Jelajah Wisata Alam Sumatera Barat (Bagian 2 – Tamat)

IMG_9067Hari telah beranjak sore dan hujan turun membasahi kota Bukittinggi pada tanggal 7 Mei 2014 (baca juga Jelajah Wisata Alam Sumatera Barat – Bagian 1), saat aku tiba .

Hari itu adalah selembar halaman mimpi yang terkabulkan. Di kota ini, sang proklamator Bung Hatta, tokoh yang aku sangat kagumi, terlahir. Bung Hatta yang identik dengan kesederhanaan, meski dianugerahi kemampuan megah.

Lokasi kota Bukittinggi sendiri berjarak sekitar 90 km dari kota Padang, ibukota Sumatera Barat.  Di kota ini, saya berkesempatan menginap di sebuah hotel bintang empat bernama The Hills – Bukittinggi Hotel & Convention yang merupakan jaringan grup hotel raksasa, Accor.

Menyusuri Malam di Menara Jam Gadang

IMG_9063
Suasana pagi di kota Bukittinggi. Searah jarum jam; Istana Bung Hatta, Masjid Raya Bukittinggi, Tangga ke Pasar Bawah Bukittinggi, Pasar Wisata di kawasan Pasar Atas Bukittinggi.

Jika di kota London di Inggris ada Menara Jam Big Ben, maka di kota Bukittinggi ada Menara Jam Gadang sebagai ikon kota.

Selain menjadi daya pikat wisatawan di kota Bukittinggi, ada nilai sejarah yang membanggakan pada menara jam setinggi 26 meter itu, yaitu mesin mekanik yang menggerakkannya hanya dibuat dua di dunia. Satu dipasang di Menara Jam Big Ben, dan satu lagi di Menara Jam Gadang ini. Membanggakan, bukan…

Setelah menjalankan ibadah shalat Ashar yang agak terlambat, aku lalu memutuskan sejenak menunggu tibanya waktu shalat Magrib di Mushollah di lantai basement di The Hills. Selesai beribadah, aku memutuskan beristirahat di kamar yang terletak di lantai tiga.

The Hills, hotel bintang empat di kota Bukittinggi.
The Hills, hotel bintang empat di kota Bukittinggi.

Perjalanan di hari itu memang cukup melelahkan, karena telah dimulai selepas waktu shalat Subuh. Mulai dengan perjalanan menggunakan taksi menuju ke Cengkareng, kemudian disambung perjalanan udara sekitar 1,5 jam ke bandara udara internasional Minangkabau. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan bus sedang sekitar dua jam, dan ditutup dengan perjalanan menggunakan kendaraan light SUV menuju kota Bukittinggi.

Setelah beristirahat sejenak, aku bergegas shalat Isya dan makan malam. Tuntas dengan hal tersebut, tiba saatnya untuk melihat – lihat keindahan kota Bukittinggi. Malam itu, cuaca kota Bukittinggi diselimuti mendung dan hujan kecil. Beruntung jarak penginapan dengan Menara Jam Gadang hanya sekitar 100 meter, hanya beberapa menit berjalan kaki.

Menara jam legendaris itu terdapat di taman kota, dan meski hujan kecil tidak menyurutkan antuasiame beberapa pedagang untuk menawarkan dagangan cinderamata. Sayang, hujan yang menderas membuatku tidak lama berada di taman kota tersebut. Aku kembali ke penginapan. “Besok pagilah,” bathinku.

Menelusuri Pagi di Bukittingi

IMG_9066
Pemandangan gunung dari taman kota Menara Jam Gadang, Bukittinggi.

Jarum jam di arloji masih menunjukkan pukul setengah empat pagi, saat aku terjaga dari tidur. Setelah membuat dan mengunggah artikel buat website otomotif yang aku rintis (kini dijalankan bersama beberapa teman), aku lantas mandi diteruskan shalat Subuh.

“Saatnya tiba untuk kembali menelusuri kota Bukittinggi.”

“Teng – teng”, mesin mekanik di Menara Jam Gadang menunjukkan waktu pukul enam pagi menyambut kehadiranku. Gerimis kecil ternyata turun dari langit, meski tidak menyurutkan aroma kesejukan di pagi itu.

IMG_9064
Menara Jam Gadang pukul enam pagi.

Suasana di sekitar Menara Jam Gadang pun masih sepi, hanya ada sedikit orang yang sudah terjaga, termasuk seorang petugas penyapu jalan di depan Istana Bung Hatta, serta satu orang gila yang berteriak – teriak tak karuan.

Aku jadi teringat dengan penggalan dialog di film “Merantau” yang dibintangi Iko Uwais, jika anak – anak Minang memang ditakdirkan untuk merantau, meninggalkan kampung halamannya.

