Jelajah Wisata Alam Sumatera Barat (Bagian 1)

IMG_8991
Nelayan, deretan keramba, air kebiruan di danau Maninjau, latar pegunungan biru, dan gumpalan awan putih. Orkestra alam Sumatera Barat.

Andai saja Tuhan dapat dianalogikan sebagai Pemahat, maka Indonesia adalah sebuah “Maha Karya”. Negeri ini begitu indah, meski banyak putra – putri yang merusaknya, Indonesia tetap indah dan mampu memukau mata.

Hal ini pulalah yang saya rasakan ketika berkesempatan menjejakkan kaki di Bumi Minang (baca: Sumatera Barat), pada tanggal 7 – 8 Mei 2014 lalu. Hari masih pagi sekitar pukul 10 waktu Indonesia bagian barat, saat saya tiba di Bandara Udara Internasional Minangkabau dari bandara Cengkareng. Perjalanan udara dari Jakarta ke Padang sendiri memakan waktu sekitar 1,5 jam.

Desain bandara dengan atap model rumah gadang mengingatkan saya pada dua hal yang mungkin paling legendaris di tempat ini, yaitu kampung halaman Bung Hatta di Bukittinggi dan satu di antara karya sastra terbesar di Indonesia “Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai” karya Marah Rusli.

Situasi Bandara

IMG01359-20140507-1038
Searah jarum jam; Harga tarif angkutan di bandara Minangkabau, papan restoran Waterfront di danau Maninjau, menu dan harga makanan di restoran Waterfront, dan Mairizal (pengelola restoran Waterfront.

Kabarnya Bandara Udara Internasional Minangkau yang terletak 25 km dari kota Padang merupakan satu – satunya nama Bandara Udara di Indonesia yang menggunakan nama etnis.

Di depan pintu keluar Bandara Udara, mata saya langsung tertuju pada papan informasi seukuran perut atau data orang dewasa. Di papan pengumuman itu tertera informasi mengenai rute kendaraan umum dan tarifnya ke beberapa wilayah tujuan.

Berdasarkan penelusuran saya di internet, ada baiknya jika Anda juga berkesempatan ke Sumatera Barat dan baru pertama kalinya, ada baiknya mencari tahu panduan informasi lebih dulu di internet soal akses menuju tempat kota tujuan Anda. Pasalnya, jangan sampai Anda kena tarif “tembak” atau dibawa muter – muter dulu untuk mencari penumpang tambahan, sebelum dibawa ke kota tujuan.

Saya sendiri melanjutkan perjalanan menuju kota Bukitttingi dengan menggunakan bus berukuran sedang, dengan melewati dua destinasi wisaya alam yang sangat terkenal hingga ke manca negara, yaitu Danau Maninjau dan Kelok 44.

Perjalanan menuju Danau Maninjau

IMG_9021
Pemandangan danau Maninjau dari ketinggian di Kelok 44

Sepanjang perjalanan menuju Danau Maninjau, saya seperti diajak ke masa silam. Sangat mengingatkan saya pada masa kecil, ketika melakukan perjalanan dari kota Makassar ke Sengkang, ibukota kabupaten Wajo yang merupakan kampung halaman dari keluarga (alm) Papa.

Saya melihat masih banyak rumah penduduk berdesain klasik di era tahun 1980an, dengan tambahan antena parabola di wilayah pekarangan. Pemandangan ini bagi saya mengandung nilai kenangan yang indah. Unik dan klasik/

Beberapa kali bus melewati kawasan persawahan yang dilatari dengan pemandangan gunung, langit biru, awan putih dan burung – burung yang beterbangan. Seorang penumpang lain di dalam bus beberapa kali berujar, jika situasi ini seperti gambaran nyata dari coretan anak – anak SD di buku gambarnya tentang pemandangan alam.

Dalam beberapa saat ke depan, bus juga beberapa kali melewati kawasan perbukitan tinggi, dimana di bagian tengahnya terdapat air terjun yang tinggi. Indah nian. Sayang saya tidak sempat mendokumentasikan pemandangan tersebut untuk Anda.

Hingga saat Matahari berada di atas kepala, bus akhirnya tiba di kawasan Danau Maninjau yang merupakan Danau terluas di Sumatera Barat, setelah Danau Singkarak.

