BAB 1: Liburan Dadakan

Di rest Area KM 19 tol Cikampek, sambil tunggu Bunda & kakak Oka beli sarapan.

Di rest Area KM 19 tol Cikampek, sambil tunggu Bunda & kakak Oka beli sarapan.

Dalam hidup aku yakin pada satu hal, jika keinginan baik dan dipeluk erat akan menjadi doa yang terkabul. Entah kapan, tapi keinginan itu akan terjadi sebagai rejeki. Aku mengalaminya di bulan Desember 2014, sehari sebelum perayaan Natal buat Umat Kristiani.

Proses terjadinya pun begitu cepat. Tiga hari sebelum Natal 2014, sebuah kabar baik datang menghidupkan keinginan yang pernah tercetus setahun lalu di bulan yang sama. Waktu itu, aku punya keinginan mengajak istri dan anak – anak turing Jakarta – Bali menggunakan mobil. Ketika setahun kemudian keinginan ini terwujud, maka ini tidak lebih pesan dan anugerah dari Tuhan untuk lebih bersyukur atas nikmatNya.

23 Desember 2014. Aku aku langsung mempersiapkan agenda turing dadakan bersama istri tanpa persiapan matang. Bagiku, turing ribuan kilometer Jawa – Bali ini menjadi refleksi dua hal. Pertama, untuk menikmati keindahan alam negeriku. Kedua, aku ingin lari sejenak dari rutinitas, sebelum kembali bertarung dan berlari di tahun 2015.

Jarak ke Bali lewat darat bisa jadi terasa jauh dan penuh resiko, tapi saja dianggap dekat dan menyenangkan. Semuanya kembali pada persepsi yang diyakini.

24 Desember 2014. Hari baru menjelang Subuh, saat aku dan istri mulai bersiap melakukan perjalanan. Selepas mandi dan Shalat, serta memandikan ketiga anakku, perjalanan atau mungkin lebih tepat disebut petualangan ini dimulai. Di tol Jagorawi, kami banyak berpapasan dengan para pekerja atau pebisnis yang berlomba dengan matahari. Beberapa dari mereka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Mereka tidak hanya berkerumun masuk Jakarta. Sebagian bergerak ke arah kawasan industri seperti di Cibitung, Cikarang dan Kerawang. Setahuku, ketiga kawasan itu makin banyak ditanami investasi asing mengingat pasar di Indonesia tumbuh positif beberapa tahun terakhir. Kemacetan pun semakin akut dan menyebabkan perebutan ruas jalan menjadi pemandangan yang semakin lazim.

Setiap hari kerja, entah berapa ribu mobil – mobil pribadi berusia tua hingga keluaran terbaru, saling berjibaku berebutan ruas jalan dengan truk – truk raksasa dan bus – bus antar kota berukuran besar. Masalah kepadatan lalu lintas ini diperparah dengan masalah kedisplinan berlalu lintas di ibukota yang masih lemah. Banyak pengendara yang melaju sekenanya, termasuk dengan berpindah lajur secara mendadak.

Beruntung telah lebih dari 10 tahun terakhir, aku kerap berprofesi sebagai jurnalis bidang otomotif. Hal ini membuatku beberapa kali mendapat kesempatan untuk belajar teknik mengemudi dari beberapa pakar di dalam negeri. Baik dari kepolisian maupun lembaga swasta.

Menjelang pintu tol Cikampek, mobil kami menghadapi kemacetan panjang. Laju mobil terhenti, lalu kembali berjalan perlahan lalu terhenti lagi. Cukup lama situasi itu berulang, sebelum dari lajur paling kanan mobil patroli melaju kencang dengan bunyi sirene meraung – raung untuk meminta jalan. Selang beberapa saat dari lajur yang sama, giliran mobil ambulans melintas cepat.

Beberapa kilometer di depan, aku akhirnya melihat penyebab kemacetan. Tiga truk berukuran besar baru saja mengalami tabrakan hebat. Satu di antaranya hancur total di bagian bodi depan. Rasanya mustahil penumpangnya masih hidup dengan kondisi kabin hancur seperti itu. Inilah fenomena yang lazim terjadi di jalan raya Indonesia.

