Bab 7 : Bali Menebar Keindahan di Sepanjang Jalan

blogKeputusan kami melarikan diri dari kepenatan dan rutinitas hidup, dengan menempuh jarak hingga ribuan kilometer ke Pulau Dewata merupakan keputusan tepat. Segala bentuk wisata alam yang indah terhampar telanjang di sini. Laksana lukisan alam yang dapat disentuh dan dirasakan secara nyata sedemikian indah. Gunung, pantai, hutan hingga danau. Semuanya dijamin bisa membuat manusia yang berhati bisa lebih mensyukuri nikmat kehidupan.

blog2Sebagai seorang suami dan ayah dari anak – anak yang lucu, ada perasaan senang bisa mengajak mereka menikmati liburan di Bali. Bukan hal yang luar biasa tentu bagi yang tengah berlimpah materi. Tapi jelas tantangan tersendiri bisa menikmati Bali dengan biaya yang terbatas, tanpa harus mengurangi makna kebahagiaan yang bisa dicapai. Seperti di pagi itu, 28 Desember 2014, kami telah siap menuju ke titik destinasi terakhir Danau Beratan. Jaraknya sekitar 55 km dari kota Denpasar dengan mengambil rute ke arah Singaraja.

Semakin mendekati lokasi yang dituju, udara sejuk menderas masuk masuk ke dalam kabin mobil. Suasana yang mampu mendinginkan urat syaraf dan tulang – tulang tubuh yang kepanasan menghadapi kerasnya Jakarta dan orang – orangnya.

Nuansa kedamaian alami yang berhembus di Bali membuat perjalanan nun jauh ini jadi tidak terasa. Terlebih kami juga disuguhkan oleh budaya khas Bali dan masyarakatnya yang selalu mampu menjadi penghibur hati yang manjur. Menjadi semacam peneduh yang mampu menghangatkan diri dari panas ataupun mendinginkan dari terik yang menyengat.

Waktu masih pagi, ketika mobil kami akhirnya masuk ke dalam area wisata Ulun Danu Beratan di kabupaten Tabanan. Diringi hujan kecil dan udara dingin yang cukup menusuk tulang, kami tiba bersiap melihat Pura Ulun Danau Beratan yang diabadikan di dalam lembaran uang 50 ribu rupiah. Liburan di tempat sini terhitung murah. Hanya cukup membayar parkir mobil lima ribu rupiah, sementara biaya masuk Rp 20 ribu untuk orang dewasa tanpa tiket…hahahahaha. Ketiga anak kami tidak dikenai biaya tiket masuk.

Di beberapa sudut kawasan tersebut, kami berlaku seperti orang kebanyakan dengan berfoto – foto ria, tentu termasuk dengan latar belakang Pura Ulun Danau Beratan. Sempat pula kami menggunakan jasa juru foto setempat untuk mengabadikan keluarga kecil yang teramat kusayang ini. Bayarannya cukup membayar 15 ribu rupiah. Murah, kan?!

Perjalanan ini pun menjadi semacam arena pembuktian, jika dari kasta apapun kita, setiap manusia berhak menikmati karunia keindahan hidup dan mensyukurinya. Termasuk untuk bisa berlibur dengan cara terjangkau dan penuh momen petualangan seperti kami.

Jelang meninggalkan kawasan itu, sempat kutawarkan pada istri untuk naik speed boat mengelilingi Danau Beratan. Biayanya Rp 150 ribu selama sekitar 15 menit, namun ia menolaknya. Setelah itu, kami pun memutuskan keluar menuju lokasi parkiran mobil. Untuk sampai ke situ, kami harus melewati deretan beberapa ruko kecil yang menjajakan pakaian maupun suvenir khas Bali. Menurut istri, harganya cukup terjangkau hanya saja kualitasnya kurang baik.

Saat itu, waktu sudah menunjukkan lewat dari pukul 11 siang waktu setempat. Seperti telah diceritakan pada bab terdahulu, kami sempat makan siang di Warung Taliwang Muslim Bu Hj. Marfu’ah yang tepat berada di seberang jalan. Seporsi nasi campur dihargai Rp 20 ribu. Lumayanlah rasanya, terutama abonnya. Dan yang penting halal.

