HIDUP BAHAGIA SEDERHANA

deconstructionSaat masih kuliah dulu di Unhas, ada satu kenangan yang tidak bisa kulupakan sampai sekarang.

Suatu ketika, saya pergi ke semacam acara rapat kerja mahasiswa Fisip – UH (kalau tidak salah) di Sidrap. Saat teman-teman pergi, saya malah memilih tinggal di rumah orang tua salah satu teman yang ketempatan nginap.

Saya duduk bersama bapak teman itu di beranda rumah. Usia sang bapak kala itu belumlah tua, kalau gak salah dia ngaku masih 40an akhir atau 50an awal. Tapi bukan itu soalnya, melainkan apa yang diakuinya. “Bapak sudah puas, sudah berhenti. Saatnya nikmati hidup.”

Kira-kira itu yang beliau katakan padaku.

Omongan yang menurutku sangat patut diprotes, apalagi kala itu saya masih asyik-asyiknya mengkaji masalah post strukturalis dan dekonstrusi. Protes itu tidak saya utarakan pada sang bapak, tapi mengendap di benakku hingga bertahun-tahun.

Kira-kira isi pertanyaan saya, “ Kenapa harus berhenti saat hidup masih berjalan?”

Bertahun-tahun kemudian, saya sedikit-sedikit membaca mengenai marketing 3.0 dari sang begawan marketing Hermawan Kartajaya yang menuturkan jika pertarungan eksistensi kini lebih bersifat datar, tidak lagi vertikal.

Hal ini membuatku lebih memahami keputusan hidup sang bapak teman tadi.

Suatu ketika pula saya sempat belajar menulis dan menyederhanakan inti ide dari seorang senior, yang membuatku berpikir lebih praktis dan menyederhanakan inti masalah.

Dari hal kedua ini, saya jadi lebih memahami keputusan sang bapak teman tadi.

Seorang teman di jaman kuliah menuturkan hal ini pada anaknya, “Ayah tidak pernah memberitahu saya bagaimana menjalani kehidupan…Ia membiarkan aku melihatnya, kemudian membiarkan aku melakukannya… Karena kata ayah….hidup bukanlah seberapa banyak engkau membaca buku…tetapi bagaimana engkau berani menjalaninya. Hidup bukan instruksi….hidup adalah daya juang!”

Pembelajaran tentang kesederhanaan dalam menjalani perjuangan hidup inilah yang kemudian mengantarkanku pada sebuah jalan hidup, jika tidak ada lagi mimpi yang tinggi untuk terbang ke bulan, cukup di sini dan menikmati hidup.

Di saat beberapa teman berjibaku ke ruang yang lebih tinggi dan melanglang buana, saya justru kembali ke rumah memeluk istri dan anak-anak memaksimalkan waktu dan kebahagiaan. Tentu saja saya masih bekerja dan berusaha menjemput rejeki, tapi tidak lagi memaksakan keberuntungan yang membuat keningku berkernyit. Semuanya lebih positif dan simpel.

Saya memang tidak berhenti seperti sang bapak. Saya masih berjalan, tapi jauh lebih sederhana dan datar. Saya pun paham hingga pada satu kesimpulan yang terbentuk, “Bahagia itu sederhana, tergantung bagaimana kita memilih, melihat dan menjalaninya…”

Sekadar berbagi, semoga bermanfaat…

Depok, 21 September 2016

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s