Dari salah satu sudut di sekitar Menara Jam Gadang, mataku terpaku pada sebuah pemandangan yang sangat indah. Inilah mungkin kenapa kota ini dinamakan “Bukittinggi”, karena ternyata posisinya berada di ketinggian, sehingga di bawah sana nampak deretan rumah penduduk. Makin indah nian, dengan latar gunung yang masih selimuti awan. Pada beberapa rumah penduduk di bawah sana pun masih nampak lampu yang menyala.

Aku dengan latar belakang Menara Jam Gadang, Bukittinggi.
Aku dengan latar belakang Menara Jam Gadang, Bukittinggi.

Setelah mengabadikan beberapa momen istimewa melalui kamera DSLR, petualangan kecil ini berlanjut. Kawasan pertama yang kutemui adalah area Pasar Atas Bukittinggi di jalan Minang Kabau. Waktu sudah menunjukkan pukul 06:15 WIB, namun deretan pertokoan di jalan tersebut masih tutup. Hanya sebagian kecil rumah makan yang sudah buka.

Jelang penghujung jalan Minang Kabau berdiri Masjid Raya Bukittinggi. Uniknya, jumlah nomor telepon di masjid raya tersebut hanya terdiri dari lima angka. Sungguh berbeda dengan jumlah nomor telepon di Jakarta dan sekitarnya yang kini sudah mencapai delapan digit.

Berdiri berhadapan dengan jarak 100 meter tepat di depan Masjid Raya Bukittinggi ada Pasar Wisata.

Saat aku melintas di tempat itu hanya ada seorang pria yang menyapu jalan. Pria tukang sapu itu berdiri membelakangi Pasar Wisata. Di dekat situ pula terdapat tangga menuju Pasar Bawah Bukittinggi.

Buat yang ingin berwisata sekaligus berolahraga, silakan memanfaatkan fasilitas tangga tersebut. Tangga itu sendiri memiliki lebar sekitar 6 meter, dan terhitung tinggi dengan anak tinggi yang cukup banyak, serta desain agak berkelok.

IMG_9092Meski cukup menguras energi, melintasi tangga satu ini rasanya akan mampu menciptakan sugesti yang berbeda. Apalagi didukung dengan suasana kota Bukittinggi yang indah dan udara sejuk di pagi hari.

Saat melintasi bagian tengah tangga, aku sempat bersua dengan seorang wanita pengemis tua yang nampak buta. Menggugah rasa ingin berbagi di pagi itu…

Akhir perjalanan di anak tangga terakhir tersebut akan mengantarkan Anda pada sebuah pertigaan jalan di kawasan Pasar Bawah Bukittinggi. Dari sudut tersebut, mataku tertuju pada sebuah bangunan modern empat lantai bernama ‘Banto Trade Center’. Uniknya, yang nampak hidup justru aktivitas di sekeliling bangunan tersebut. Seakan ingin menunjukkan kesan, masyarakat tradisional beraktivitas lebih dini.

Setelah melihat – lihat sejenak, aku sempatkan mampir ke sebuah rumah makan padang. Seorang pelayan kemudian meletakkan pesananku; nasi setengah porsi dengan sepotong rendang, serta secangkir teh hangat tawar tanpa gula. Selesai makan, tagihan yang disebut cukup membuatku terhenyak. Selembar uang 20 ribu rupiah pun berpindah tangan.

Hmm, dia mungkin melihatku sebagai turis.”

Kisah di pagi itu aku tutup dengan sepenggal takzim pada Pemilik kehidupan, “Sungguh indah nian alam negeriku yang telah Engkau ciptakan.”

Ngarai Sianok hingga Lembah Anai

Di Ngarai Sianok
Di Ngarai Sianok

Matahari pagi mulai menyising, saat perjalanan hari kedua dimulai di Bukittinggi. Berbeda dengan hari pertama yang terus diguyur hujan sejak malam. Di hari kedua, perjalanan tidak lagi mengandalkan sepasang kaki, melainkan di atas sebuah Ford EcoSport 1.5 AT Titanium (Rp 249 juta, on the road Jakarta).

Rute pertama adalah mengunjungi sebuah rumah industri yang membuat oleh – oleh khas keripik balado Sanjai. Di tempat tersebut, aku berkesempatan melihat bagaimana proses pembuatan oleh – oleh khas Bukittinggi yang berbahan dasar singkong tersebut. Salah satu keunikan dari pembuatan buah tangan tersebut adalah proses pengolesan sambal dilakukan secara manual dengan kuas. Bisa dibayangkan pegelnya…

Museum Rohana Kudus, Jurnalis Wanita pertama di Indonesia.
Museum Rohana Kudus, Jurnalis Wanita pertama di Indonesia.

Selepas membeli oleh – oleh untuk dibawa kembali ke Jakarta, perjalanan dilanjutkan menuju ke Ngarai Sianok, sebuah keniscayaan lain tentang keindahan alam Sumatera Barat terhampar.

