Bab 5: Menikmati Keindahan Pulau Dewata

Di Pandawa Beach. Oka dengan gaya khasnya, jari telunjuk tangan kanan di kepala, dan Rasy yang lebih suka cuek pas difoto.

Di Pandawa Beach. Oka dengan gaya khasnya, jari telunjuk tangan kanan di kepala, dan Rasy yang lebih suka cuek pas difoto.

Selepas waktu Magrib, kami bersiap menyusuri jalan di Denpasar. Salah satu tujuannya adalah Krisna, pusat oleh – oleh khas Bali yang ada di Sunset Road. Dengan asumsi yang menggampangkan pasti sampai di tujuan, kami berjalan “buta” tanpa peta. Alhasil kami tersesat dengan sukses. Alih – alih menemukan Krisna, jalan pulang pun aku lupa. Ternyata tidak mudah beradaptasi dengan situasi jalan di Denpasar. Terlalu banyak belokan, serta umumnya jalan yang ada tidaklah lebar, hanya cukup untuk dua mobil. Plus, diperparah dengan kemacetan.

Misi di hari pertama pun dipastikan gagal, dan persoalan di malam itu belumlah selesai. Untuk dapat kembali ke penginapan, kami beberapa kali tersesat dan aku jadi rajin turun untuk bertanya. Setelah sekitar lebih dari sejam berputar – putar tidak karuan di jalan, akhirnya kami dapat juga kembali ke penginapan.

****

Bunda dan Keanu dengan latar Patung Arjuna di Pandawa Beach.

Bunda dan Keanu dengan latar Patung Arjuna di Pandawa Beach.

Hari kedua di Denpasar, Sabtu 27 Desember 2014. Aku telah terjaga sejak pukul setengah tiga dini hari. Beruntung jaman sudah maju di era smartphone yang canggih. Setelah mencari – cari software navigasi, aku menemukan satu nama yang pernah direkomendasikan seorang kenalan. Namanya Waze. Tanpa berpikir panjang aku mengunduhnya.

Saat pagi menjelang, bunda dan anak – anak sudah siap bepergian menikmati suasana liburan di Pulau Dewata. Ya, kali ini aku sudah siap mengantar mereka menikmati keindahan Pulau Dewata untuk pertama kalinya. Aku sendiri sudah beberapa kali, khususnya karena tugas kerja. Pagi itu, aku mengusulkan tiga destinasi pada bunda, yaitu GWK, Pantai Pandawa dan Pantai Padang – Padang. Di tengah perjalanan aku juga sempat mengunduh aplikasi Waze di smartphone bunda, untuk berjaga – jaga kalau baterei smartphone habis. Pasalnya aku lupa membawa kabel power bank.

Kakak Oka Andjani juga protes mau difoto sendiri di depan Patung Arjuna. Baiklah, anakku sayang.

Kakak Oka Andjani juga protes mau difoto sendiri di depan Patung Arjuna. Baiklah, anakku sayang.

Berkat panduan yang sangat mudah dimengerti pada Waze, destinasi pertama GWK dapat dicapai dengan mudah. Di sini aku merasa petuah klasik untuk bangun pagi supaya rejeki tidak dipatok ayam ada benarnya. Kami berhasil masuk GWK, tanpa dipungut bayaran di gerbang parkir. Waktu di Denpasar memang masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Di loket tiket, memang kami bertemu dengan seorang petugasjaga, seorang wanita yang baru saja bersiap menjalankan tugasnya.

“Orang dewasa bayar 50 ribu, anak – anak 40 ribu per orang,” jelasnya tegas padaku. Padahal dia baru saja masuk ke dalam loket dan masih dalam kondisi merapikan seragam tugasnya, ketika melihat aku berjalan ke loket.

Penjelasannya itu berarti membuatku harus membayar Rp 220 ribu untuk masuk. Terang aku merasa kemahalan, karena aku sudah dua kali masuk ke area GWK gratis (maksudnya dibayarkan…hahahaha…). Setelah memutuskan untuk keluar meninggalkan lokasi, lagi – lagi Tuhan berbaik hati pada kami. Seketika aku melihat ada jalan masuk lewat belakang. Aku ingat dulu waktu test drive Ford Focus melewati jalan itu, melalui jalan memutar di antara gunung kapur menuju area dalam GWK.