Bus kemudian berhenti di sebuah rumah makan Waterfrony Zalino yang dikelola pria bernama Mairizal. Buat saya beragama Islam, ada pemandangan indah yang membuat saya bersyukur dan takzim, karena arah Kiblat di tempat ini tepat menuju ke arah Danau Maninjau yang begitu indah dengan airnya yang kebiruan.

Di danau Maninjau ini pula, saya seolah meresapi betapa indahnya sentuhan Maha Karya Tuhan. Sejauh mata memandang ke arah Barat, yang nampak hanya air danau Maninjau, perbukitan, awan dan langit yang semuanya berwarna kebiruan. Kalau pun ada yang berbeda adalah adanya deretan keramba, namun tetap menciptakan harmoni alam yang indah. Rasanya pemandangan seperti ini sudah kerap saya lihat menjadi inspirasi banyak pelukis melalui guratan tinta dan kuasnya di atas kanvas.

Kelok 44 dan Monyet Penunggu

Tanda keterangan jalan di Kelok 44 dan monyet - monyet liar di sisi jalan.
Tanda keterangan jalan di Kelok 44 dan monyet – monyet liar di sisi jalan.

Setelah santap siang dan rehat sejenak merenggangkan badan, perjalanan dilanjutkan menuju Bukittinggi melalui Kelok 44 yang tersohor hingga ke manca negara itu.

Ya, mendengar nama Kelok 44 yang ada di kabupaten Agam (Sumatera Barat), benak saya langsung teringat pada satu event balap sepeda taraf internasional, Tour de Singkarak. Di tahun 2014, Tour de Singkarak kabarnya akan digelar pada tanggal 7 – 15 Juni nanti.

Saat melewati rute Kelok Ampek Puluh Ampek ini, saya tidak lagi menumpangi bus sedang tadi, melainkan duduk sebagai penumpang di baris kedua dari sebuah mobil compact SUV yang baru saja dilansir untuk pasar Indonesia oleh salah satu APM asal Amerika Serikat. Saya sengaja memilih menjadi penumpang, karena ingin menikmati panorama indah alam tanah Minang.

Seperti tercermin dari namanya, ada 44 kelok tikungan yang sempit dan patah yang harus dilalui. Tidak heran klakson kendaraan kerap bersahutan menjelang memasuki tikungan untuk memberikan tanda kepada pengguna kendaraan dari arah berlawanan. Menurut informasi yang saya dapat saat di danau Maninjau, ini sudah menjadi tradisi di Kelok 44, meski sesekali ada truk nakal yang tidak mengindahkan peraturan tidak tertulis itu.

Di kawasan tikungan di perbukitan ini, mata saya kembali dihadapkan pada pemandangan indah, mulai dari pemandangan danau Maninjau dari ketinggian, gunung dan langit biru, sawah – sawah hijau berbentuk terasiring, tanda keterangan jumlah kelokan di tiap tikungan, hingga monyet – monyet liar yang duduk tenang di sisi jalan.

It's me, dengan latar danau Maninjau dari ketinggian salah satu sudut di wilayah Kelok 44.
It’s me, dengan latar danau Maninjau dari ketinggian salah satu sudut di wilayah Kelok 44.

Saya menyarankan Anda yang mengemudikan mobil atau mengendarai mobil di rute ini, sebaiknya kenali kemampuan karakter kendaraan dan momentum perpindahan transmisi yang Anda kendarai. Menurut saya, selain kondisi kesehatan dan pengendaranya yang prima, dibutuhkan kehandalan kapan harus upshift atau downshift, serta menutup dan membuka bukaan gas.

Kesimpulan

Cerita perjalanan saya di Sumatera Barat kali ini akan dilanjutkan pada artikel yang lain, namun melalui tiga sub bagian cerita di atas, saya sangat berharap dapat memberi inspirasi mengenai destinasi liburan Anda berikutnya, sambil bersyukur betapa indahnya alam negeri di Indonesia yang telah dianugerahkan Sang Penguasa Kehidupan.

One Reply to “Jelajah Wisata Alam Sumatera Barat (Bagian 1)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s