Baru saja lepas pintu tol Cikampek dan membayar biayanya, aku kembali harus berhadapan dengan cerita kemacetan berkilo – kilometer. Pada keadaan seperti ini dibutuhkan kesabaran ekstra, plus kecerdikan dan sedikit keberanian mengambil resiko agar bisa maju perlahan. Salah satuny ketika aku memutuskan mengambil keputusan cepat menerima tawaran dua orang “pak ogah” untuk memotong lajur melewati jalan perkampungan. Pembayarannya dua kali, sekali pas masuk, sekali pas keluar menuju jalan raya ke arah Cirebon.

Selepas situasi itu, perjalanan relatif lancar ke arah Indramayu. Di jalur Pantura ini relatif tidak banyak pemandangan alam yang enak dilihat mata. Matahari telah lewat waktu tengah hari, saat kami tiba di wilayah yang berjuluk Kota Mangga itu. Itu berarti sudah lebih dari delapan jam aku mengemudikan mobil. Waktu ini relatif lama, karena biasanya dalam kondisi normal, untuk mencapai Cirebon hanya dibutuhkan waktu sekitar enam jam perjalanan.

Di Indramayu, kami memutuskan makan siang di rumah makan Pringsewu Indramayu. Harga makanan di sini memang agak tinggi, tapi para pelanggan seperti sudah maklum. Grup rumah makan Pring Sewu merupakan pemegang rekor MURI untuk iklan informasi terpanjang. Selain makan siang ada sebuah berkah kecil yang aku dapat. Terkesan sepele mungkin, tapi benda ini kemudian banyak berfungsi selama perjalanan. Berkah itu bernama peta pulau Jawa yang bisa diambil secara gratis. Aku ambil dua lembar, satu buat peganganku dan satunya kuberikan buat istri.

Selepas makan siang dan shalat jamak qhasar, aku coba semaksimal mungkin mendekati kota Semarang sebelum jam enam sore. Waktu menunjukkan pukul dua siang saat aku masuk tol Palikanci dan jarak Semarang masih sekitar 250 km di depan. Tarif tol Palikanci seingatku terkenal mahal, padahal jalanannya banyak yang rusak dan tidak terlihat lampu penerangan jalan. Kondisi jalan yang rusak masih sama saat terakhir kali aku melintasinya dua tahun lalu.

Tol Palikanci sepanjang 26,3 km ini ada tiga gardu pembayaran. Gardu pertama (Plumbon 3) dan kedua (Ciperna Utama) yang masing – masing dikenai tarif lima ribu rupiah. Gardu ketiga (Kanci – Pejagan) dikenai tarif Rp 24.000,-.

Suasana di kamar di Hotel Pemalang. Kegembiraan ketiganya yang buat perjalanan ini jadi tidak terasa melelahkan.

Suasana di kamar di Hotel Pemalang. Kegembiraan ketiganya yang buat perjalanan ini jadi tidak terasa melelahkan.

Setelah 14 jam mengemudi atau tepatnya pukul tujuh malam, mobil kami baru masuk di wilayah kota Pemalang, Jawa Tengah. Sesuai kesepakatan dengan istri, jika petang tiba kami harus mengakhiri perjalanan di kota terdekat dan segera mencari penginapan untuk beristirahat.

Sebelum berburu penginapan, target pertama kami adalah mencari rumah makan untuk mengisi perut. Kami makan malam nasi goreng di rumah makan Gita Rasa di jalan Ahmad Yani. Harganya antara Rp 15 ribu – Rp 18 ribu. Rasanya lumayan enak.

Perjalanan turing hari pertama kami ditutup di Hotel Pemalang. Tempatnya lumayan bersih, tarifnya Rp 200 ribu per malam. Sudah ada fasilitas AC, air panas dan sarapan pagi. Parkir mobil pun bisa di depan kamar. Malam makin meninggi. Selepas mandi dan bersih – bersih, perjalanan dilanjutkan ke alam mimpi. Zzzzzzz…

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Travelling and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s