Saat Musim Penghujan Tiba

Heavy Rain cartoon 44Sudah seminggu hujan turun nyaris tanpa henti di kawasan Jakarta dan kota – kota penyanggahnya, seperti halnya di wilayah perbatasan Depok dan kabupaten Bogor yang notabene merupakan tempat tinggalku. Beruntung kawasan ini merupakan daerah hulu dan berada di ketinggian, sehingga tidak dilanda musibah banjir seperti yang dialami sebagian masyarakat Jakarta dan kota – kota penyanggah lainnya.

Putriku yang sulung pun mulai sering bertanya, “Mataharinya gak ada lagi yah, ayah?”

Sementara bundanya juga pening, akibat tumpukan cucian yang tidak kunjung mengering. Nada keluhan juga mungkin hadir dari deretan atap rumah kami yang nampak mulai melemah pertahanannya diterpa guyuran air dari langit. Rembesan air mulai mengalir di beberapa bagian dinding dan ada pula bagian atap yang mulai bocor kecil di rumah kami.

Ini tentu bukanlah cerita sedih, dibandingkan derita saudara – saudara di wilayah lain yang nampak sangat memprihatinkan di pengungsian. Atau para pengemudi truk yang terpaksa sangat terhambat perjalanannya di kawasan Pantura, atau para pengendara mobil dan motor yang mesti berjibaku amat sangat saat mesti berangkat beraktivitas, Senin (20/1).

Satu hal yang masih dapat kusyukuri di musim penghujan kali ini, yakni petir yang memilih tidak setia mendampingi sang hujan. Bukan apa – apa, pada chapter kehidupan kali ini, aku banyak bergantung pada koneksi wifi di rumah, yang jika petir hadir menyertai hujan, maka terpaksa dicabut alias dinon-aktifkan.

Di era digital ini, meski belumlah manis, namun aku tetap harus bersyukur, jika periode baru untuk mencari nafkah tidak harus mesti keluar rumah setiap hari. Cukup perangkat notebook dan koneksi internet yang aktif, plus intuisi ide kreatif untuk mencari rejeki dan menyelesaikan tanggung jawab kerja. 

Tuhan memang senantiasa bekerja dengan cara yang misterius, ada degub kencang di dada kala keadaan berjalan sangat menyimpang dari rencana. Namun acapkali pula keajaiban datang mengetuk tanpa disangka. Mungkin ada benarnya ungkapan sebagian pemikir konvensional, “Hidup itu adalah hari ini, jalani sebaik – baiknya dan tetap berdoa. Selebihnya, serahkan pada Tuhan untuk memutuskan narasi cerita kita berikutnya.” 

Aku tiba – tiba teringat penggalan masa lampau di jaman masa SMP. Kala itu, aku dan adik perempuanku yang masih SD harus berjibaku menghadapi banjir sepinggang anak kecil dari dalam rumah kontrakan Mama di Karet Tengsin. Saat itu, kami berusaha mengeluarkan air banjir dari rumah dengan ember disertai bunyi tokek di dalam rumah kontrakan itu.

dreamingTidak ada tangis di mata dua anak kecil itu, meski harus ditinggal Mamanya mencari nafkah ke Kalimantan untuk beberapa waktu. Mungkin karena saat itu, kami tidak terlalu banyak berpikir dan merasakan, serta membiarkan hidup tetap berjalan seperti skenarioNya. Ya, hidup memang harus terus berjalan. Pun demikian kita…

Sekelebat cerita masa lalu yang lain pun muncul di benak dan menutup kisah kali ini. Saat banjir kala itu, aku sering bersepeda ke kawasan Benhil, sambil bergumam dan menghibur diri, kelak aku akan melintasi jalur Sudirman ini dengan mobil milikku. Sebuah mimpi masa kecil yang tiba – tiba kuingat di balik setir kemudi pada hari Minggu malam lalu (19/1).

Buckle up, dreaming is believing…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s