Lemahnya Kontrol Pelayanan Publik

Tidak ada tiket yang diberikan, gan. Sebatas stiker saja.
Tidak ada tiket yang diberikan, gan. Sebatas stiker saja.

Hari Rabu (23 April 2014), saya kembali harus masuk Jakarta untuk menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan. Ya, masuk ke dalam jantung kota ini semakin menjadi momok psikologis. 

Setelah menimbang, saya memutuskan naik Commuter Line (CL) jam sembilan pagi untuk menghindari jam orang – orang pergi kantor. Konsekuensi dari keputusan ini adalah agak terlambat untuk memenuhi undangan yang dimulai pukul 10 pagi di kawasan Jakarta Convention Center. Alasannya sederhana, daripada bertumpukan kayak ikan asin di jam sibuk, mending sedikit terlambat:d

Continue reading “Lemahnya Kontrol Pelayanan Publik”

Politik Bukanlah Satu – Satunya Warna Negeri Ini

government buildingSeorang kenalan menyebut, jika tidak memilih merupakan sebuah tindakan pengecut. Lalu kenapa harus golput?

Sebelum menjawab, saya ingin menarik garis sejenak ke belakang. Kesempatan memilih itu adalah hak sebagai warga negara, dan bukan kewajiban. Itulah mengapa disebut sebagai hak suara. Namanya juga hak, bisa dipakai, bisa pula tidak.

Continue reading “Politik Bukanlah Satu – Satunya Warna Negeri Ini”

Resensi The Raid 2: Berandal

the-raid-2-berandal-teaser-posterSebagai orang Indonesia, saya merasa bangga bisa menonton film “The Raid: Berandal”. Meski sutradaranya adalah seorang bule berkebangsaan Inggris bernama Gareth Evans, namun statusnya sebagai film Indonesia tetap membanggakan.  Gareth Evans sendiri telah menetap di Jakarta saat ini dan menikahi wanita Indonesia bernama Rangga Maya Barack-Evans.

Indikator kesuksesan The Raid 2: Berandal sudah tercermin saat pemutaran perdananya di Sundance Film Festival di Amerika Serikat (16 – 26 Januari 2014), dimana film ini berhasil mendapat standing applaus dari para penonton.

Continue reading “Resensi The Raid 2: Berandal”