Malu Bertanya Nggak Sesat di Jalan

1921989_10152962606043847_7366680289579679985_nHidup itu laksana ujian kesenian dengan lembaran kertas kosong untuk diwarnai sesuai pilihan masing-masing.

Saya percaya pandangan di atas, termasuk ketika nekat mengajak istri dan ketiga anak kami yang masing-masing baru berusia tujuh tahun, tiga tahun dan setahun setengah pada tanggal 23 Desember 2014 untuk touring dari Jakarta menuju pulau Bali, via jalur darat mengendarai mobil. Sebuah pengalaman yang saya dan istri tidak akan pernah lupakan. Our live our adventure.

Untuk panduan perjalanan, kami mengandalkan aplikasi Waze di smartphone, selembar peta yang kami dapat di Rumah Makan Pringsewu Indramayu dan tentu saja orang-orang yang ditemui di perjalananJ. Tidak lupa memanjatkan doa dan memohon perlindungan dari Tuhan YME.

Sesat Pertama: Bertanya di Kawasan Bajing Loncat

blog2Waktu menjelang senja, saat mobil kami tiba di Tuban dari arah Semarang pada tanggal 24 Desember 2014. Saya sengaja memang memilih rute Daendels ini, sebuah jalan bersejarah yang pada saat pembangunannya memakan banyak korban anak negeri ini karena proses kerja paksa yang diterapkan sang perancang, Herman William Daendels.

Saat gelap mulai datang, kami tanpa sadar memasuki rute yang keliru. Mobil yang mestinya diarahkan memasuki Lamongan, malah bergerak ke arah lain. Sekitar satu jam mobil kami melintasi jalanan yang relatif sepi, minim penerangan jalan, jarak antar rumah cukup berjauhan, serta yang menambah kesan angker adalah hutan pohon Bakau di pinggir sepanjang kiri dan kanan badan jalan.

Jujur, perasaan kami jadi tidak enak. Sekitar pukul tujuh malam, kami mampir di sebuah rumah makan Padang di pinggir jalan untuk makan malam. Yang melayani sepasang suami istri.

“Pak, ini daerah apa yah namanya?” kataku.

“Brondong, mas. Kecamatan di Lamongan,” jawab sang bapak.

Seketika aku mengetik kata kunci “Brondong” untuk mencari informasi di smartphone. “Masya Allah, daerah ini ternyata salah satu tempat favorit para penjahat bajing loncat. Pantas,” kataku dalam hati.

Aku pun kembali bertanya ke bapak penjual. “Berapa lama lagi untuk sampai ke jalan raya utama, pak?”

“Sekitar sejam dari sini, lurus saja terus nanti akan ketemu gerbang pintu tol Gempol,” jawab sang bapak.

Segera aku ajak istri dan anak-anak kembali ke mobil setelah selesai makan. “Tempat ini harus segera ditinggalkan sesegera mungkin.”

Mobil aku pacu meski tidak maksimal, karena tetap mengedepankan faktor keselamatan berkendara. Hujan mulai turun melengkapi petualangan kami. Saya tiba-tiba ingat salah satu bacaan favoritku di masa kecil, 5 Sekawan karya Enid Blyton.

Sekitar pukul delapan malam, akhirnya mobil tiba pintu gerbang tol Gempol. “Syukurlah, satu titik petualangan paling menantang telah terlalui.”

Sesat Kedua: “Empat Jam, Gundulmu!”

Di Pandawa Beach. Oka dengan gaya khasnya, jari telunjuk tangan kanan di kepala, dan Rasy yang lebih suka cuek pas difoto.

Di Pandawa Beach. Oka dengan gaya khasnya, jari telunjuk tangan kanan di kepala, dan Rasy yang lebih suka cuek pas difoto.

Sekitar pukul 10 malam (masih di tanggal 24 Desember 2014), saya sempat mampir di sebuah mini market ke arah Malang.

Hal ini sebenarnya melanggar kesepakatan. Mestinya perjalanan harus dihentikan maksimal pukul tujuh malam, sehingga pukul delapan malam kami sudah bisa berada di kamar hotel untuk beristirahat.

Apa lacur, saat jam itu kami masih berada di salah satu titik yang paling mendebarkan dalam perjalanan ini, di Brondong.

Di mini market itu, saya bertanya kepada petugas kasirnya. “Ketapang kira-kira berapa lama dari sini?”

“Naik mobil paling sekitar empat lagi,” katanya.

“Itu berarti sekitar jam dua dinihari kami akan sudah tiba di pelabuhan Ketapang untuk menyeberang ke pulau Bali, tiba di pelabuhan Gilimanuk,” kataku dalam hati.

Ya, empat jam, tapi “Empat jam, gundulmu.”

Ternyata jawaban petugas kasir itu asal nyeplak. Pukul tiga dinihari, kami baru tiba di SPBU dengan tempat peristirahatan terbaik yang pernah kami lihat di Indonesia, SPBU Utama Raya di Probolinggo.  SPBU dilengkapi aneka jajanan dengan harga terjangkau, ada kamar mandi umum dengan fasilitas air panas, serta penginapan pula.

Sempat terpikir untuk nginap, tapi tanggung sudah dinihari menjelang subuh. Hebatnya, anak-anakku masih terjaga.

Sesat Ketiga: Berburu Ayam Betutu Pak Man Di Denpasar

Tanggal 27 Desember 2014, kami sudah sempat menginap di jalan Gunung Salak Utara. Lokasinya tidak jauh dari jalan By Pass Sunset Road di Denpasar. Bahkan malamnya sempat nyasar-nyasar kembali ke penginapan, mengingat jalanan di Denpasar yang banyak berliku-liku.

Kami berhasil kembali ke penginapan, setelah saya beberapa kali mondar-mandir bertanya di sepanjang jalan.

Kembali ke tanggal 27 Desember 2014. Sekali lagi, aplikasi Waze di smartphone gagal memandu kami dengan baik di Denpasar. Targetnya adalah Rumah Makan Ayam Betutu Pak Man di jalan Kubu Anyar, Kuta. Ternyata, tidak jauh dari bandara udara Ngurah Rai lokasinya.

Saya akhirnya berhasil memenuhi keinginan istri makan di tempat tersebut, setelah beberapa kali bertanya sampai nyaris menyerah mengingat kemacetan kota Denpasar yang cenderung berhenti.

Tapi syukurnya, dapat menemukan pada akhirnya. Liburan dua tahun lalu itu pun akan selalu menjadi kenangan yang tidak terlupakan. Semua destinasi yang ingin dituju berhasil terpenuhi dengan peta manual, peta di smartphone dan tentu saja “peta” dengan bertanya pada orang-orang di sepanjang jalan…

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Travelling and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s