Warna Warni Kota

sumber foto: http://wedo.org/wp-content/uploads/2013/09/raised-hands.jpg
sumber foto: http://wedo.org/wp-content/uploads/2013/09/raised-hands.jpg

“Sial,” ujar pria itu sambil terus berlari tersengal-sengal.

Di belakang ada tiga pria lain yang terus mengejarnya kesetanan. Sudah cukup lama aksi kejar mengejar itu terjadi, ada barangkali sekitar 15 menitan.

Beberapa kali kesempatan pria yang dikejar itu beradu fisik dengan ketiga pengejarnya, sebelum kembali berlari menjauh karena perkelahian yang tidak seimbang.

Di pojok sebuah bangunan tua peninggalan penjajah, sebuah jegalan dari belakang membuat pria itu hampir membuatnya terjatuh. Tendangan seorang pria kembali mampir di punggungnya, sebelum ia membalas dengan sebuah bogem ke pria yang menendangnya.

“Nyet, salah aku apa, sampai kita harus berkelahi?” kata pria yang dikejar tersebut kepada penendangnya.

Tidak lama berselang, dua kawan pria penendang pun tiba di lokasi. Beberapa orang yang melihat aksi perkelahian tidak seimbang itu nampak malas melerai. Perkelahian sore itu seperti tidak terkesan penting untuk digubris.

Ada mimik ngeri juga nampak terlihat di wajah orang-orang yang melintas, tapi lebih dikuasai kelelahan setelah berutinitas. Mungkin di benak mayoritas mereka, “Hmm, para sampah kota lagi berebut lahan parkir paling.”

Aparat yang bertugas pun nampak tidak menghiraukan. Mungkin di benak mereka, “Ah, biarkan sajalah. Mending nyari mangsa buat tambahan duit.”

Jadilah perkelahian satu lawan tiga itu seperti berada di dunia lain, orang-orang tidak peduli.

Meski seorang diri, pria yang dikejar cukup memberikan perlawanan. Ketiga lawannya pun cukup keteteran. Sekitar lima menit adu pukul, pria seorang diri itu kembali berlari. Pria pengejarnya pun hanya mengejar seadanya, mungkin ketiganya pun merasa lelah.

Menara jam kota yang terletak di alun-alun, tepat di seberang lokasi perkelahian sudah menunjukkan waktu pukul lima lewat 20 menit sore hari. Hari menjelang senja.

Setelah berlari 250 meter dan merasakan aman dari kejaran, pria muda usia 30an awal itu pun berjalan. Tidak lama kemudian, dia pun naik angkutan kota menuju lokasi kosannya. Ya, pria itu ternyata perantau di kota itu, kota yang dulu diagung-agungkan karena kualitas pendidikan, kebudayaan dan kesenian daerahnya. Tapi itu dulu, kini kota ini tidak ubahnya kota metropolitan lain.

Warna-warni individualistis mengemuka. Pria itu merasakan nyeri di tulang pipinya, pelipisnya pun sobek. Tapi percuma bersedih hati, toh, dia harus beri istirahat malam ini. Besok pagi dia butuh energi lebih di tempat kerjanya yang baru sebagai karyawan percobaan di bulan keempat.

Beberapa waktu ke depan, sekitar jam tujuh malam, ketiga pria pengoyoknya sudah duduk bersama santap malam di warung lesehan sederhana.

“Emang kenapa sih tadi orang itu?” tanya salah satu pria pengeroyok sambil asap rokok.

“Saya gak suka saja lihat gayanya, mas bro,” jawab temannya.

“Oh, begitu. Yaudalah, hitung-hitung latihan. Sudah lama juga kita gak berantem. Terakhir tiga minggu lalu yah kayaknya,” kata pria yang ketiga.

Malam pun meninggi, warna-warni kota pun kembali berlanjut.

Si onah sudah ribut sama lakinya di pinggiran kota. Farida sudah kerling-kerlingan sama tukang ojek di depan perumahan. Si koyan lagi meriksa ayam-ayam jago di kandangnya, rumahnya baru digedein soalnya.

Di tipi, ah, gak penting, para politisi lagi ribut, sodare-sodare.

Bobok nyok…, nyok!

Bogor, 15 April 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s