Oka dan Rasy di Pantai Kuta.

Oka dan Rasy di Pantai Kuta.

Aku pun memberanikan masuk. Portal jaga pun masih terbuka tanpa penjaga. Saat berbelok ke arah jalan tersebut, aku sempat bertemu mobil berplat D (plat nomor Bandung) yang baru keluar meninggalkan lokasi. Pengemudinya juga ternyata seorang bapak dengan istri dan anaknya. “Masih gratis. Penjaganya sepertinya masih pada sembahyang,” teriaknya padaku. Mungkin dia tahu, kami juga mencari celah liburan murah seperti dia dan keluarganya.

“Siap,” jawabku, tanda berterima kasih.

Kami pun berhasil masuk ke area GWK. Di sana, kami bertemu dengan seorang pria pengendara motor dengan pasangan, yang juga masuk secara ilegal seperti kami.

“Paling jam delapan baru buka resmi,” kata pria pengendara motor tersebut padaku. Itu berarti, kami masih punya waktu setengah jam lebih untuk menikmati keindahan panorama GWK sebelum aktivitas resmi dimulai. Aku pun bergegas mengajak bunda dan anak – anak memanfaatkan waktu yang ada, tentu untuk berfoto – foto. Dua smartphone, tongkat selfie, dua lensa wide untuk smartphone, satu kamera DSLR dengan lensa standar 18 – 55 mm, serta tripod menjadi “senjata” untuk mengabadikan momen, bahwa kami pernah ada di tempat yang disebut menjadi maskot Bali.

Keanu dengan pose manisnya di Pantai Kuta.

Keanu dengan pose manisnya di Pantai Kuta.

Saat berjalan menuju deretan anak tangga ke arah patung – patung yang ada di atas, kami melihat dan harus melewati sebuah panggung acara berukuran besar tengah dipersiapkan. Beberapa pria berbadan tegap yang nampak sebagai pekerja yang mendekorasi panggung tersebut masih tertidur. Meski kami berjalan di antara mereka, nampak mereka tetap pulas dan tidak merasa terganggu. Tidur mereka nampak lelap, padahal sinar matahari pagi itu mulai menyengat.

10 menit menuju pukul delapan, saat kami selesai berfoto – foto. Saat menuruni anak tangga menuju mobil, para pria pekerja panggung itu ternyata telah terbangun. Mereka nampak kembali bersiap untuk melanjutkan tugas kerjanya. Sejenak ada raut muka penasaran di beberapa wajah mereka. Kami pun berusaha tetap tenang berjalan menuju mobil. Beberapa langkah ke depan, nampak dua orang petugas berseragam berjalan ke arah mobil kami. Tapi ternyata mereka lebih sibuk berbincang, tidak memperdulikan keberadaan kami.

Bunda dan anak - anak di Pantai Kuta.

Bunda dan anak – anak di Pantai Kuta.

Sebelum benar – benar pergi, kami masih menyempatkan berfoto dengan latar belakang area GWK dan alam Bali yang mempesona. Melewati pintu gerbang belakang dan pos jaga, kami tetap aman. Namun saat melewati portal keluar GWK nampak sistemnya mulai aktif. Dari balik kaca hitam di pos jaga, aku pun melihat petugas jaga sudah mulai bekerja. Sekilas aku mengenalinya waktu masuk pertama kali tadi.

Aku pun mencoba tenang menyapa, “Bayar yah?”

Tanpa bersuara, dia malah membukakan portal pintu keluar. Kami pun dapat berwisata di GWK tanpa dipungut bayaran. Hore!

Mobil pun di arahkan menuju destinasi berikutnya, Pandawa Beach. Untuk mencapai lokasi, kami kembali mengandalkan Waze untuk memandu. Beberapa kali kami melewati masyarakat setempat dan pure, tempat mereka merayakan Hari Raya Kuningan yang jatuh pada hari itu. Lelaki dan perempuan dewasa, serta anak – anak menggunakan pakaian khas Bali, dengan sesajian yang umumnya kami lihat adalah tumpukan buah – buahan.

