Kisah Cinta Manusia Kayu

sumber image: http://i.imgur.com/pGqs24y.png
sumber image: http://i.imgur.com/pGqs24y.png

“Kau mau jadi pacarku?” kata Zolenk pada Belkan.

“Maaf yah, saya ndak bisa,” jawab Belkan.

Zolenk pun patah hati. Semangatnya tetiba luruh. Keesokan pagi, Zolenk nekat pergi naik kapal laut tanpa tiket menyeberang ke Surabaya untuk menghibur diri, hingga akhirnya tertangkap oleh sekuriti pemeriksa tiket.

“Sudah tahu tidak punya tiket kok nekat naik kapal?” hardik pihak sekuriti di kantornya yang sempit dan berantakan di bagian dek bawah kapal.

Zolenk ternyata tidak sendiri tertangkap, ada beberapa orang lain yang bernasib sama.  Dalam hati ia pun berujar, “Masak karena gak punya tiket dibuang ke laut, kan gak mungkin.”

Ia pun lolos dari hukuman apapun, hanya dimarahi-marahi. “Hal yang biasa.”

Keesokan pagi, Zolenk tiba di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Diambilnya uang beberapa ratus ribu yang ia sembunyikan di ujung sepatu. Tujuan berikutnya adalah terminal bus Bungur Asih mencari tumpangan kelas ekonomi termurah ke Jogja. Menumpang beberapa hari di kosan beberapa teman yang tengah merantau sekolah di sana.

Setelah beberapa malam menghibur diri di Jogja Café menikmati iringin musik jazz dan blues, Zolenk pun kembali lagi ke Makassar untuk mengejar cinta yang lain.

“Maukah kau jadi pacarku?” kata Zolenk pada anak baru bernama Kunclung.

“Maaf, kak. Saya sudah punya pacar,” jawab Kunclung.

Sambil patah hati, Zolenk pun berjalan lunglai meninggalkan halaman pekarangan rumah Kunclung yang luas, namun hanya sedetik kemudian tenaganya muncul lagi. Suara gonggongan dan kejaran anjing Kunclung yang segede gambreng (baca: besar minta ampun) melengkapi tragedi di malam itu. Membuatnya berlari sekuat tenaga menyelamatkan diri melompati pagar setinggi dua meter. Walhasil kemeja andalan sempat nyangkut di salah satu ujung pagar yang tajam.

“Yah, sobek deh,” gumamnya saat memeriksa kemeja di atas angkot.

Perjalanan pulang ke kosan, suasana malam pun seraya turut prihatin dan mengejek nasib jelek Zolenk. Pun bulan nampak malu-malu tertutup awan hitam, seperti waktu yang tepat buat temannya Adi menjadi serigala jadi-jadian. Ditambah hujan pula dan sambutan kerumunan laron di kosan yang terletak sekitar satu kilometer dari ujung jalan raya.

“Malam yang tragis.”

Di kampus, nasib berbeda dialami Wawan. Meski tidak lebih ganteng dari Zolenk, tapi Wawan sangat cerdas memainkan kata dan sikap. Ia adalah kutu buku yang pandai bicara dan sangat lentur dalam berkawan dengan siapa pun.

Dipegangnya tangan Endang, salah satu cewek idola di jurusan keilmuannya. Sambil berpura-pura meramal dengan kemampuan bicara dan wawasan yang seabrek, Wawan berhasil memegang lama tangan Endang yang halus. Zolenk hanya bisa terkagum-kagum dari jauh.

Di lain waktu, Wawan acap kali memukau banyak perhatian perempuan di kampus Merah, saat diundang sebagai pembicara di berbagai kesempatan di segenap penjuru kampus. Kadang malah ia berbicara dan menebar pesona di kampus-kampus lain.

Tidak salah jika seorang pemimpin pejuang separatis di Papua pernah berujar, “Jika mau pintar dan merdeka, yah, sekolah.”

Ungkapan itu bisa diterjemahkan dengan baik oleh Wawan, tidak oleh Zolenk., Zolenk dan Wawan mungkin punya kekurangan yang sama soal ketampanan, tapi keduanya beda nasib. Wawan lentur bak karet, bahkan cair laksana air. Ia pun bisa hidup di berbagai kondisi laksana rumput. Beda dengan Zolenk yang sudah tidak tampan, kelakuannya persis manusia kayu yang kaku.

Di saat Wawan tengah membuai cinta dimana-mana, Zolenk masih mengejar cinta dengan pola yang sama “Maukah kau jadi pacarku?”.

“Mengejar cinta itu harus dibedakan sama ngajak orang berantem, kak. Mengejar cinta itu tidak bisa seketika, harus pakai pendekatan dan perhatian,” kata adik cewek Zolenk beberapa kali.

Tapi dasar bebal, Zolenk pun tetap mengejar cinta dengan pola yang sama. Hampir semua cewek cantik seantero kampus yang memikat perhatiannya dan didekati dengan jurus seketika, “Maukah kau jadi pacarku?”

Tidak terhitung cewek cantik yang didekati. Saking banyaknya cewek cantik yang ia kejar, Zolenk sampai lupa namanya satu persatu. Ada yang namanya sebut saja Yanti, Inem, Nur, Eka, Pudding hingga Santoso. Pokoknya nih andai kata Zolenk jadi salah satu tokoh di cerita Hilman Hariwijaya, nasibnya bisa dipastikan lebih buruk dibanding Boim Lebon atau sastrawan Gusur.

Zolenk bebal manusia kayu yang nyaris mustahil memenangkan hati wanita dengan perawakan standar, gaya biasa saja dan tidak modern, serta pendekatan yang kaku laksana manusia kayu. Ia hanya selalu mengandalkan semangat juang berlimpah dengan senjata yang sama.

Dikejarnya tetap 300 cewek cantik berikut dan ada 305 cewek cantik yang menolak. Bukan karena ada cewek yang sama menolak dua kali atau lebih, tapi karena lima cewek cantik berikut yang dikejar juga pasti menolak.

Zolenk pun berseloroh pada Wawan saat setelah menyelesaikan kuliahnya, “Lima tahun kuliah di Makassar kalau dikumpul-kumpul mungkin surat penolakan itu sudah memenuhi isi lemariku jauh melebihi jumlah pakaian dan buku-bukuku.”

Zolenk pun meninggalkan kota Makassar sebagai mantan aktivis yang gagal porak-poranda mengejar satu kepingan cinta, meninggalkan Wawan yang semakin digdaya mengejar cinta di kampus Merah.

Pindah ke ibukota, kisah cinta Zolenk pun tidak tetap gagal dengan tragedi yang sama. Enam tahun bekerja sebagai kuli di ibukota masih lebih mudah bagi Zolenk mencari kerja dibanding mencari cinta.

Menyerahkah Zolenk? Tidak, di suatu kota kecil seorang cewek muda secantik legenda Nyi Iteung menyambut polos tawaran cinta seketika dari Zolenk. Mereka pun akhirnya menikah, beranak pinak dan berbahagia selamanya.

“Ternyata manusia kayu pun bisa dapat jodoh, masak kalian kalah?” kata Wawan menutup cerita di hadapan adik-adik angkatan.

Sontak seketika semangat mengejar cinta pun menggelora di  kampus Merah. #TidakPerluTakutGagalMengejarCinta #CobaSaja

 

 

 

2 Replies to “Kisah Cinta Manusia Kayu”

  1. Sumpriiittt…ingatanku melayang kembali ke tahun2 itu, di mana Boggart telah meluluhlantakkan jiwa seorang jenderal ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s