Hidayat Salam a.k.a Cokel, sahabatku yang kini menjadi uztad di Bali.
Hidayat Salam a.k.a Cokel, sahabatku yang kini menjadi uztad di Bali.

Perjalanan pun dilanjutkan dengan rute yang kembali menanjak menuju kota Singaraja. Di sana, kami berencana mampir ke rumah mertua sahabatku di jaman putih abu – abu. Sebenarnya dia bersama istri dan anaknya berdomisili di Denpasar. Hanya saja, mereka juga tengah berlibur. Sudah lama juga kita tidak berjumpa.

Mereka tinggal di jalan Pattimura yang kabarnya merupakan Kampung Bugis di kota Singaraja. Istri sahabatku itu orang Madinah. Istrinya sempat sempat berseloroh bahwa keluarganya adalah imigran ilegal di Indonesia. Sambil berbincang mengenang – ngenang masa lalu yang rasanya baru terjadi kemarin, aku dan istri disuguhi sajian kue tradisional khas Bugis. Kue yang mengingatkanku pada kampung halaman di kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Sementara ketiga anakku sibuk memberantakan mainan di rumah mertua Cokel, sapaan sahabatku itu.

Sebelum meninggalkan kediaman mereka, aku dan istri menyempatkan shalat Dzuhur dan Ashar di Jamak qasar secara bergantian. Tidak bisa berjamaah, karena harus adalah salah satu dari kami yang bertugas mengawasi ketiga anak yang lucu tersebut.

****

Kapal Ferry yang melayani penyeberangan Ketapang - Gilimanuk.
Kapal Ferry yang melayani penyeberangan Ketapang – Gilimanuk.

Menelusuri perjalanan dari Singaraja menuju pelabuhan Gilimanuk, kami kembali beberapa kali bertemu dengan kerumunan masyarakat Bali yang tengah merayakan Hari Raya Kuningan. Beberapa perempuan mengenakan kebaya khas Bali. Di antaranya cukup banyak yang seksi dalam berkebaya, memperlihatkan belahan payudara mereka. Beberapa juga bawahan kain dengan belahan yang cukup tinggi, memperlihatkan bagian paha mereka saat berjalan. Di atas kepala mereka ditandu sesajen berupa aneka ragam buah, seperti jeruk, apel, anggur dan mangga.

Sempat pula mobil kami melewati rute di perbukitan yang dihiasi tebing di satu sisi dan jurang pada sisi yang lain, namun tidak seseram rute sebelumnya yang kami lewati waktu menuju Denpasar. Di jalur itu, ada pula kerumuman monyet liar di pinggiran jalan. Mereka tengah sibuk menanti atau bahkan sudah ada yang mengunyah makanan dari para pengendara kendaraan yang sengaja berhenti. Di sini hukum ekosistem alam nampak kasat mata.

Sekitar pukul tiga sore mobil kami tiba di Pelabuhan Gilimanuk, siap meninggalkan Bali menuju Banyuwangi. Kembali ke Jakarta dengan memori tentang Bali dimana laut dan pantai, gunung dan hutan, danau dan kedamaian, masyarakat dan budaya, hingga hewan – hewan seraya menemukan kedamaian dan saling bersinergi untuk memancarkan keindahan.

Terima kasih Allah SWT atas anugerahMu yang luar biasa ini. Alhamdulillah.

2 Replies to “Bab 7 : Bali Menebar Keindahan di Sepanjang Jalan”

  1. Saya Irwan teman SDnya hidayat salam (cokel).

    Bolehkah saya memperolwh kontaknya Hidayat? Kami ada grup teman SD di Makassar.

    Terima kasih

    1. Terima kasih atas emailnya, mas bro. Hanya saja saya tidak etis kalau memberikan langsung ke Anda, coba deh langsung colek YBS di akun FBnya dengan nama Hidayat Salam. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s