Tidak berapa lama kemudian, kami akhirnya sampai di Pandawa Beach. Khawatir mahal, aku sempat berdiskusi dengan petugas jaga terlebih dahulu. Ternyata untuk masuk, kami cuma dikenai biaya Rp 25 ribu.

Di Pandawa Beach, bunda dan anak – anak diri berfoto di beberapa spot menarik. Tidak lama kami di sana, sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Destinasi berikutnya adalah Pantai Padang Padang. Tempat satu ini makin terkenal, sejak dipilih menjadi salah satu lokasi syuting film ‘Eat, Pray, Love’ yang dibintangi Julia Roberts.

Sesampainya di Pantai Padang – Padang, kami tidak langsung mampir. Kami terus berjalan beberapa kilometer ke depan, hingga menemui sebuah medan jalan yang belum pernah kami temui seumur hidup. Sebuah jalan dengan turunan dan tanjakan tajam menyerupai rel roller coaster. Tekanan darah dan detak jantungku berdetak lebih kencang untuk melewatinya, tapi aku tertantang. Di tepi jalan terpampang papan pengumuman berisi informasi rawan terjadi kecelakaan.

Setelah berjalan melewatinya, tidak lama mobil kuputar kembali untuk melewati kedua kali. Saat kembali melewati kawasan Pantai Padang Padang, aku kembali berkonsultasi dengan petugas jaga mengenai tiket masuk. Ternyata cukup membayar tiket parkir lima ribu rupiah. Selebihnya pengunjung bisa berjalan turun menuju lokasi ke kawasan pantai.

Bunda yang awalnya ingin ke bawah mengurungkan niat. Dua putra kami sedang terlelap. Andai pun mereka bangu,n rasanya dia pasti berpikir panjang untuk turun ke bawah. Ya, tentu tidak mudah naik dan turun ke Pantai Padang Padang dengan membawa tiga anak kecil, dua di antaranya kemungkinan besar harus digendong. Oka si sulung pun belum tentu kuat, meski sudah berusia lebih dari enam tahun.

Selesai menikmati tiga titik liburan, kami segera mencari rumah makan. Sebagai Muslim, tidak mudah mencari makanan halal di Denpasar. Bukan hanya karena restoran yang menawarkan menu babi, tapi juga pada aturan potong hewan seperti ayam dan sapi harus tetap memenuhi kaidah agama.

Kami akhirnya menemukan rumah makan Padang bernama ‘Rindu Rasa’ di jalan Uluwatu II No. 33 di Jimbaran. Harganya standar, makan untuk menu tiga orang Rp 90.000,-.

Selesai makan siang, aku mengajak bunda melewati kawasan Legian dan pantai Kuta. Meski tahu jalan di Legian sempit dan super macet, tapi ini adalah kali pertama bunda dan anak – anak menjejakkan kaki di Bali. Artinya Pantai Kuta menjadi salah satu lokasi wajib untuk dikunjungi. Kami pun sempat mampir, dan mereka sempat pula aku foto beberapa kali di area Kuta.

Hari itu berbeda dengan hari sebelumnya yang diwarnai guyuran hujan hampir sepanjang hari. Matahari seperti menegaskan arti panas yang menjadi identitas Bali. Sengatan yang justru menjadi kesukaan para bule untuk berjemur dan membakar kulit. Tombol pendingin udara di mobil pun kunaikkan lebih dari biasanya untuk meredam panasnya udara di Denpasar.

Puas berfoto, perjalanan dilanjutkan menuju misi yang tertunda, Krisna di Sunset Road. Seperti biasa kalau di area perbelanjaan, bunda seperti ketemu surga. Ia pasti berlama – lama. Kadang aku berpikir mending sekalian berkemah untuk menunggunya selesai.

Bunda menggendong si kecil Keanu sambil berbelanja. Aku sendiri bertugas menjaga Oka dan Rasy. Oka, putriku yang terkenal paling cerewet pun menunjukkan kebiasannya. Mulai minta minum hingga diantar ke kamar kecil untuk pipis. Sementara Rasy yang memang sedang pilek sejak berangkat, terlihat cukup tersika dengan ingus yang intens keluar dari hidungnya. Beberapa kali jari tanganku berubah menjadi sapu tangan dadakan untuk membasuhnya.

