Bab 2: Melintasi Rute Daendels

Herman Willem Daendels (1762 - 1818, 55 tahun)
Herman Willem Daendels (1762 – 1818, 55 tahun)

Jalan peninggalan Herman William Daendels di pulau Jawa adalah sebuah mahakarya, sekaligus simbol tragedi kemanusiaan. Rute yang lebih dikenal dengan nama jalur Pantai Utara (Pantura) membentang sejauh 1.316 km. Membuat perjalanan dari Merak di ujung Barat menuju Ketapang di ujung Timur dapat dicapai dalam hitungan hari. Sebagian besar jalur Pantura tersebut dibangun atas prakarsa Daendels dalam waktu relatif singkat. Dibutuhkan waktu hanya setahun untuk pembangunan dan sempat menjadi jalanan terpanjang di dunia.

Pembangunan jalan Daendels ini juga merupakan simbol kekejaman. Penguasa lokal dan rakyat negeri banyak yang dibunuh, jika tidak dapat memenuhi target waktu yang ditetapkan. Potongan kepala mereka dipajang di pohon sepanjang jalan sebagai simbol peringatan untuk patuh.

Rute legendaris inilah yang aku pilih dalam perjalanan ke Pulau Dewata. Setelah hari pertama rehat di Semarang, di hari kedua yang bertepatan dengan perayaan Natal 2014 perjalanan dilanjutkan. Lima peserta turing di mobil kami tetap cerah ceria, walau sudah ratusan kilometer terlewati. Aku bersama istri dan putra bungsuku mengisi kursi baris pertama. Putri sulungku dan adik lelakinya di baris kedua. Acap kali keduanya duduk tenang menonton film kartun Frozen produksi Disney. Film ini mereka ulang dan nonton beberapa kali sepanjang perjalanan tanpa pernah merasa bosan.

Aku memulai perjalanan hari kedua dari lokasi penginapan di kota Pemalang antara pukul enam atau tujuh pagi. Lalu pada sekitar pukul 11 siang, kami tiba di Semarang. Melihat pusat kota Semarang sudah di depan mata, bunda (panggilan istriku) spontan berucap, “Ayah, kita cari lumpia Mbak Lien di jalan Pandanaran yah.”

Bagiku permintaan istri acap kali sebagai perintah yang harus dipenuhi. Jika tidak mood-nya akan jelek beberapa waktu. Alhasil, target buruan kuliner pertama adalah lumpian Mbak Lien. Awalnya aku berpikir, penjual lumpianya menyewa salah satu ruko di kawasan sentra oleh – oleh khas Semarang itu. Ternyata hanya di sebuah gerobak dorong. Meski demikian, harga per satuan lumayan mahal. Satu lumpia dihargai Rp 11 ribu. Istriku hanya membeli tiga potong lumpia. Setelah itu, perjalanan di Semarang selasai di sebuah rumah makan di sekitar jalan Gajah Mada.

Menjelang pukul satu siang, perjalanan menembus jalur Pantura dilanjutkan. Saking asyiknya mengemudi saat tiba di Tuban, aku keliru memilih rute. Mestinya ke arah Lamongan, aku malah memilih rute Brondong. Rute ini tergolong sepi, lebih jauh dan dikelilingi hutan bakau. Istriku sempat ketar – ketir selama melintasi Brondong, karena malam semakin berjejak dan minim lampu penerangan. Brondong sendiri merupakan wilayah kecamatan di wilayah kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Hal yang paling mencekam dari jalur ini adalah titik rawan kriminalitas. Kabarnya ini salah satu jalur favorit para “bajing loncat” alias begal melakukan aksinya.

Aku berusaha tenang mengemudi, berharap kami dapat melewati kawasan Brondong ini dengan selamat. Akhirnya selepas pukul delapan malam, kami akhirnya keluar dari rute membosankan dan masuk tol menuju arah Surabaya dan Gresik.

