah tumbuh pesat. Sayangnya menurut Hatta Rajasa, kalangan kelas menengah di Indonesia masih mayoritas konsumtif, belum produktif.

Minat kelas menengah dalam melakukan konsumsi secara masif di Indonesia dapat diukur melalui prilaku dan kebiasaan makan di restoran baru, koleksi smartphone, sepeda yang mahal, motor besar, hingga keinginan memiliki mobil baru. Sekedar informasi, jika berdasarkan data Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) hingga bulan November 2013 saja, angka penjualan mobil di Indonesia telah melewati angka penjualan mobil baru sepanjang tahun 2013.

Perlu sebuah penelitian memang untuk mengetahui, apakah prilaku konsumtif masyarakat merupakan pilihan yang didasarkan kesadaran atau sebagai media untuk melarikan diri dari kejenuhan rutinitas. Terlepas dari percabangan pandangan tersebut, Olga telah menjelma sebagai sebagai “produk” yang dikonsumsi secara masif. Komedian kelahiran 8 Februari 1983 ini telah menjadi titik keseimbangan yang dipilih oleh masyarakat pemirsa televisi dalam jumlah masif.

Diakui atau tidak, kehadiran Olga Syahputra dapat meredam kejenuhan berjuta pasang mata pemirsa televisi dari Sabang sampai Merauke. Sekaligus menjadi potret penegas jika kelas menengah Indonesia masih terjebak dalam prilaku konsumtif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s