Bab 8: Kapal Ferry Ketapang – Gilimanuk

Kapal Ferry yang melayani penyeberangan Ketapang - Gilimanuk.

Kapal Ferry yang melayani penyeberangan Ketapang – Gilimanuk.

Sekitar 19 tahun kemudian, aku akhirnya bisa kembali berada ke Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi . Hari itu tanggal 26 Desember 2014. Sempat ada kekhawatiran terjadi antrian panjang mengingat tinggal beberapa hari jelang puncak pergantian tahun. Syukur, hal itu tidak terjadi.

Waktu masih sekitar pukul delapan pagi di Pelabuhan Ketapang, saat ada sedikit antrian menuju pintu loket pembayaran. Hanya beberapa menit saja, hingga seruan petugas melalui lubang di kaca loket terdengar, “Seratus lima puluh ribu.”

Ternyata hanya mobil yang dihitung dan dikenai biaya menyeberang. Sementara jika di Pelabuhan Gilimanuk ada tambahan retribusi Rp 2 ribu.

Selepas membayar, mobil kembali harus antri dalam beberapa lajur. Kami sendiri menunggu meski tidak seberapa lama, hanya sekitar 10 – 15 menit. Lalu ada seorang bapak berusia sekitar 60 tahun turun dari Honda Freed yang parkir tepat di depan mobil kami. Ternyata di belakang kami adalah mobil putranya yang juga mengendarai Nissan Grand Livina SV AT berkelir putih.

Sejenak bapak yang menetap di Surabaya itu bercerita penuh bangga pada pilihan brand mobilnya. Lalu ia bercerita hal lain, tanpa perduli aku menaruh atensi pada ceritanya. Tentang hobinya turing bermobil atau hobi menyelam hingga ke luar negeri. Ia juga bercerita tentang mobil putih itu yang ia belikan untuk putranya, meski ia sebenarnya telah berkeluarga dan berusia 36 tahun. Beberapa hal lain penuh kebanggaan ia ceritakan, hingga lambaian tangan para petugas mengarahkan mobil – mobil untuk maju dan membentuk lajur baru.

Sambil nunggu antrian naik ke kapal ferry, selfie dulu bersama istri tercinta dan si bungsu Keanu.

Sambil nunggu antrian naik ke kapal ferry, selfie dulu bersama istri tercinta dan si bungsu Keanu.

Sebelum naik ke kapal ferry, nampak beberapa orang berkeliling menawarkan jajanan nasi kuning ataupun nasi putih dengan lauk seadanya dalam kemasan kotak berbahan plastik. Harganya cuma lima ribu rupiah. Awalnya kami khawatir membeli, tapi kondisi perut yang koroncongan membuat tidak ada pilihan. Rasanya, lumayanlah untuk menutup rasa lapar dengan harga hemat.

Di pelabuhan Ketapang ataupun Gilimanuk berlaku sebuah aturan unik dalam mengatur antrian mobil yang ingin menyeberang. Mobil yang datang lebih dulu atau antri paling depan tidak otomatis diberangkatkan duluan. Semuanya bergantung pada kemauan dan arahan petugas jaga. Kami sendiri termasuk yang beruntung, baik saat menuju atau arah balik dari Bali, bisa “menyalip”.

Saat matahari pagi semakin meninggi di pelabuhan Ketapang, mobil kami pun melaju perlahan menuju kapal ferry. Di pinggir kanan dan kiri kapal nampak budaya yang masih terus bertahan turun temurun. Anak – anak kecil berlompatan dari jembatan lalu menyelam, mengejar kepingan koin yang dilempar para penumpang kapal.

Lama penyeberangan sekitar satu jam, namun bisa lebih. Di dalam kapal, jarak parkir antara satu mobil dengan mobil lain cukup rapat, hingga penumpang tidak mungkin keluar dari pintu. Istriku yang ingin naik ke anjungan pun harus keluar dari jendela mobil.

Saat tiba atau meninggalkan Pelabuhan Gilimanuk, standar kerja petugas tetap diberlakukan. Mulai dari pemeriksaan STNK dan SIM, lalu KTP hingga pertanyaan dalam rangka apa dan berapa lama ke Bali. Bahkan saat dari arah Pelabuhan Gilimanuk ke Pelabuhan Ketapang pada tanggal 28 Desember 2014, ada sedikit momen tegang kuhadapi.

Seorang petugas polisi jaga berkumis tebal dengan mata agak kemerahan menyambut jelang pintu loket. Ia beberapa kali memperhatikan wajahku di SIM dan secara langsung. Ia menatapku penuh curiga seolah aku adalah seorang teroris atau penjahat kelas kakap. Bahkan setelah melewati loket , kulihat dari spion ia tetap memperhatikan mobil kami.

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Travelling and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s