Lemahnya Kontrol Pelayanan Publik

Tidak ada tiket yang diberikan, gan. Sebatas stiker saja.

Tidak ada tiket yang diberikan, gan. Sebatas stiker saja.

Hari Rabu (23 April 2014), saya kembali harus masuk Jakarta untuk menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan. Ya, masuk ke dalam jantung kota ini semakin menjadi momok psikologis. 

Setelah menimbang, saya memutuskan naik Commuter Line (CL) jam sembilan pagi untuk menghindari jam orang – orang pergi kantor. Konsekuensi dari keputusan ini adalah agak terlambat untuk memenuhi undangan yang dimulai pukul 10 pagi di kawasan Jakarta Convention Center. Alasannya sederhana, daripada bertumpukan kayak ikan asin di jam sibuk, mending sedikit terlambat:d

Saat masuk ke dalam CL dugaanku cukup tepat. Meski CL tetap penuh dan tidak kebagian tempat duduk, tapi tidak harus tumpuk – tumpukan dan oleng ke berbagai penjuru.

Setengah jam ke depan, CL tiba di stasiun Cawang. Saya pun melanjutkan perjalanan dengan menelusuri lorong kecil dan gelap di bawah jalan layang stasiun Cawang. Setelah melewati lorong, saya harus menaiki beberapa anak tangga untuk melanjutkan perjalanan. Sejenak saya menimbang, memilih naik bus regular atau busway.

Menurut saya, kedua pilihan ini bukan pilihan moda transportasi publik yang nyaman di Jakarta. Kalau mau naik busway, saya kembali harus naik tangga lagi yang cukup panjang dan melelahkan. Belum di shelternya yang cukup sempit, kerap harus berdesakan dengan banyak orang yang bertujuan sama, naik busway. Yang lebih parah, semakin siang, estimasi waktu kedatangan busway semakin tidak bisa diprediksi.

Sementara jika naik bus regular, tarifnya lebih mahal, tidak ada air conditioner, dan resiko kena macet lebih besar karena menggunakan lajur jalan reguler.

Akhirnya saya putuskan naik Busway. Di loket, sang petugas perempuan bertanya sesuatu hal yang baru saya dengar, meski saya memang sangat jarang juga naik busway. “APTB?”

Kening saya sedikit berkenyit. Meski tidak mengerti, saya hanya berucap, “Tidak, saya mau ke JCC.”

Saya pun diserahkan tiket busway dan kembalian Rp 1.500 (tiket Busway Rp 3.500).

Tidak berapa lama, sebuah Bus berwarna biru masuk ke shelter Busway Cawang. Kondekturnya seorang bapak tua dengan tubuh gempal dan beruban penuh setengah berteriak, “Grogol, Kalideres!”

Saya pun bertanya, “JCC?”

“Iya,” jawabnya singkat.

Saya langsung naik. Tidak berapa lama, kondektur itu menagih ongkos kepada penumpang. Saya baru menyadari kemudian, jika APTB adalah nama layanan Bus milik Mayasari Bhakti yang punya akses masuk jalur Busway sebagai Bus Feeder.

Meski sedikit dongkol, saya kemudian menyerahkan selembar uang lima ribu rupiah. Bukan masalah besaran duitnya, tapi bagi saya ini seperti mekanisme penipuan kecil. Seyogyanya, petugas di shelter menjelaskan perbedaan di antara kedua layanan berbeda ini kepada calon penumpang. Sederhananya, jika APTB yang berwarna biru itu punya tarif tersendiri.

Ironis, mengingat keberadaan Busway senantiasa didengungkan pemerintah sebagai sarana transportasi publik, agar beralih dari penggunaan kendaraan pribadi. Sementara kejadian yang saya alami jelas di bawah standar pelayanan minimum yang diinginkan kelas menengah negeri ini.

Rupanya bukan hanya saya yang “terjebak” dalam pembodohan ini. Beberapa penumpang lain pun terpaksa harus membayar tambahan biaya Rp 5 ribu per orang.

Seorang bapak tua yang naik dengan tiga perempuan dan satu anak kecil turut ditarik tarif tambahan. Ketika disodorkan uang Rp 20 ribu, air muka kenek tua itu seperti ingin mengatakan, “kurang!”

Berikutnya seorang pria Tionghoa dan pasangan wanitanya juga ditagih. Si kenek bilang, “tarif, tarif, pak.”

