Setya Novanto dan Filosofi Jawa

29810-ojo-lali-ojo-dumeh-ojo-ngoyoDalam salah satu filosofi Jawa tersebutlah “Ojo Lali, Ojo Dumeh, Ojo Ngoyo” yang kira-kira artinya “Jangan lupakan semua yang berjasa, jangan sombong dan jangan maksa (berusaha terlalu kuat). Ada banyak yang lebih berharga daripada uang.”

Dua hal pertama dalam filosofi di atas rasanya lebih mudah diterima, namun untuk hal ketiga lebih mudah diperdebatkan. Apalagi jika makna “memaksa” itu lebih berorientasi kegigihan. Setya Novanto misalnya adalah contoh yang baik dalam hal ini.

Soal kegigihan, Ketua DPR RI 2014 – 2019 ini berdasarkan ulasan di media Tempo (bisa lihat di sini dan di sini), pria kelahiran Bandung 12 November 1955 ini menjadi sosok yang sangat gigih memperjuangkan hidupnya. Mulai dari kisah penjual madu lalu menikahi anak jenderal, hingga menjadi pengusaha sukses. Setya pun dikenal sangat gigih dalam melobi, serta sangat licin berkelit dari jeratan hukum di negeri ini.

Tahun 2015 ini merupakan refleksi langkah gigih Setya. Padahal dia baru saja merayakan ulang tahun ke-60. Dia bisa saja terus berkelit dari jerat hukum yang menjadi kepiawaiannya selama ini, tapi tidak di mata masyarakat. Era digital ini membuat masyarakat lebih jeli dan kritis menelaah persoalan. Buktinya, tidak berapa lama trending topik #PapaMintaSaham di Twitter dan penggalangan petisi meminta Setya Novanto mundur dari jabatan ketua DPR di Change.org langsung direspon oleh puluhan ribu rakyat Indonesia kurang dari satu minggu.

Pada artikel ini, saya tidak ingin masuk lebih jauh ke dalam perspektif hukum salah benar. Toh, ini bukan kapasitas bidang saya.

Kembali ke filosofi Jawa di atas, saya jadi teringat dengan beberapa kawan dekat saya, khususnya mereka yang paling cerdas, mapan dan tercerahkan. Mereka begitu gigih memperjuangkan kualitas hidup, terus mencari dan berlari. Beberapa kali tercetus kecemburuan sekaligus kekaguman dalam diri saya pada pencapaian mereka, tapi itu dulu.

Sejak ketemu Yonna dan ia melahirkan anak-anak kami, cara pandang dan daya terima saya mengalami perubahan signifikan. Tanpa bermaksud menyebut jalan dan pilihan hidup saya paling benar, namun mereka telah membantu saya mengubah cara pandang untuk lebih ikhlas dan tidak terlalu ngotot dalam mengejar hidup. Saya mulai dapat semakin menerima menjadi orang biasa yang sederhana, seorang komuter dari pinggiran kota, tapi berbahagia.

Saya jujur belum pernah membaca buku “Between Ngoyo and Nrimo” yang ditulis Mohamad Sobary. Meski demikian judul karyanya itu masih senantiasa teringat di dalam benakku. Ya, IMHO, hidup memang perlu keseimbangan. Kita tidak boleh nrimo (pasif menanti takdir) dalam menjalani hidup, namun juga tidak boleh terlalu ngoyo (terlalu gigih mengejar hidup) sehingga bisa lupa diri.

Mungkin filosofi naik sepeda a la Albert Eistein bisa menjawab, bahwa manusia harus tetap bergerak tapi tidak perlu ngebut, bahaya.

“Life is like riding a bicycle. To keep you balance you must keep moving.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s