Kenaikan Elpiji 12 kg, Indikator Penegas Negeri Auto Pilot

sumber foto: sindonews.com
sumber foto: sindonews.com

Sepekan terakhir rakyat Indonesia kembali coba “dijajah” melalui kenaikan harga gas elpiji 12 kg. Ya, di tengah nilai tukar uang terhadap barang yang terus melemah di Indonesia, kebijakan Pertamina ini tentu semakin memberatkan roda kehidupan rakyat, seperti halnya saya.

Saat harga tabung elpiji 12 kg ditetapkan sebesar Rp 70.200 / tabung, di sekitar rumah saya di bilangan pinggiran Depok harga beli sudah Rp 90 ribu / tabung. Lalu ketika harganya tiba – tiba sontak naik Rp 117.708 pada tanggal 1 Januari 2014 lalu, saya lantas berpikiran berapa harganya di sekitar rumah saya kemudian. Beberapa spekulasi berkembang di kisaran Rp 150 ribu / tabung.

Secara psikologis memang tidak terlalu menguras kondisi pengeluaran di rumah kami, karena bedanya berarti di kisaran Rp 60 ribu / bulan. Ya, di rumah kami, tabung gas 12 kg dipakai sekitar sebulan. Tapi kenaikan ini tentu biasanya berefek domino pada kenaikan biaya hidup lainnya. Alhasil kemudian, saya memutuskan meminta istri pindah ke penggunaan tabung gas 3 kg.

Meski kemudian, pemerintah pada tanggal 6 Januari 2014 mengumumkan jika harga tabung 12 kg “hanya” naik Rp 12 kg / tabung yang berarti harga per tabungnya kini Rp 82.200. Asumsi saya di sekitar rumah harga belinya mungkin di kisaran Rp 105.000 hingga Rp 110.000 per tabung.

Melalui kebijakan ini, Menteri BUMN Dahlan Iskan berharap masyarakat pengguna tabung 12 kg bisa kembali. Semudah itukah? Di negeri auto pilot ini, “negara” dan rakyat memiliki dinding sekat yang makin tebal. Ya, mereka lebih pas disebut “negara” dengan tanda kutip, karena fungsi mereka sama saja dengan rakyat, alias berjalan demi kepentingan sendiri, dalam arti gagal menjelma sebagai sebuah entitas lebih besar yang mampu memeluk dan membahagiakan rakyat secara makro.

Parameter Kenaikan Gas 12 Kg

Dengan angka kenaikan gak elpiji 12 kg yang terakhir ini, menteri BUMN Dahlan Iskan menyebut Pertamina akan tetap rugi Rp 6,5 triliun per tahun dari sebelumnya Rp 7,7 triliun per tahun.

Sebuah sumber menyebutkan, jika nilai kerugian ini diakibatkan karena lebih dari 50 persen bahan baku elpiji berasal dari impor. Sederhananya, kenaikan drastis ini diklaim karena semakin tingginya harga pokok elpiji di pasar dunia, serta semakin melemahnya nilai tukar rupiah.

Sedemikian lemahnya kah Pertamina karena kerugian penjualan tabung gas 12 kg ini? Publik sudah tahu jika, di tahun 2011, nilai keuntungan Pertamina mencapai Rp 20,47 triliun. Di tahun 2012, nilai keuntungannya meningkat menjadi Rp 25,89 triliun, di tahun 2014 ini target keuntungan dicanangkan sebesar US$3,44 miliar atau sekitar Rp 41,9 triliun. Silahkan dicerna sendiri…

Pertamina telah berubah menjadi identitas menjadi Perseroan Terbatas sejak tahun 2003, walaupun posisinya tetap sebagai BUMN. Dalam logika acak yang sederhana, yang namanya PT berarti merupakan korporasi yang tugasnya mencari keuntungan. Nah, jika dalam hal ini negara berusaha mencari untung dari rakyatnya, berarti kata negara di sini lebih tepat menggunakan tanda kutip atas (“), artinya perannya memang sebagai rakyat Indonesia yang lebih kuat untuk menggilas atau melimpahkan bebannya kepada rakyat yang lebih lemah, seperti halnya kenaikan BBM dan tarif dasar listrik beberapa waktu lalu.

Lalu dimana fungsi negara? Ya, enggak ada, itulah negeri auto pilot, sob…

4 Replies to “Kenaikan Elpiji 12 kg, Indikator Penegas Negeri Auto Pilot”

  1. selain terkesan autopilot negara kita ini ibaratnya org yg terlalu takut dengan masa depan suram yg belum tentu terjadi,org yg paranoid dan lebih memilih menyiksa batinnya,. jauh dari sabar dan lebih dekat dengan keputusasaan,..
    kenapa juga harus mengorbankan rakyat hy utk kepuasan nafsu negara dgn ikut2qn menjual hasil dari perut bumi kita sendiri dengan hrg pasaran yg ditentukan oleh mereka yg dibuminya tak ada minyak, gas, dll membeli dan meminum air dgn harga yg ditentukan org lain bahkan dgn nilai yg sulit kita jangkau padahal sumur itu ada didalam pekarangan rumah kita,.. begitu ironis semoga Allah memberikat rahmatnya bagi negara kita ini,. aamin

    1. Kita dipimpin sama presiden culun yang pandai bersolek, dan sangat defensif. Akan susah berharap pride dari figur seperti ini. Bagusnya untuk mengapresiasi figur sperti ini dengan mengadakan lomba bekicot atau keong pada saat perayaan hari kemerdekaan, diserta bendera setengah tiang.

      1. iya ada baiknya kita dipimpin oleh org yg bertangan dingin nmun rakyat masih bisa bangga dengan daya beli yg bersaing di pasaran internasional, lebih bermartabat,.daripada dipimpin oleh presiden yg suka ngegombal dan lebih senang backstreet/ main belakang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s