Setelah beberapa jam berbelanja di tengah udara Denpasar yang tengah panas – panasnya itu, bunda akhirnya selesai juga berbelanja. Pakaian dan makanan baik untuk kami ataupun sebagai oleh – oleh segera ia taruh di meja kasir. Sekitar Rp 600 ribu uang berpindah dari dompetnya ke laci kasir pada proses transaksi itu.

Puas dengan hobi si bunda, kami memutuskan kembali ke penginapan untuk beristirahat sejenak, sekaligus bersih – bersih. Baterei smartphone kami juga sudah habis memandu kami sepanjang pagi hingga jelang sore.

****

Jelang petang, bunda sudah menetapkan target buruan berikutnya, rumah makan ayam betutu Pak Man di jalan Kubu Anyar, Kuta. Tidak jauh dari bandara udara Ngurah Rai lokasinya.

Kali ini Waze gagal memandu kami, meski beberapa kali gunakan hingga baterei dua smartphone kami habis. Meski beberapa kali tersesat, aku tidak ingin mengecewakan bunda. Beberapa kali bertanya pun ternyata tidak ketemu. Saat aku pun mulai pasrah, ternyata Tuhan kembali berbaik hati untuk langsung memandu kami. Di tengah situasi jalan yang semakin macet parah, sebuah papan informasi di sebelah kanan jalan sekitar 100 meter ke depan menunjukkan kata yang kami cari – cari, Rumah Makan Ayam Betutu Pak Man. Alhamdulillah.

Sambil memesan makanan, aku pun tidak lupa mencari stop kontak untuk mengisi baterei smartphone. Soalnya setelah ini, kami berencana menuju Mercure Sanur. Di sana, adik iparku (suami adik bungsuku) baru saja diterima kerja sebagai Chef. Tentu saja sebagai keluarga dekat, kami harus menyempatkan menjenguknya. Apalagi dia baru saja kena tipes, karena terlalu antusias menjalankan pekerjaan barunya sampai lupa makan.

Untuk sampai ke sana, aku memilih melewati jalur tol di atas laut yang terkenal itu. Indah nian liburan kali ini rasanya. Meski nampak lelah, aku tetap melihat air muka kegembiraan di wajah bunda dan anak – anak.

Kami tiba di Mercure Sanur belum pukul tujuh. Artinya masih lebih dari sejam, hingga adik iparku selesai bekerja pukul delapan malam. Baru sekitar pukul setengah sembilan malam, ia baru keluar dengan menggunakan skuter matiknya yang sengaja ia kirim dari. Ada sedikit perasaan terenyuh melihat perjuangan adik iparku itu. Semoga dia dan istrinya bisa segera dikarunia momongan, serta berbahagia dan sehat selalu, Aamiin.

Malam itu, kami sempat meluangkan waktu berbincang dan melepas rindu di J.Co Donuts & Coffee di jalan By Pass Ngurah Rai, Sanur. Tidak lama memang, hanya sekitar setengah jam. Aku pikir dia harus kembali beraktivitas besok pagi, dan kami pun sudah memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke pulau Jawa. Pertimbangannya untuk menghindari antrian panjang di pelabukan Gilimanuk menjelang pergantian tahun 2014 – 2015.

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Travelling and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Bab 5: Menikmati Keindahan Pulau Dewata

  1. G says:

    Kata ayah saya, ternyata om derry masih “nakal” dan berani. Melakukan hal-hal tidak biasa. Tapi, itu tommi gayana om derry. Jago memang. Menunggu lanjutan kisah perjalanan ta om

    • jbkderry says:

      Siap, anakku G yang sudah tumbuh jadi pemuda ciliknya ayah Iccang. Ini lagi om Derry coba selesaikan (masih 10 bab lagi rencana), lalu coba iseng – iseng mau cari penerbit, siapa tahu ada yang berminat bukukan…:p Salam buat ayah dan bundata’, nak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s