Keanu

keanuBelum genap juga usianya tiga tahun, baru Mei nanti. Sudah sebulan lebih, bocah laki-laki usil itu merasakan kebebasan amat sangat. Tidak terkungkung di dalam rumah seperti biasa.

Renovasi rumah kediaman membuatnya seperti bebas merdeka, mengulangi budaya ayah bundanya saat juga masih kanak-kanak.

Ia bermain genangan air hujan di atas aspal beton perumahan. “Aku ndak mau,” katanya keras saat diminta bundanya jangan main air kotor.

Sendalnya ia tanggalkan, nyeker layaknya anak di perkampungan. Beberapa lembar daun pohon jambu tetangga yang gugur dipungutnya, ditaruh di kantung depan sepedanya.

Keanu nama anak itu tertawa gembira. Di luar rumah ia jadi seperti belajar bertahan hidup sejak kecil.

Ya, batita itu nampak semakin energik dan komunikatif. Ia juga semakin cerewet dan makin hitam juga kulitnya terbakar sinar matahari.

Di hari berikutnya setelah mandi pagi, ia rentangkan kakinya layak atlet taekondo sampai bagian bokongnya menempel di badan jalan.

Sejenak kemudian, dia berjalan dengan dua telapak tangan saling tergenggam di belakang layaknya pemimpin proyek sedang memantau hasil pekerjaan anak buahnya.

Beberapa anak yang postur tubuhnya lebih besar dia dekati. Wajahnya dia majukan hingga berjarak cukup dekat dengan wajah salah satu anak laki-laki yang usianya sekitar lima tahun. Dengan ekspresi usil ia lakukan menirukan suara anjing menggeram depan anak laki-laki itu.

Beruntung, meski mungkin terasa menjengkelkan anak usia lima tahun itu tidak membalas. Ia hanya dia diam dengan ekspresi datar.

Merasa tidak digubris, Keanu beranjak pergi. Tidak lama kemudian, dia berteriak lantang, “Ayah, ada anak-anak naik motor. Ndak boleh, nanti jatuh kata ayah.”

Batita itu kembali berjalan memperhatikan sesekeliling dengan seksama, ia seperti ingin mengekspresikan karakter usilnya. Saat dipanggil bundanya, Keanu malah lari terbirit-birit menuju taman kecil di perumahan. Bunyi senapan mainannya juga diberondongkan mengiringi ayunan langkah-langkah kaki kecilnya yang bergerak cepat.

“Aku ndak mau,” katanya berteriak sambil berlari meninggalkan bundanya yang termangu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s