Tikus Kota & Suasana Kampung Tetiba Ramai

sumber foto: http://www.kidsgen.com/stories/bedtime_stories/images/city-rat-and-village-rat.jpg
sumber foto: http://www.kidsgen.com/stories/bedtime_stories/images/city-rat-and-village-rat.jpg

Laki-laki itu menarik napas dalam-dalam, ini adalah kesempatan emas buatnya untuk mewujudkan harapan menjadi orang yang lebih kaya raya.

Upaya kongkalikong dengan beberapa rekan di gedung parlemen yang (tidak) terhormat berjalan mulus, lumayan lima miliar rupiah. Kalau di deposito, bunganya berapa tuh per bulan…

Lain soal dengan Wenny, gadis cantik usia 21 tahun mahasiswi semester tiga  di sebuah perguruan swasta ternama di salah satu kawasan berkelas di ibukota negeri ini. Sebagai gadis metropolis sudah jamak buatnya untuk “berinteraksi” dengan macam tokoh pria di atas, untuk tambahan biaya (gaya) hidup.

Biaya sewa kamar kos Wenny saja sudah Rp 2,5 juta per bulan, belum termasuk biaya kuliah dan lain-lain.

Di hari Jumat malam, keduanya bertemu di bandara untuk terbang ke ke negara tetangga yang luasnya hanya sekitar 48 km dari satu titik ke titik terjauh. Di sana, mereka bersenang-senang dan melakukan transaksi bisnis ukuran urusan orang dewasa.

Kakak laki-laki tadi tidak sevulgar adiknya, tapi dia juga menjalankan perilaku antagonis di gedung parlemen. Perilakunya kelihatan religius, dia berlindung dengan memeluk agama mayoritas untuk menjalankan niat jahatnya. Mayoritas masyarakat seolah memaafkan kejahatan karena memeluk agama yang sama, meski secara politis.

Sang kakak lolos dari sergapan operasi tangkap tangan, sementara adiknya bersama para pengacaranya mencari celah untuk membuat alibi. Padahal sang adik baru saja turun dari pesawat di hari Minggu setelah berkencan dengan dik Wenny. Dia kepergok dengan barang bukti di sebuah restoran mewah di bandara oleh aparat.

Rumah orang tua Wenny tetiba ramai oleh para pemburu berita gosip, jaraknya sekitar 150 meter dari kosan si Zaki. Pasangan usia 50 tahunan awal itu pun langsung gugup serta merta tetiba hidupnya berubah laksana sang artis lebay yang sudah operasi permak kiri kanan agar tampak seperti boneka putri.

Sepulang kerja, Zaki melewati kerumunan para pekerja pemburu berita itu di depan orang tua Wenny.

“Sudah berapa lama Wenny tidak pulang, pak?”

“Kapan terakhir Wenny pulang ke rumah, bu?”

“Wenny memang nama aslinya Wenny yah, bu?”

“Biaya kuliah Wenny dari mana, pak?”

Sederet pertanyaan diajukan tanpa henti bagai berondongan peluru di tengah kilatan lampu kamera, hingga sang ibu pingsan. Adik Wenny yang masih duduk di bangku SD dan SMP pun dikejar pertanyaan. Sama dengan sang bapak, keduanya terdiam bingung menjawab.

Seorang reporter perempuan yang melihat Zaki melintas menuju kosannya bertanya, “Anda kenal Wenny? Sudah berapa lama Anda tinggal di sini?”

“Wah, mbak salah bertanya. Saya hanya kos di depan sana,” kata Zaki.

Sebelum masuk ke kamar kosan, Zaki mampir di warung indomie. Maklum sudah jelang tanggal tua belum gajian, dimana lagi bisa makan dengan uang delapan ribu rupiah sudah dapat lauk mie dan gorengan tahu serta sepiring nasi, serta air putih gratisan…

Bogor, 19 April 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s