Berdiri 1,5 Jam di Commuter Line Itu Sesuatu

P_20141205_200032Rabu, 19 Agustus 2015, waktu hampir mendekati Magrib di kawasan stasiun Rajawali di Jakarta Utara. Kedua kaki pun sudah mulai pegal melewati perkampungan dan gang-gang kecil untuk sampai ke sana. Lingkungan rakyat pinggiran dengan bongkaran bangunan menjadi hiasan yang tidak berubah untuk disimak, seperti di kawasan Karet, Jakarta Pusat di era tahun 1990an hingga sekarang.

Di stasiun, ternyata dugaanku salah. Ini kali pertama soalnya aku naik kereta api dari stasiun ini, sembali mencari pengalaman baru. Ya, aku memang kerap merindukan aroma kearifan saat bertemu banyak orang, namun tidak di waktu seperti ini. Ternyata penumpang menuju stasiun Tanah Abang dan Manggarai sudah berjubelan di stasiun Rajawali.

Kereta pun tiba, dan di dalamnya sudah penuh penumpang. Alih-alih bisa dapat duduk dan menikmati situasi perjalanan di luar kereta, yang ada para penumpang saling berebut sebatas ruang pijak kaki untuk berdiri tegak. Setiap kereta akan mulai memasuki stasiun dan meninggalkan stasiun berikutnya, banyak penumpang nampak kehilangan keseimbangan karena laju kereta yang tidak stabil saat itu.

Saat kereta berhenti, ada fenomena unik lainnya. Penumpang yang sudah berjubel di dalam kereta banyak yang meneriakkan dua kalimat, kira-kira bunyinya “Woi, sudah gak muat, jangan dipaksa!” dan “Woi, (dahulukan) yang turun dulu, euy.”

Seruan itu hanya sebatas seruan, karena dari luar kereta, calon penumpang lain terus merangsek ke dalam. Mereka ingin tiba di rumah secepatnya, setelah lelah berjibaku mencari nafkah sepanjang hari.

Rabu itu, perjalanan ke rumahku di daerah Citayam – Depok jadi teramat panjang. Kemudian waktu aku baru tahu, ada rel anjlok di wilayah stasiun Manggarai yang membuat durasi perjalanan makin lebih panjang.

Perempuan jilbab kecil yang berdiri di belakangku kerap kali belingsatan, membuat cobaan perjalananku kali ini semakin berat. Hampir dua jam aku berdiri, sebelum kereta masuk di stasiun Citayam.

Dari pengalaman perjalanan kali ini, harus aku akui mereka yang setiap harus bisa berjibaku di dalam kereta dari stasiun Rajawali dan stasiun-stasiun sebelumnya menuju stasiun Bogor, dengan posisi berdiri dan tumpuk-tumpukan penumpang selama berjam-jam demi menghidupi keluarganya.

Aku sendiri rasanya belum sanggup, kedua lututku sudah bergetar sejak di stasiun Pasar Minggu. Hebatlah mereka, semoga ada solusi untuk fasilitas transportasi yang lebih baik dari para pemangku kebijakan di negeri ini. Entah dengan menambah jumlah Commuter Line, ataupun kebijakan positif lain.

Semoga.

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Umum and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s