Baru selesai melewati satu cobaan, lagi – lagi aku keliru menentukan rute. Mestinya ke arah Gresik, aku malah menuju Surabaya. Walhasil aku agak merasa di kejar waktu kali ini, karena malam sudah semakin larut saat kami melintasi tol Gempol menuju arah Malang dan Pasuruan. Di tengah kemampuan respon mengemudi yang mulai menurun, kusempatkan berhenti di sebuah mini market. Sambil membayar sebotol minuman kopi kemasan, aku bertanya tentang seberapa jauh lagi Banyuwangi pada petugas kasirnya.

“Banyuwangi sekitar empat jam lagi,” jawabnya singkat.

Wuih, menyenangkan sekali mendengar jawabannya. Semangatku untuk mengemudikan mobil tiba – tiba terasa naik lagi. Tidak sabar rasanya untuk segera tiba di pelabuhan penyebrangan di Ketapang. Saking antusiasnya, total di hari kedua ini aku hanya tidur sekitar satu setengah jam. Itupun dibagi di dua tempat, sekali di SPBU, sekali di pelataran Masjid.

Memasuki jalur Pasuruan – Probolinggo, tantangan muncul lagi dalam bentuk yang baru. Dari arah yang berlawanan, banyak sopir bus – bus besar antar kota dan truk – truk tronton yang datang dari arah berlawanan nekad mengambil lajur jalan. Mereka melakukan hal tersebut dengan kecepatan tinggi pula. Alhasil insting untuk mengemudi secara aman dituntut lebih waspada, jika ingin selamat. Apalagi bunda dan anak – anak sudah terlelap malam itu. Mereka harus tetap nyaman sepanjang perjalanan.

Sekitar pukul dua dinihari, mobil kami memasuki sebuah SPBU dengan fasilitas rest point terbaik yang pernah aku lihat. Namanya SPBU Utama Raya di kabupaten Probolinggo. Jika menuju ke arah Banyuwangi, SPBU ini mestinya terlewati di sisi kiri jalan. Di sini lengkap fasilitasnya. Ada penginapan dan kamar mandi umum dengan fasilitas air panas. Untuk mandi di kamar mandi itu cukup membayar tujuh ribu rupiah. Pantaslah jika banyak pengendara mobil dan motor yang memilih beristirahat di sini.

Rest point ini juga menyediakan fasilitas rumah makan dan supermarket 24 jam. Aku pun sempat mengisi perut menu paket bakso dan teh tarik. Hanya 15 ribu rupiah, lumayan enak rasanya. Dari salah satu penjaga rumah makan, aku mendapat informasi pelabuhan penyebrangan Ketapang sekitar tiga jam perjalanan lagi. Dan kali ini, aku mendapat informasi yang benar.

Hore!

2 Replies to “Bab 2: Melintasi Rute Daendels”

  1. Salam kenal mas…seru juga saya baca perjalanan liburan dadakannya.Mas saya rencana 23 februari ini juga akan jalan2 jakarta bromo bali bawa istri,anak 3 tahun dan ibu.Mengenai jalur pantura yang belum begitu lama mas lewat kondisinya bagaimana ya dan apa saja yang harus di waspadai atau juga tempat2 peristirahatan yang nyaman sepanjang pantura.Terima kasih

    1. Siap, Pak Suhandi. Tips dari saya paling adalah peta jawa, usahakan aktifkan gps jika kebingungan mencari rute. jika gps di smartphone andriod bisa pakai aplikasi Waze. untuk penginapan, saya juga tidak menentukan titik pasti penginapan. Hanya saja saya dan istri sudah berkomitmen, setiap sekitar jam 6 hingga 7 malam kita akan berhenti di kota terakhir yang dimasuki, untuk mencari penginapan dengan batas maksimum 250 ribu per malam dan bisa parkir kendaraan di depan kamar. Semoga bisa menjawab. Have nive vocation yah, Mas Suhandi. Salam buat keluarga, drive safe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s