NIMBRUNG OPINI JELANG PILKADA DKI JAKARTA

sumber foto: broadbandtvconnectasia.com
sumber foto: broadbandtvconnectasia.com

Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta baru berlangsung tahun 2017, tapi genderang perang para kandidat sudah ditalu sejak sekarang. Media mainstream dan media sosial semakin hiruk-pikuk dengan perang pandangan dan pendapat masing-masing kandidat.

Buat saya yang bukan rakyat ber-KTP Jakarta, hal ini tidak menjadi soal dan tidak ingin turut campur. Sama tidak pentingnya dengan membesar-besarkan urusan LGBT. Bukan karena tidak peduli, lebih kepada tidak ingin semakin membesarkan hal yang kurang penting, setidaknya buat saya pribadi.

Yang membuat saya terusik adalah pandangan ras dan agama yang masih menjadi “senjata” beberapa pihak. Sebenarnya jawabannya sederhana untuk hal itu. Mengenai “ras’ itu bukan otoritas manusia yang mengatur, itu takdir Tuhan yang punya Kuasa Menciptakan. Jadi kalaupun seseorang memiliki ras apapun juga, siapapun itu tidak punya hak mengkritisinya. Itu otoritas Tuhan.

Masak Anda yang hanya lebih kecil dari sebutir debu di alam semesta ini berani mengkritik Tuhan, memang seberapa hebat Anda?

Soal agama dan ajarannya, itu urusan internal dan pilihan masing-masing. Bahkan Rasulullah SAW tidak bisa membawa paman tercintanya Abu Thalib memeluk Islam, atau Nabi Nuh yang tak sanggup membuat anak dan keluarganya beriman.

Saya jadi ingat sebuah petuah di media sosial seorang kawan karena hal itu. Bahasanya, “… Sebab ketaatan yang lahir dari kesadaran, tidak akan pernah bisa diturunkan atau diwariskan. Tidak ada yang bisa membuat seseorang menjadi “indah” kecuali dirinya sendiri.”

Sederhananya, jika agama adalah kebenaran dari Tuhan, maka agama adalah karunia transendental. Kalau dalam Islam, soal keimanan merupakan berkah dan karunia dari Allah SWT. Karenanya menjadi benar adalah proses pencarian karunia Tuhan, maka tidak ada satupun mahluk bisa mengklaim lebih benar dari yang lain. Yang adalah proses mencari karunia kebenaran masing-masing sebagaimana diilustrasikan dengan baik oleh Paulo Coelho di The Alchemist.

Saya sendiri pun mengaku belum masuk kategori religius sesuai kaidah agama yang saya yakini, meski di sisi lain saya harus mengakui masih mengkritisi aliran Syiah, yang dari literasi minim yang saya ketahui tidak mengakui Khulafaur Rasyidin, dan menganggap Islam sebatas transisi religi berdasarkan hubungan darah (ahlul bait). Syiah pun mengkultuskan peristiwa Karbala yang tidak tertera dalam Rukun Islam dan Rukun Iman.

Saya tidak menyebut Ahlus Sunnah Wal Jamaah lebih benar, tapi mengkritisi pengikut Ahlul Bait yang terkesan lebih eksklusif dengan menghilangkan jejak sejarah perjuangan dan kesetiaan para sahabat Nabi Muhammad SAW.

Di luar perdebabatan Sunni – Syiah, perbedaan ras dan agama, masalah LGBT, semuanya kembali kepada individu masing-masing. Pun demikian dengan pertarungan menjelang Pilkada DKI, sebagai satu individu anak bangsa Indonesia, saya berharap yang terbaik untuk rakyat banyak DKI Jakarta yang menang. Tidak harus menggunakan senjata “agama” dan “ras” untuk menjatuhkan lawan. Dua hal itu, sekali lagi, bukan otoritas mahluk. Janganlah takabur melangkahi Tuhan.

Saya pribadi senang Indonesia kini semakin banyak pemimpin baik seperti Jokowi, Ahok, Ridwan Kamil, Tri Rismaharini, Prof. Nurdin Abdullah, Yoyok Riyo Sudibyo, Dedi Mulyadi dan Abdullah Azwar Anas.

Ada juga yang pandai bicara dan memainkan logika berpikir, tapi rekam jejaknya lebih untuk memperkaya diri sendiri. Ada juga yang suka menjelek-jelekkan yang lain dan membuat masyarakat semakin muak. Lucu pula hal lain di negeri ini, ketika para penjahat masuk Islam lantas seolah dimaafkan, padahal bisa jadi itu “Islam KTP” doang, om tante…

Lagi-lagi, kualitas iman itu dalam ada di dalam hati dan menjadi cermin diri sendiri. Bukan cermin buat orang lain, kalau bahasanya mah…

Buat yang masih mau maju Pilkada di DKI Jakarta, titip pesan yah, “Tidakkah lebih baik bertarung dengan tidak dengan mencari-cari kesalahan, toh, di bumi manusia memang tidak ada yang sempurna…”

Salam,

Bogor, 12 Maret 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s