Bab 6: Makanan Halal di Bali

Di rumah makan ini terakhir kali kami makan di Bali di tahun 2014, sebelum tiba di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi pada sore harinya.

Di rumah makan ini terakhir kali kami makan di Bali di tahun 2014, sebelum tiba di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi pada sore harinya.

Menjejakkan kaki di Pulau Dewata sebagai wisatawan muslim menjadi tantangan tersendiri. Bukan rahasia lagi, jika mayoritas masyarakat Bali yang beragama Hindu menghalalkan babi untuk dimakan. Makanan dari hewan potong yang mestinya dihalalkan pun tidak serta merta sah. Bisa saja ayam atau sapi yang disembelih tidak memenuhi kaidah Islami.

Repot yah menjadi seorang muslim? Enggak juga sih, tergantung cara melihat dan menikmatinya. Dalam liburan keluarga kami kali ini, memang tidak serta aman dari makanan haram. Hari pertama 26 Desember 2014, kami makan nasi goreng di penginapan. Ada sedikit kekhawatiran saat memakannya, karena ada irisan daging sosis di dalam. Sempat ada perasaan ingin bertanya pada peramu makanan di penginapan, tapi perasaan tidak enak juga mengemuka. Kami baru saja tiba sore itu, rasanya kurang sopan untuk bertanya. Aku putuskan berbaik sangka saja. Bismillah.

Hari kedua 27 Desember 2014, rasanya menu makan siang kami di kawasan Jimbaran cukup aman. Sebuah rumah makan masakan Padang menjadi tempat kami mengisi perut. Sorenya kami makan salah satu menu khas Bali yang terkenal, ayam betutu, di kawasan Kuta yang lokasinya tidak jauh dari bandara udara.

Sebelum masuk, aku sempat bertanya pada tukang parkir yang berjaga di depan rumah makan. “Halal gak yah makanannya?” kataku.

“Halal, pak,” jawabnya.

Saat masuk ke rumah makan, aku juga sempat melihat tulisan “halal” terpampang. Jadi bismillah dan berbaik sangka saja.

Baru keesokan harinya, seorang sahabat yang menjadi seorang uztad di Denpasar memberitahu jika banyak restoran di Bali yang ikut – ikutan latah menulis kata “halal”. Padahal menurutnya, menjual makanan non babi tidak serta merta langsung dicap halal. Ayam pun kalau disembelih dengan cara tidak Islami tidaklah halal untuk dikonsumsi.

Untuk hal satu ini, kami hanya bisa memohon maaf di dalam hati pada Tuhan jika melakukan kesalahan.

****

Hari ketiga 28 Desember 2014 sekaligus menjadi hari terakhir kami di Pulau Dewata, sebelum kembali ke pulau Jawa. Untuk menuju ke arah pelabuhan Gilimanuk, kami sengaja melewati rute ke arah Singaraja. Tujuannya adalah untuk mampir di kawasan wisata Danau Beratan di Bedugul.

Di sana menu sarapan siang kami dapat dikatakan aman. Tepat di depan lokasi wisata di kabupaten Tabanan itu, kami makan di Warung Taliwang Muslim Bu Hj. Marfu’ah.

Ini adalah santapan kami terakhir di Pulau Dewata pada tahun 2014, sebelum pada sore harinya Kapal Ferry yang kami tumpangi mengantarkan kembali ke Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Travelling and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s