PERJUANGAN PENGUSAHA SILICA GEL

silica_gelSenin sore (5/9), saya sempat mengantar seorang bapak dan empat anaknya dari perjalanan dari Golden Nirwana Park (dekat GOR Pakansari kab. Bogor) ke sebuah tempat dekat Blossom di jalan Pajajaran, Bogor. Anaknya yang sulung perempuan, serta tiga adik laki-lakinya.

Bapak itu lulusan teknik industri universitas Trisaksi angkatan 1993 lulus 1998. Saat bertemu dia bercerita merupakan produsen silica gel untuk produk sepatu dan sendal baru. Salah satu kliennya datang dari brand berinisial YK.

Pria bernama Harry itu bilang waktu anak bungsu lahir tahun 2009 dia memberanikan diri keluar dari zona nyaman sebagai karyawan Astra. “Kalau terus-terusan jadi pegawai kayaknya gak bakal nutup,” katanya singkat.

Keputusannya ini mungkin juga ada hubungan dengan darah orangnya tuanya yang asli Minang, meski dia mengaku sama sekali tidak paham dengan budaya dan bahasa kedua orang tuanya.

Keputusan Harry keluar kerja pun sempat mendapat tentangan dari sang ibu, karena harus menghidupi empat cucunya yang masih keci-kecil. Waktu itu umur Harry masih 34 tahun, dan sang Ibu pun sempat merekomendasikannya menjadi pegawai negeri, karena ada pamannya yang kebetulan ada di lingkaran kabinet di era SBY. Tapi usul itu ditolak Harry.

“Saya tidak punya mimpi jadi pegawai negeri.”

Harry pun bersikeras dengan mimpinya yang dibangun dari hasil utang 20 kartu kredit. Diayaknya pasir itu sendiri di rumah dan di sebuah kawasan pabrik kecil di Cimahi.

Ikhtiar ini pun sempat ditentang sama istrinya, “Sudah tahu ada anaknya yang asma, bapaknya malah ngayak debu.”

Namun mimpi Harry tetap terjaga. Saat silica gel itu dirasa kualitasnya dirasa cukup sempurna, mulailah Harry jajakan produknya menggunakan sepeda motor.

“Bisa dibilang saya jalan dari subuh ketemu subuh waktu baru mulai. Setelah itu saya istirahat satu dua hari hari, kemudian jalan lagi, dan begitu terus.”

Perjuangan paling berat adalah ketika mau masuk ke brand berinisial YK tadi. Harry kerap ditolak, tapi tiga minggu kemudian dia tetap dan datang, dan begitu seterusnya, hingga…

“Saya akhirnya tahu bos kepala purchasing suka makan ketoprak di suatu tempat. Saya pun sering makan di situ dan akhirnya kami akrab hingga sudah panggil-panggilan “lu gue”. Saat itu saya pun berkawan, tanpa pernah lagi menawarkan produk saya.”

Hingga suatu ketika sang boss purchasing bilang ke Harry, “Eh iya, lu tempo hari nawarin gw apaan yah?”

“Silica gel, pak,” kata Harry.

“Emang bagus produk lu?” Tanya sang boss.

“Boleh dites, pak,” jawab Harry.

Harry pun mengambil lima sampel silica gel dari lima vendor YK yang telah ada selama ini. Dia mengeluarkan alat pengukur kualitas silica gel.

Dari lima produk silica gel milik vendor YK, produk milik Harry hanya kalah dari salah satu produk silica gel yang menurutnya memang merupakan pionir di negeri ini.

Sang boss purchasing pun terperangah. Dia tertarik apalagi dengan iming-iming harga yang lebih menarik. Sang boss pun lantas memanggil kepala gudangnya dan meminta ia membeli alat milik pengukur seperti milik Harry, “Lu harus punya neeh alat kayak gini, biar kita tahu kualitas silica gel yang kita beli.”

Naluri bisnis Harry tumbuh, “Gak usah beli, pak. Alat ini buat bapak saja, free.”

Maka perjalanan bisnis Harry di YK pun dimulai. Dia jadi pemasok silica gel, walaupun kuantitinya masih separuh dari lima vendor lainnya.

“Seiring perjalanan waktu, saya pun dipercaya sebagai vendor tunggal. Di belakang itu, bapak kepala gudang minta persentasi komisi tanpa sepengatahuan bosnya. Permintaan yang saya penuhi.”

“Dari situ, pabrik produksi saya pindahkan ke daerah Tonjong, Parung. Saya pun mengajukan pelunasan diskon ke semua vendor kartu kredit, dan akhirnya dapat diskon 45 persen serta bisa dicicil.”

Harry terus bersemangat menceritakan kisah perjuangan bisnisnya yang menurut saya mengagumkan dan inspiratif. Sayang, mobil sudah tiba di lokasi tujuan.

“Boleh tahu, pak Harry ngapain ke sini?” Kataku.

“Saya antar anak sulung saya latihan wushu.”

“Wow, Semoga sukses terus bisnisnya, pak,” ujarku dalan hati, sambil menerima dua lembar uang puluhan ribu dari pak Harry.

#JalanPedang #NeverGiveUp #NeverSurrender #KeeptheFaith

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s