Nak, Jakarta Makin Sesak!

CLNak, bekerja di Jakarta itu semakin sesak. Senin, 8 Desember 2014, PT KAI mengumumkan melalui media massa digital, jumlah armada Commuter Line (CL) ditambah. Sejenak seperti ada harapan, kesesakan penumpang berkurang.

Harapan tinggal harapan, nak. Esoknya, Selasa 9 Desember, ayah ketemu dua tetangga kita di stasiun. Mereka yang biasanya naik motor ke tempat kerja, hari itu mengaku menyerah kelelahan melakukannya lagi. Bukan berarti kereta nyaman. Salah seorang bapak itu sempat mengeluh, “Semalam sekitar setengah tujuh, saya susah banget naik dari stasiun pasar Minggu. Kereta makin sesak.”

CL-CawangLontaran keluhannya justru pada hari dimana armada CL disebut ditambah. Benar saja, malamnya dari stasiun Pasar Minggu di sekitar waktu tersebut, ayah mengalami hal serupa. Kereta terlampau padat. Meski demikian seperti biasa, ayah tetap berusaha cari celah untuk naik. Resikonya, ayah jadi mirip spiderman menempel di pintu. Bedanya, spiderman merekat, ayah terjepit.

Hiburan umum di situasi seperti itu adalah keluhan penumpang yang acap kali mirip lelucon, “Ini kepala dimana, tangan dimana, kaki dimana?!”

Sudah jadi hal yang lazim, posisi kepala penumpang ada di antara ketek atau siku penumpang. Bagi yang sudah biasa naik CL, hal ini harus dimaklumi. Tidak boleh protes atau marah, meski mereka banyak berasal dari kalangan menengah berdaya beli. Mobil – mobil mereka terparkir di setiap stasiun.

 

Di paruh perjalanan, kereta ternyata makin sesak. Seorang nenek menarik tubuh ayah, karena tidak kuat menahan keseimbangan di antara penumpang lain yg terhuyung – huyung karena laju gerak kereta. Ayah pun ikut terjatuh. Ibu itu minta maaf. Itulah resiko naik transportasi massal di Indonesia.

Di luar kereta, jalanan nampak dipenuhi parade mobil dan motor berebutan ruas jalan yang makin sesak. Naik kendaraan pribadi bisa jadi memang lebih penat, biaya perjalanan yang dikeluarkan hampir pasti lebih besar. Belum lagi resiko kelelahan yang membuat emosi jadi labil, dan bisa menyebabkan timbulnya insiden atau keributan. Di jalan raya, pengguna kendaraan pribadi ataupun umum, harus siap dan sigap dengan aksi pengguna jalan lain yang tiba – tiba menyerobot ruas jalan.

Resiko pengguna kendaraan pribadi bukan hanya biaya bensin, parkir, pak ogah di perempatan jalan dan ban kempes. Mereka juga harus menyiapkan dana untuk biaya perawatan berkala dan perbaikan. Itulah enaknya naik CL di Jabodetabek. Transportasi termurah dan tercepat. Persoalan kenyamanan lebih baik jangan diingat. “Ini Jakarta, Bung!”

Di perjalanan, biasanya ayah mengingat wajah dan tawa kalian yang lucu – lucu. Saat dimanapun roda hidup berada, kalian harus diperjuangkan dan didoakan untuk masa depan yang jauh lebih baik dan jauh lebih mulia.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s