Catatan Dari Konser Bon Jovi Live! @ Jakarta

P_20150911_222621Teruslah berseru, karena saat berbisik pun Tuhan akan mendengar seruanmu. Hingga suatu saat nanti, entah kapan dan bahkan bisa puluhan tahun ke depan, bisikanmu itu akan menjadi doa yang terkabulkan. Sebuah kejutan yang membuatmu bersyukur.

Saya lupa kapan tepatnya waktu mulai suka mendengar musik Bon Jovi, tapi yang pasti beberapa hits dari album ketiga (Slippery When Wet ­- 1986 ) seperti You Give Love a Bad Name dan Livin’ on a Prayer bukanlah irama nada yang asing bagi remaja generasi 1990an sepertiku.

Sebagai penggemar berat musik Bon Jovi, saya termasuk yang terlambat membeli kasetnya. Baru di album kompilasi hits terbaik Cross Road (1994). Maklumlah di era masih berseragam putih abu-abu, musik Bon Jovi masih bisa minta diputarkan melalui radio lalu direkam di kaset kosong. Tapi dari sini mimpi itu berhembus, berharap suatu saat bisa menonton konser super band asal New Jersey.

Di tahun 1995, Bon Jovi akhirnya datang dan konser di Jakarta, di Ancol. Tidak lama berselang setelah album Cross Road dirilis. Sebuah obsesi besar bisa menonton konser dengan harga tiket termurah Rp 45 ribu dan termahal Rp 150 ribu, saat itu.

Sayang, mimpi itu gagal terwujud.

Sejak itu, bisikan berisi harapan itu tersimpan. Hingga 20 tahun kemudian (2015), Bon Jovi is back to Jakarta. Wow.

Tidak lama, kurang dari sepekan setelah pengumuman penjualan tiket online dibuka, saya langsung antusias memesannya. Kali ini tidak boleh terlewat lagi, saya harus nonton. Whatever it pays…

Di awal, saya ingin membeli tiket di Festival A yang seharga 1,25 juta, namun teman sekantor yang seumuran bilang, “Der, percaya deh sama gw, lo bakal capek kalau moshing-moshing di dekat panggung sambil berdiri. Gw pengalaman kemarin pas konser Metallica,” katanya.

Usulan itu akhirnya aku iyakan, apalagi temanku itu juga ternyata penggemar Bon Jovi. Dia juga membeli 2 jenis tiket yang sama di tribun termurah (tapi bisa duduk), satu tiket untuk istrinya. Harga tiketnya Rp 500 ribu plus pajak dan lain-lain jadinya lebih dari Rp 600 ribu.

Friday 11 Sept 2015: The Day has Come!

Waktu menjelang petang, saat saya tiba di masjid Al Bina – Senayan, tempat janjian dengan temanku itu. Suasana di sekitar Gelora Bung Karno saat itu sudah dipenuhi lautan manusia dan kendaraan. Hari itu diprediksi lebih dari 40 ribuan penggemar Bon Jovi yang telah memborong ludes tiket konser “Bon Jovi Live!”.

Atributku rasanya era 1990an banget. Sepatu kulit ukuran ¾, kaos biru cerah yang rada norak bertuliskan “Be Yourself and You Can Be Anything” (lihat lirik We Weren’t Born to Follow), jaket dan tas kulit selempang yang keduanya berwarna hitam. Menurutku ini era atribut yang pas mewakili lagu Blaze of Glory dan Wanted Dead or Live. Serasa versi retro William H. Bonney aka Billy the Kid di film Young Guns II (1990). Lihat gaya Jon Bon Jovi di sini.

Sudah hampir pukul ½ 8 malam, saat saya bersama teman dan istrinya bisa masuk ke area konser, setelah berantrian padat di jalur masuk pemeriksaan tiket. Itupun setelah motong lajur antrian, disoraki orang-orang, dan sempat ditarik seorang petugas jaga untuk kembali ke antrian. Untunglah akhirnya bisa masuk dengan baju penuh peluh.

Sekitar sejam menunggu, tepatnya 5 menit selepas pukul ½ 9 malam, super band yang diawaki John Francis Bongiovi, Jr itu akhirnya tampil. Ada beberapa lagu baru yang ia bawakan, termasuk We don’t run. Buatku, ini kurang penting, sebab yang aku rindukan adalah kembalinya kepingan memori perjalanan masa silam alias lagu-lagu lawas Bon Jovi.

Beberapa lagu legendaris pun akhirnya dimainkan. Senang melihat Tico Torres yang terlihat begitu semangat menggebuk drum sepanjang konser berlangsung, senang melihat David Bryan memainkan sentuhan magisnya di dua keyboard sekaligus, serta tentunya suara dan goyangan panggung yang khas dari pria berusia 53 tahun (2 Maret 1962) itu.

Masa putih abu-abu itu adalam kesemestaan, masa terakhir dimana kita melihat dunia sebagai sebuah kesenangan tanpa beban, masa transisi menuju penataan beban hidup. Dan terima kasih sangat buat Bon Jovi yang telah banyak menginspirasi dan mewarnai perjalanan para remaja di era 1990an.

Konser malam itu tidaklah sempurna, karena beberapa lagu legendaris lain di masaku seperti Bed of Roses (lagu jatuh cinta dan patah hatiku:d), Always dan Blaze of Glory tidak dimainkan. Meski demikian, saya tetap puas.

Let’s do the final dance, final moment, what a perfect life… Thanks, God. Lord you got to keep the faith.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s