Bab 10: Touring de Jawa Timur

Searah jarum jam dari atas ke bawah: Bakso President, Rawon Pasar Samaan, aku, Bunda dan Keanu di Kediri.

Searah jarum jam dari atas ke bawah: Bakso President, Rawon Pasar Samaan, aku, Bunda dan Keanu di Kediri.

Matahari perlahan mulai meninggalkan posisi kerjanya di atas langit Banyuwangi. Isi perut kelima penumpang Grand Livina berkelir putih itu pun mulai berteriak minta diisi. Sempat kami mampir di sebuah rumah makan yang dirujuk oleh bunda, hasil menjelajah di internet. Sayang kerumunan lalat yang terperangkap di lemari makanan membuat selera makan kami buyar.

Dalam perjalanan meninggalkan kota Banyuwangi, kami melewati sebuah rumah makan. Letaknya di pinggir jalan dan ternyata milik Denada, rapper wanita Indonesia. Rumah makan itu sepertinya hanya pendukung kegiatan bisnis karaoke yang terletak di bagian belakang bangunan.

Bunda lantas memesan menu nasi goreng. “Tidak pedes yah, soalnya buat anak-anak.”

Cukup lama kami menanti nasi goreng pesanan itu hadir di meja. Lebih dari 15 menit rasanya, sebuah pelayanan yang cukup mengecewakan. Terlebih kemudian nasi goreng yang harganya Rp 17.500 per porsi itu rasanya pedas dan tidak lebih enak dibanding nasi goreng rumahan. “Pantasan sepi,” kataku dalam hati.

Kiri: Kakak Oka, Rasy dan ayah; Atas: Keanu dan bapak juru parkir di bakso President, Bawah: Makam Mbak Kakung.

Kiri: Kakak Oka, Rasy dan ayah; Atas: Keanu dan bapak juru parkir di bakso President, Bawah: Makam Mbak Kakung.

Selepas pengalaman kuliner kurang menyenangkan, perjalanan dilanjutkan menuju kota Jember. Di kotanya “mas Anang” ini kami tiba sudah malam, setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam.

Di seberang sebuah SPBU sebelum pusat kota Jember terdapat sebuah hotel. Letaknya di seberang kanan jalan dari arah Banyuwangi. Harga per kamar lumayan murah, Rp 110 ribu sudah ada fasilitas AC dan tivi kabel. Untuk yang berfasilitas air panas di kamar mandi hanya Rp 150 ribu. Harga makanan di hotel ini juga terhitung murah, rata-rata hanya Rp 10 ribu – Rp 15 ribu per porsi.

Hanya saja hotel ini seperti tempat “nganu”. Bayangkan, kamar-kamar di depan kamar kami, pergantian kendaraan baik mobil dan motor bisa sampai dua hingga tiga kali. Sepertinya setelah “tai macan” terbuang, pasangan tanpa status legal itu pergi dan berganti dengan pasangan berikutnya.

Sekitar pukul tujuh pagi, setelah sarapan di lobi hotel perjalanan di lanjutkan. Kali ini menuju kota kelahiranku, Malang. Bunda kuajak dia mencicipi rawon paling juara rasanya. Lokasinya di dalam pasar rakyat Samaan, tepat di depan kompleks pemakaman. Harganya pun kelas wong cilik.

Setelah perut kembali terisi untuk menaikkan tenaga. Aku mengajak bunda dan ketiga anak kami ziarah ke makam kakek, ayah dari mamaku. Waktu beliau masih hidup, aku memanggilnya dengan sebutan “mbah kakung”, sebuah sapaan khas Jawa Timur.

Pada istriku sempat pula kutunjukkan beberapa rumah bersejarah di belakang kantor balai desa di jalan Kaliurang Barat yang dulunya milik keluarga kami, sebelum dijual.

Ke Malang tanpa menjajal bakso Presiden katanya belum lengkap. Apalagi bunda memang penggila bakso kelas wahid. Setir pun diarahkan menuju pusat bakso Presiden yang terletak di pinggiran rel kereta api. Mobil-mobil berantrian di lajur kecil itu dengan tujuan yang sama.

Bunda pun turun dari mobil, namun tidak berapa lama ia kembali. “Antriannya panjang, tapi kita ke cabang lain saja. Tadi pegawainya bilang.”

Aplikasi “Waze” di smartphone Android pun kembali menunjukkan jasanya. Aplikasi itu bisa menunjukkan lokasi-lokasi jalan tikus menuju cabang bakso Presiden di jalan Pandean.

Rumah makan bakso khas Malang itu nampak sepi. Mungkin karena waktu itu sudah melewati jam makan siang. Sisa-sisa pengunjung sebelumnya masih nampak. Mulai dari bekas tisu dan posisi beberapa kursi yang tidak lagi tertata rapi. Menurut bunda, rasa baksonya tidak semegah namanya alias kurang pas di lidah kami.

Perjalanan kuliner di Malang sempat dilanjutkan dengan makan durian. Sayangnya mengecewakan, sebuah durian yang terlanjur dibuka ternyata dipenuhi dengan ulat.

Dari Malang ke Kota Batu, kotanya “Mbak KD”, akses jalan macet di beberapa titik. Jalurnya menanjak, terlebih menuju kawasan wisata Jatim Park. Kami juga sempat melihat pemandangan tidak biasa, karena kendaraan taksi bermerek dagang Citra menggunakan Toyota Avanza dan Suzuki Ertiga sebagai angkutan publik. Mungkin target pasar tertinggi adalah segmen keluarga, sehingga butuh tiga baris kursi di dalam kabin.

Pemandangan alam dan udara sejuk menemani perjalanan dari kota Batu menuju Kediri. Fasilitas pendingin udara di kabin pun dimatikan dan kaca mobil dibiarkan terbuka.

Dibutuhkan sekitar dua perjalanan untuk sampai ke kota Kediri. Kami tiba sekitar pukul tujuh malam dan melewati monumen Simpang Lima Gumul (SLG) yang merupakan ikon kota. Monumen yang dibangun menyerupai Arc de Triomphe di Paris ini diresmikan tahun 2008, dengan biaya lebih dari Rp 300 miliar. Tidak heran kemudian diduga ada korupsi anggaran di dalamnya.

Desain kota Kediri juga terasa nyaman dan indah. Kami sendiri menyesal tidak menginap di kota ini dan malah meneruskan perjalanan selama satu jam ke depan ke kota Nganjuk.

“Wah, keliru. Di Kediri itu jauh lebih enak pilihan penginapan dibanding di Nganjuk,” kata seorang teman di jejaring sosial.

Dan yah, jadilah kami menginap di penginapan yang paling tidak enak sepanjang perjalanan. Di kamar tanpa AC dan mirip dengan desain ruangan kamar penyiksaan di film-film bertema komunis. Prosedur menginapnya pun lebih ribet, aku dan bunda harus meninggalkan KTP kami di resepsionis. Bahkan pegawai resepsionis seorang ibu sekitar 50tahunan dan berpostur tinggi mirip sosok penyiksa di serial Detektif Conan menyarankan aku mengambil dua kamar.

“Gila, apakah aku harus membiarkan anak-anakku yang masih kecil-kecil tidur sendiri?” kataku protes. Akhirnya ibu itu membolehkan.

Di kamar, aku dan bunda harus mendorong lemari untuk menyatukan dipan single bed. Saatnya terlelap di penginapan yang paling tidak enak sepanjang perjalanan touring Jawa Bali.

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Travelling and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s