KENAPA HARUS ANIES…

aniesResuffle menteri jilid 2 di Kabinet Kerja Jokowi – JK telah diumumkan Rabu (27/7). Dari sekian nama menteri yang diganti ada satu nama yang mengundang tanda tanya di kalangan netizen, “Mengapa Anies Baswedan diganti?”

Seorang teman berkata, mungkin karena Pak Anies lebih sebagai motivator ketimbang seorang konseptor (ataupun inovator). Benarkah?

Selain dikenal sebagai mantan rektor di Universitas Paramadina, Anies juga dikenal sebagai penggagas sebuah kegiatan nirlaba berlabel Indonesia Mengajar pada tahun 2009. Dua nama institusi ini menunjukkan Anies punya kapasitas sebagai konseptor dan inovator.

Nama Universitas Paramadina mentereng, karena terdapat nama mendiang Nurcholis Madjid sebagai salah satu penggagas berdirinya. Selain dikenal sebagai salah satu tokoh bijak pada era Reformasi tahun 1998, Cak Nur dikenal dengan pendekatan pluralismenya di Indonesia, selain almarhum Gus Dur. Dan Anies merupakan suksesor Cak Nur.

Sosok Anies wajar mengundang rasa cinta dan simpati di kalangan netizen. Pasalnya ia dikenal memiliki sosok yang ramah dan murah senyum. Laksana tokoh Semar, Anies menjadi penasihat dan salah satu juru bicara Jokowi pada saat momen Pilpres 2014.

Seorang kenalan senior berkata pada saya, “Terlepas dari gw gak suka sama Jokowi, tapi yang paling gw gak suka adalah sikap yang terjebak pada belenggu partai. Jokowi mestinya ingat, dia dipilih secara langsung oleh rakyat. Partai pengusungnya tidak lebih dari sebuah gerobak pendorong.”

Saya menangkap kewajaran amarah senior tersebut mewakili sekian amarah dan protes orang lain di negeri ini.

Karakter seperti Anies mirip Kang Emil (Ridwan Kamil, walikota Bandung) yang cenderung dingin dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Pendekatan Anies pun sangat berbeda dengan gaya Ahok  (Basuki Tjahaja Purnawa, Gubernur DKI Jakarta) yang cenderung meletup-letup.

Dengan mundurnya Kang Emil dan Bu Risma (Tri Rismaharini, walikota Surabaya) sebagai dua kandidat yang digadang-gadang dapat menjadi batu sandungan terberat Ahok menuju kursi nomor 1 DKI pada tahun 2017, mungkinkah Anies dapat menjadi alternatif kuat pilihan baru kalangan kelas menengah ibukota yang identik dengan citarasa yang cerdas dan dingin dalam mengeksekusi masalah…

Bisa jadi, sebelum kita kembali dihadapkan pada sajian fenomena yang masih mewarnai Indonesia hari ini, jika politik (partai politik dan poliTIKUS) akan dan dapat memainkan segala cara serta kartunya untuk menyandung figur independen non partai seperti Anies.

Meski tidak menutup kemungkinan lahirnya komunitas relawan baru yang mau mendukung dan mengkampanyekan Anies sebagai rival Ahok di pentas pilkada DKI tahun depan.

Simak yuk episode berikutnya sambil duduk bersandar di sofa, makan pisang goreng ditemani secangkir teh hangat…

Bogor, 29 Juli 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s