Bab 12: Tour De Jawa Tengah

Bersama mertua di alun-alun Ciamis, 2 Januari 2015, 5:25 PM.

Bersama mertua di alun-alun Ciamis, 2 Januari 2015, 5:25 PM.

Melintasi kota Surakarta senantiasa mengingatkan akan keteduhan a la Jawa Tengah. Saat melewati jalan Slamet Riyadi, pelintas seperti kami merasakan bagaimana pemerintah dan masyarakatnya nampak berusaha mempertahankan warisan budaya, namun tetap juga berupaya mengakomodir sentuhan modernisasi. Sebuah usaha yang tentu tidak mudah.

Jalanan di siang itu jelang pergantian tahun 2014 ke 2015 nampak macet. Surakarta yang dulu bersahaja dengan seliweran sepeda jengki, kini menjelma laksana kota-kota lain. Kendaraan bermotor roda dua maupun roda empat memadati jalanan.

Seperti diutarakan di atas, kami hanyalah pelintas. Dari Timur menuju ke Barat. Sayang petunjuk bagi pelintas nampak kurang ramah. Alhasil kami tersesat cukup lama di antara kemacetan, ruas jalan yang kecil dan lintasan rel kereta api. Lebih dari satu jam waktu yang terbuang, sebelum mobil dapat melaju keluar menuju Yogyakarta.

****

Di Yogyakarta, memori akan kebiasaan istriku menguak. Ya, dia adalah pecinta kuliner sejati. Mata dan akses digital di smartphone-nya telah berubah laksana sensor yang bisa mendeteksi tempat-tempat kuliner favorit. Kali ini targetnya Bakpia Kurnia Sari yang ada di jalan Glagahsari.

Di tengah kondisi baterei di smartphone kami berdua yang mulai meredup di perjalanan, pun demikian dengan power bank, secarik asa untuk membahagiakan istriku tidak juga hilang. Jujur sempat dihinggapi rasa mangkel juga di tengah suasana Yogya yang panas. Sebuah aplikasi pemandu jalan kembali jadi andalan menuju lokasi yang diinginkannya, dan akhirnya ketemu meski mobil harus parkir cukup jauh. Rupanya toko bakpia ini memang populer.

Sama dengan di Malang, kami melihat Toyota Avanza menjadi taksi di kota pelajar itu. Kali ini dengan nama atribut Kosti. Mungkin benar asumsi kami, di Jawa Timur dan Jawa Tengah, segmen penumpang keluarga lebih menjual dibanding segmen individual seperti di Jakarta, mungkin.

Selepas membeli beberapa pak bakpia, mobil kami terus melaju melintasi jalur trans Selatan Jawa. Kali ini menuju kota Kebumen. Sekitar jam enam malam, mobil kami melintasi pintu gerbang kabupaten Kebumen diiringi hujang intensitas sedang.

Di sini aku dan istri sempat menggerutu kecil, karena ternyata untuk sampai ke pusat kota dari pintu gerbang jaraknya cukup jauh. Baru sekitar jam delapan malam, kami bisa tiba dan menemukan di penginapan di pusat kota. Rasa kesal ini cukup terbayar kemudian, karena kami bisa menemukan penginapan yang lumayan nyaman, murah dan enak. Dengan harga Rp 150 ribu, kamar sudah berpendingin udara, kamar mandi dalam, televisi, dapat sarapan pagi dua piring, dua teh hangat manis malam dan keesokanpaginya, termos berisi air panas dan dua bungkus kopi kemasan.

****

Pagi itu sudah tanggal 31 Desember 2014, dan mobil kami kembali melaju membelah jalur trans Selatan Jawa. Harapan untuk menemui jalanan yang mulus ternyata tidak sepenuhnya didapatkan. Sebagian jalur trans Selatan Jawa yang penuh kelokan di wilayah perbukitan memang ada yang mulus, namun ada juga yang bergelombang dan cukup mengganggu perjalanan. Itu belum termasuk penutupan sebagian badan jalan yang rusak atau tengah diperbaiki.

Rasy (kiri), Oka (belakang), Keanu (kanan).

Rasy (kiri), Oka (belakang), Keanu (kanan).

Sekitar tengah hari mobil pun masuk Ciamis, kampung halaman istri. Kami sempat makan siang, sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah orang tuanya. Di perjalanan, rombongan pemotor atau lebih trend disebut bikers dari kalangan komunitas atau klub motor. Jumlahnya sangat banyak dengan kawalan polisi. Meski demikian, perilaku sebagian dari mereka tetap seperti penjahat atau penguasa jalan. Hampir seluruh badan jalan berusaha mereka ambil, sambil mengangkat kaki atau seperti berusaha memukul kendaraan yang datang dari arah berlawanan.

Rombongan pemotor dalam jumlah yang sangat besar dan panjang itu pasti tengah menuju Pangandaran untuk merayakan momen pergantian tahun.

Setelah melalui situasi kurang menyenangkan, kami pun tiba di rumah mertuaku. Sambutan hangat seperti biasanya terjadi. Bagiku, satu mimpi petualangan telah terkabul. Setelah melintasi ribuan kilometer dan menyeberang pulau, aku sebentar lagi berhasil mengabulkan permintaan istri untuk merayakan momen pergantian tahun di kampung halamannya.

“Enak juga tahun baru di Pangandaran yah, ayah,” kata istriku beberapa kali.

Momen itu sebentar lagi. Saat sore telah datang dan dilanjutkan malam, dia belum juga bergegas. Okelah tidak ke Pangandaran yang pasti super macet, tapi setidaknya momen pergantian tahun akan berjalan di Ciamis atau di Tasikmalaya.

Tapi seperti biasa atas nama cinta dan upaya, dia malah memilih tertidur setahun. “Capek, yah,” katanya.

Baiklah. Grrrr… :d

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Travelling and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s