Gugusan lembah yang curam dengan panjang sekitar 15 km, aliran air sungai yang masih jernih, serta semilir angin, membuat eksistensiku hanya laksana sebutir pasir yang tengah bertafakkur.

Di belakang Ngarai Sianok tersebut terdapat akses jalan kecil berkelok – kelok. Jika Anda membawa mobil melintasi rute ini, sebaiknya memahami momentum perpindahan gigi transmisi. Jangan sampai mobil kehilangan momentum dan bersusah payah menaklukkan tanjakan. Fatalnya lagi, jika mengalami mesin panas atau slip kopling.

Buat Anda yang hobi menulis, atau suka dengan wisata sejarah, perjalanan dengan waktu tempuh sekitar setengah jam di balik Ngarai Sianok, akan mengantarkan Anda ke Museum Rohana Kudus. Meski tidak terlalu familiar mungkin di telinga Anda, namun Rohana Kudus merupakan Jurnalis wanita pertama di Indonesia (1884 – 1972). Tokoh inspiratif tersebut sendiri hidup sejaman dengan R.A Kartini.

Rohana Kudus merupakan pendiri Sunting Melayu, surat kabar perempuan pertama di negeri ini. Jika diusut dari hubungan silsilah darah, jiwa pejuang dan pergerakan dari Rohana Kudus memang sangat kental terlihat. Beliau merupakan kakak tiri Soetan Sjahrir (Perdana Menteri pertama Indonesia), dan juga merupakan sepupu dari H. Agus Salim.

Andai boleh berimajinasi liar, benakku mengasosiasikan alam di tempat ini bak arena permainan para dewi bidadari.
Andai boleh berimajinasi liar, benakku mengasosiasikan alam di tempat ini bak arena permainan para dewi bidadari.

Meski hanya mampir sesaat, hati kecilku lega, jika keindahan Indonesia memang sangat, sangat berkelas. Mengenal lebih dekat jejak sejarah seorang Jurnalis yang turut menghidupkan detak perjuangan negeri ini, membuatku semakin takzim. Ya, ada rasa bangga, jika selama 12 tahun terakhir, profesi inilah yang menyemat di bahuku dengan segala suka dukanya.

Tepat di depan Museum Rohana Kudus terhampar pemandangan sawah yang menghampar dan jajaran perbukitan, serta sebuah aliran sungai kecil yang lumayan deras dan jernih. Sungguh, indah nian.

Andai boleh berimajinasi liar, benakku mengasosiasikan alam di tempat ini bak arena permainan para dewi bidadari. Aku sendiri seolah menjelma menjadi Jaka Tarub yang bergegas menggapai sebuah selendang bidadari. Sebuah momen yang layak diabadikan di dalam sebuah bingkai berbahan stainless steel.

Depot mini dengan merek dagang 'Pertamini' mudah ditemui sepanjang jalan di belakang Ngarai Sianok.
Depot mini dengan merek dagang ‘Pertamini’ mudah ditemui sepanjang jalan di belakang Ngarai Sianok.

Sepeninggal dari Museum Rohana Kudus, ada pemandangan unik yang lumayan menghibur. Para pedagang bensin di pinggir jalan mewarnai depot mininya dengan warna merah putih, serta merek dagang yang seragam ‘Pertamini’. Depot itu juga dilengkapi dengan nozzle layaknya ketika mobil mengisi di SPBU.

Dalam perjalanan melintasi jalan raya Padang Bukittinggi, suguhan keindahan alam yang alami juga kerap tersuguh. Mulai dari lokasi permandian yang terletak dan terlihat di pinggir jalan, hingga kala melintasi Air Terjun Lembah Anai dan kawasan wisata Cagar Alam Lembah Anai.

Minuman khas kawadaun mengakhiri perjalananku di Sumater Barat kali ini, namun memorinya insya Allah akan selalu melekat.
Minuman khas kawadaun mengakhiri perjalananku di Sumater Barat kali ini, namun memorinya insya Allah akan selalu melekat.

Di dataran tinggi kawasan wisata Cagar Alam Lembah Anai, aku sempat merasakan minuman khas yang diberi nama kawadaun. Minuman khas ini disuguhkan di dalam sebuah batok kelapa. Menurut salah seorang padagangnya yang bernama Hendra, di kawasan Bukittingi harga seporsi kawadaun antara tujuh ribu hingga delapan ribu rupiah.

“Minuman kawadaun ini dibuat dari daun kopi tua yang dimasak dengan menggunakan arang, minimal enam jam hingga larut. Khasiatnya disebut dapat menurunkan kolesterol dan meningkatkan stamina,” terang Hendri, pemilik rumah makan Soto Padang Bukittinggi, yang juga memasarkan minuman khas tersebut.

Ya, seteguk kawadaun mengakhiri sesi perjalananku kali ini, meski demikian keindahan alam Sumatera Barat tidaklah berakhir. Ia abadi dalam memoriku untuk bersyukur…

ps: Terima kasih, PT Ford Motor Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s