Review Batman v Superman: Dawn of Justice

sumber foto: http://www.blackfilm.com/read/wp-content/uploads/2015/12/Batman-v-Superman-Dawn-of-Justice-picture.jpg
sumber foto: http://www.blackfilm.com/read/wp-content/uploads/2015/12/Batman-v-Superman-Dawn-of-Justice-picture.jpg

Selama 2 jam 25 menit, Rabu (23/3), saya sudah menghabiskan waktu untuk menonton Batman v Superman: Dawn of Justice di Cibinong City Mall (Bogor). Empat hari kemudian Minggu (27/3), saya kembali nonton di Blitz Pacific Place, tapi kali ini diajak dan dibayarin.

Setelah menonton, kesimpulan saya film ini biasa saja cenderung mengecewakan. Ini alasannya…

Adegan awal adalah kilas balik kehidupan Bruce Wayne kecil yang ditinggal wafat oleh kedua orang tuanya, karena ditembak oleh perampok di jalan. Bruce kecil yang sedih berlari ke hutan dan jatuh ke lubang yang ternyata merupakan gua kelelawar.

Di sini, cerita mulai putus benang merahnya dari seluruh cerita film Batman yang pernah saya tonton, karena Wayne kecil berhasil keluar dari lubang tersebut dengan diarak terbang oleh kerumunan kelelawar.

Saya jadi tetap berkesimpulan jika pemeran Batman terbaik sejauh ini adalah Christian Bale dengan trilogi film Batman yang pernah dibintanginya.

Kembali ke Batman v Superman: Dawn of Justice. Setelah adegan Wayne kecil terjatuh, adegan tiba-tiba melompat ke masa depan saat Wayne dewasa (Ben Affleck) melihat pertarungan Superman(Henry Cavill) vs Jenderal Zod di kota Metropolis, dan menganggap Superman sebagai “kebohongan yang indah “  (beautiful lies), karena dianggap biang kerok yang menghancurkan kota Metropolis.

Lho, bukannya Batman kotanya selama ini di Gotham…

Sejak peristiwa pertarungan dua mahluk kripton tersebut, Batman jadi benci pada Superman, dan memotivasinya untuk mencari tahu kelemahan man of steel. Dan yup, sebagaima sudah jadi rahasia publik sejagat, kelemahan Superman adalah batu kripton.

Tidak mudah Bruce Wayne alias Batman berburu batu kripton. Dia harus bersaing dengan orang super kaya lainnya Alexander Joseph Luthor alias Lex Luthor yang diperankan Jesse Eisenberg.

Di sisi lain, Clark Kent alias Superman ternyata cukup berang dengan aksi  main hakim sendiri Batman. Perseteruan terselubung kedua superhero inilah yang dimainkan sebagai kartu AS oleh Lex Luthor untuk mengadu domba keduanya bertarung sampai salah satunya mati.

Luthor menyebut peristiwa itu sebagai pertarungan gladiator terbaik sejagat semesta versi DC Comics, pertarungan dewa versus manusia, pertarungan malam versus siang. Siapa yang menang? Zack Snyder sang sutradara ingin menunjukkan jika kecerdasan, kemauan dan kerja keras dapat mengalahkan bakat alami. Seperti kata Batman, “Orang tuaku mengajarkan berbeda, kita harus memaksakan keadaan untuk dapat memenangkan pertarungan.”

Alfred sang pelayan setia Bruce Waynepun pun sangat meragukan Batman dapat mengalahkan Superman, namun dengan filosofis Bruce Wayne menjawab, “… Aku terlahir dari keluarga pemburu.”

Dan jadilah pertarungan terdahsyat itu, sebelum dihentikan oleh Lois Lane hanya karena sebuah alasan ternyata kedua superhero itu punya nama depan ibu yang sama yaitu Martha.

Secara alur cerita film ini tidak menampilkan narasi cerita yang kuat dan logis, banyak adegan yang terjadi sekonyong-konyong. Misalnya kemunculan Diana Prince alias Wonder Woman yang diperankan Gal Gadot. Kenapa pula Gal Gadot muncul hanya karena ia mencurigai fotonya yang immortal disimpan oleh Lex Luthor…

Soal Gal Gadot juga merupakan kesalahan terbesar dalam film ini. Oke, Gal Gadot cantik dan tinggi (178 cm), namun dia tidak punya aura seseksi Lynda Carter atau Lucy Lawless. Gal Gadot hanya cantik,that’s it.

Secara sederhana yang saya tangkap, film berdurasi panjang ini menampilkan Superman dan Batman yang masing-masing salah persepsi satu sama lain, mungkin karena gak pernah nongkrong bareng sebelumnya… 🙂

Wonder Woman sekonyong-konyong muncul, sehingga sempat menjadi pertanyaan satu sama lain antara Superman dan Batman. “Siapa dia?” kata Superman.

lho, saya pikir dia justru bersamamu,” timpal Batman.

Film ini menurut saya tidak kuat dari bangunan cerita, sehingga penonton tidak merasa dimanjakan karena tidak cukup mudah menangkap pesan yang ingin disampaikan. Teknis pertarungan di antara super hero ataupu melawan musuh yang super kuat pun terasa tanggung, meski ada kejutan yang mestinya sangat besar di akhir film, tapi jadi terkesan biasa saja.

Efek pertarungan pun terasa biasa dan datar (untuk ukuran Hollywood), bahkan ketika ternyata nuklir tidak mampu membunuh Superman, pun terasa biasa saja.

Kalau boleh memberikan kata kesimpulan tentang film ini, saya ingin bilang, “oh iya, Batman ternyata memang pernah bertarung dengan Superman, tapi yah, begitu deh…”

Bogor, 27 Maret 2016

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s