Mini Cooper & Kepanikan Pasar Baru

sumber image: https://mir-s3-cdn-cf.behance.net/project_modules/disp/4a026014677513.56037198a0dcd.jpg
sumber image: https://mir-s3-cdn-cf.behance.net/project_modules/disp/4a026014677513.56037198a0dcd.jpg

“Bagaimana kabarmu, nak? Sudah naik jabatan di tempat kerjamu?” tanya Ibu di ujung telepon.

“Sudah, Bu. Sudah diangkat jadi asisten manager, cuma pekerjaan juga tambah banyak,” jawab Zaki.

“Ndak papa, itu resiko kalau naik jabatan. Syukuri saja, itu artinya kamu juga mulai dipercaya atasanmu, nak,” timpal sang Ibu lagi.

“Iya, Bu,” jawab Zaki.

“Kamu ndak beli kendaraan buat ke tempat kerjamu, nak?” kata Ibunya lagi.

“Enakan naik angkot dan kereta api, Bu. Jadi ada sisa dana, saya tabungin buat DP rumah, Bu.”

“Bagus itu, nak. Setidaknya kamu berarti punya mimpi. Ya sudah, kamu istirahat dulu, jaga diri di kampung orang. Ibu mau siapkan makanan buat Ayahmu,” pungkas sang Ibu mengakhiri pembicaraan via telepon seluler.

Pembicaraan dengan Ibu semalam masih bergelanyut di benak Zaki. Di stasiun Lenteng Agung, matanya lalu terpaku pada satu unit Mini Cooper berkelir coklat muda di antara parkiran mobil lain.

“Hmm, orang kaya saja milih naik kereta sekarang,” gumam Zaki.

Jalanan di Jakarta memang semakin sesak. Resikonya lebih banyak dan lebih besar mulai kemacetan yang makin akut, resiko tabrakan dan senggolan antar kendaraan yang makin tinggi, waktu yang semakin banyak terbuang, serta biaya bahan bakar kendaraan yang semakin membumbung.

Sedang naik kereta cuma Rp 4 ribu untuk titik terjauh. Kalaupun naik, tetap lebih hemat biaya dan waktu dibanding bermotor. Resikonya memang tergencet-gencet saat jam pergi dan pulang kantor.

Saat jam makan siang, Zaki menyempatkan mampir ke daerah belakang Pasar Baru. Dari tempat kerjanya yang baru di kantor pusat, ia hanya perlu sekali naik angkot ke Pasar Baru. Bayarnya cukup Rp 3 ribu.

Setibanya di sana, Zaki langsung ke lantai dua sentra tempat servis lensa kamera.

Sambil menunggu lensa kameranya diperbaiki, ia bergegas turun dan melihat beberapa orang berlarian dari dalam ruko.

“Jangan, jangan, pak. Saya cuma sebentar,” ujar pria gembul usia 30an tahun.

Namun teriakannya percuma, keempat ban mobil boksnya tetap digembosi. Ia pun seketika terlihat berdiri lemas memegang lututnya. Sementara gerombolan berjumlah sekitar 10 – 15 orang berseragam dari departemen perhubungan ternyata tengah melaksanakan tugas di areal larang parkir.

Tidak ada kendaraan yang lewat dari hukuman di bagian belakang dan tengah pertokoan itu. Ban mobil dan motor  yang ada semuanya digembosi. Beruntung di bagian depan langsung bergegas memindahkan kendaraan dan membuat kemacetan sejenak. Uniknya tidak ada satupun yang dihentikan.

Sejenak krasak-krusuk di antara pegawai ruko yang saling berdampingan, termasuk para bos yang menatap nanar keempat ban mobilnya. Prahara siang itu pun berlalu dengan cepat.

Tidak lama perhatian Zaki pun terpecah, smartphone-nya berbunyi. “Mas, lensa kameranya sudah selesai. Sudah bisa diambil,” kata suara di ujung telepon.

“Benar kata abangnya, cukup setengah jam saja servis lensanya.”

Bogor, 21 April 2016

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s