Jalan Berundak & Gadis Cantik Di Angkot

Seberapa cepat kau dapat berlari di jalan lurus, bagaimana saat di jalan berundak?

Zaki melihat anak laki-laki kecil meraung-raung di lantai pusat perbelanjaan berlantai lima itu, termegah di kabupaten tempat tinggalnya mengadu nasib. Anak laki-laki berusia tiga tahun itu menangis sejadi-jadinya sambil berbaring di lantai. Para pramuniaga perempuan yang bertugas di sekitar hanya berdiri terpana sambil memperhatikan.

Bagi Zaki, gaya anak laki-laki itu sudah barang lazim, senjata para anak untuk memaksa orang tuanya membayar satu kotak mainan di loket pembayaran. Sebuah situasi yang mengibaratkan anak layaknya jalanan berundak, yang memaksa manusia dewasa berkompromi dan melatih kesabaran untuk berhenti berlari sejenak demi si buah hati.

“Kelak, aku pun akan begitu ketika telah bertemu gadis pujaanku,” kata Zaki.

Di akhir pekan ini, pemuda perantauan itu sengaja berkunjung ke pusat perbelanjaan yang lokasinya hanya sekitar lima kilometer dari tempat kosnya. Meski demikian untuk sampai, perlu sekali naik ojek dan dua kali naik angkot dengan ongkos Rp 11 ribu total. Kalau jalan kaki dari kosan ke jalan raya dan memilih naik angkot cukup bayar Rp 6 ribu semuanya, alias tiga ribu perak per sekali naik angkot.

Di usia 25 tahun , wajar jika Zaki mulai berpikir untuk menikah. Tapi untuk itu dia tentu butuh modal. Sementara ini di kantornya yang bergerak di bidang importir peralatan dapur hotel, restoran dan kafe, ia masih berstatus karyawan kontrak sebagai supervisor. Butuh lima bulan lagi untuk masuk periode evaluasi sebagai karyawan tetap. Itupun kalau lolos, kalau enggak yah bisa perpanjang kontrak setahun lagi atau malah diberhentikan.

Sebagai perantau, Zaki sebenarnya punya jiwa petarung dan semangat yang gigih dalam mengerjakan tugas. Sayang ia bukanlah tipe penjilat dan cenderung agak kaku, hal yang membuatnya bisa tergusur di tempat kerjanya.

“Tidak menjadi soal, mas Marno. Kalau rejeki gak kemana, yang penting kan sudah berusaha,” kata Zaki pada sahabat OB di kantornya, kala dinasihati untuk lebih luwes bergaul di tempat kerja.

Sebagai pribadi yang kaku, Zaki pun sempat mendapat kenangan cukup berkesan di dekat alun-alun saat dikeroyok tiga orang preman yang kurang suka melihat pembawaannya. Toh, hal itu tidak meruntuhkan semangat tempurnya mengadu nasib di ibukota kabupaten itu, dan meski statusnya kabupaten namun lokasinya tidak jauh dari ibukota negara, hanya sekitar 40 menit jika naik kereta api.

Di sela waktu senggang di akhir pekan, Zaki memang kerap ke pusat perbelanjaan termegah di kota itu. Kalau tidak untuk minum kopi, yah, cari buku-buku terbaru yang menarik. Momen itu juga digunakan untuk mengamati perilaku berbagai manusia di sekitar sebagai bahan untuk menyalurkan hobi menulis di blog sambil mencari koneksi wi-fi gratisan terkadang.

Saat keluar dari toko buku, Zaki melihat bocah laki-laki tiga tahun sudah tersenyum dengan menentang plastik berisi mainan. Di samping berdiri abangnya yang berusia lima tahun juga tersenyum-senyum sambil menentang plastik mainan juga. Meski tersenyum, masih ada bekas tetesan air mata di wajah keduanya. Sementara sang ayah nampak kelelahan memperhatikan kedua anak lelakinya itu.

Di tengah biaya kebutuhan hidup yang semakin meninggi, beberapa lembaran uang seratus ribuan telah berpindah ke laci kasir toko mainan itu, dengan berat hati sebenarnya. Zaki hanya tersenyum memperhatikan situasi hubungan sang ayah dan dua anaknya itu.

Dua buku mengenai dunia marketing digital terbaru telah ada di dalam tas selempang Zaki, dan saatnya beranjak pulang ke kosan untuk membaca di Sabtu pekan ini. Di seberang pusat perbelanjaan itu, di jalur lambat tepatnya, sudah menanti angkot berwarna hijau.

“Kerecekokan, Kerecokan. Ayo yang mau ke ke Kerecokan naik,” teriak seorang preman di pangkalan angkot berkelir hijau jurusan Mayor Giok – Kerecokan.

Saat naik angkot, Zaki duduk di samping seorang perempuan cantik berambut panjang sebahu. Usianya sekitar 23 tahunan. Sang gadis tersenyum sedikit bergeser untuk memberikan satu tempat duduk buat Zaki.

Angkotnya pun berjalan, sang supir melihat selembar uang dua ribu rupiah untuk sang preman di pangkalan.

“Terima kasih, Tuhan. Hari ini lumayan bisa duduk di samping gadis cantik harum sebelum pulang ke kosan,” gumam Zaki dalam hati.

Senja pun menjelang sambil mengembangkan rasa bahagia di dada pemuda perantauan itu. Buat Zaki, bahagia itu bukan harus terjebak di polemik panggung politik soal pembayaran Rp 750 miliar di malam pergantian tahun. Bahagia itu cukup, kalau interaksi dengan sang gadis tidak semata soal berbagi tempat duduk dan sebatas seperjalanan di angkot ini saja…

Mungkin gak yah…

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s