Pria Tionghoa itu bergeming, sampai sang kenek bilang, “gelo, belaga pilon!”

Ungkapan yang tentu tidak santun untuk menghadapi konsumen kelas menengah. Sang penumpang pria Tionghoa masih bergeming, hingga kondektur itu mencolek siku tangannya. Pria itu pelan – pelan mengerti setelah berdiskusi dengan pasangannya. Lalu teman wanitanya menyodorkan selembar pecahan Rp 10 ribu.

Sebuah pertanyaan tercetus di benak saya, “Lantas apa gunanya tiket busway yang sudah dibayarkan seharga Rp 3.500?!”

Lamunan saya buyar, saat Bus mendekati shelter Busway JCC atau juga dikenal dengan nama shelter Balai Sidang. Saya bersiap di depan pintu dan menunggu pintu Bus terbuka setibanya di shelter. Pintu Bus kemudian membuka setibanya di shelter, namun sesaat kondektur tua itu berteriak ke supir, “Jalan terus!”

Dalam kebingungan, saya berucap, “Saya mau turun, pak.”

“Ngomong dong!” timpalnya. 

(Hahahahaha…) Spontan saya berkata, “Goblok lu!”

Hemat saya, tidak perlu bicara, di setiap shelter Bus mestinya tetap berhenti, walau sejenak. Tak dinyana, setelah saya turun, si kenek balik berteriak, “Lu yang goblok, anjing lu!”

Dari kejadian ini, saya memberi saran kepada pihak Mayasari Bakti, Dishub DKI dan pengelola Busway, sebaiknya memberikan pelatihan Standar Pelayanan Minimum, termasuk pendidikan Tata Krama kepada para penyedia jasanya di lapangan.

Unik, jika petugas loket dan kondektur dengan karakter seperti ini ditugaskan untuk melayani kelas menengah, saya berpikir para kelas menengah yang sudah migrasi akan jera kembali menggunakan moda transportasi publik seperti Busway.

Dikerjai Program Layanan Telkom

Soal kualitas standar layanan publik tidak hanya masalah moda transportasi seperti layanan Busway. Hal ini saya alami juga pada layanan telpon rumah dan internet Speedy dari telkom.

Sekitar Februari 2014, saya mendapat tawaran dari pihak telkom melalui telpon rumah. Di ujung telpon, perwakilan marketing telkom itu menawarkan paket bundling biaya internet dan telepon Rp 240 ribu / bulan.

Menurutnya, paket bundling disebut selain membuat kecepatan internet naik dari 386 kbps jadi 1 mbps, juga gratis biaya telpon ke telpon rumah dan telkom fleksi kapan pun itu.

Saya pun tertarik, mengingat di rumah rata – rata biaya internet dan telpon hampir Rp 300 ribu per bulan. Saya pun bertanya, seandainya saya iyakan sekarang, kapan paket ini mulai berlaku. 

“Mulai Maret dan ditagihkan mulai tagihan April, pak.”

Saya pun setuju, sampai lupa meminta sekiranya adanya jaminan persuratan mengenai migrasi paket ini.

Waktu pun berlalu, hingga pada tanggal 22 April 2014, istri saya membayar tagihan internet dan telpon di loket pembayaran dekat rumah. Hasilnya biaya telpon Rp 53 ribuan dan internet Rp 234 ribuan. “Kok?”

Saya kecewa bukan karena nilai nominal tagihan, tapi pada komitmen pihak marketing telkom dalam memenuhi janjinya. Akhirnya tanggal 23 April 2014 sekitar jam dua siang, saya menghubungi nomor “147” untuk mengeluhkan hal ini. Jawaban di ujung telpon sederhana, “Baru di tagihan Mei berlaku, karena baru terdaftar tanggal 7 Maret, pak.”

Hemat saya sederhana, mana saya tahu masalah proses administrasi di internal telkom, saya hanya memegang janji dari pihak marketingnya yang telah menelpon dan menawarkan paket bundling itu.

Mungkin betul juga ungkapan seorang teman, jika bangsa ini sudah terbiasa Nrimo. Habisnya juga bingung, mau mengadukan kerugian kemana?! Daripada buang – buang waktu dan energi, mending saya kembali bekerja agar dapur tetap ngebul dan anak – anak bisa bersekolah. 

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Umum and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s