sekali lagi soal ahok (sengaja pakai huruf kecil)

sumber meme: http://pernikuniek.blogspot.co.id/
sumber meme: http://pernikuniek.blogspot.co.id/

Beberapa hari seorang sahabat dekat menyampaikan pendapat, “Tidak mungkin memilih ahok, karena sudah jelas diatur di dalam kitab suci.”

Ya, pada dasarnya kami berdua tidak mungkin memilih ahok, karena bukan warga jakarta. Tapi saya bilang andai saya warga jakarta, saya pasti pilih ahok.

Seorang teman lainnya, “Lu dibayar berapa sama ahok, Der?”

“Hahahaha, sampai saat ini belum minat nyari rejeki dari ruang politik, mas bro. Lu kan tau kerjaan gw apa?!” jawabku.

Saya cuma masih gagal paham yang menyangkutkan masalah pemilihan gubernur jakarta dihubungan dengan ajaran di kitab suci. Pasalnya jika terpilih, menurut saya, ahok itu bukan pemimpin akidah.

Selama menggantikan jokowi menjadi gubernur jakarta, belum pernah saya dengar ahok meminta warga jakarta pindah agama dan menjadi cina.

Saya justru tau, ahok membayar upah penyapu jalan di jakarta sesuai UMP. Dia juga acap kali diberitakan melawan rencana anggaran siluman di dewan.

Lagipula di era 3.0 dan era digital seperti saat ini sebaiknya jangan berpikir terlalu sempit dan paranoia, jangan-jangan malah jadi representasi baru golongan khawarij.

Saya memang tidak pintar dan agamis, tapi banyak gang-gang di jakarta sudah saya masuki. Mulai dari hal yang bener sampai yang gelap.

Kata seorang temen deket yang sudah kayak sodara, “Di jakarta ini ada dua bahasa yang bisa dipakai. Bahasa satu yah bahasa Indonesia atau bahasa manusia kalau ketemu orang baik-baik dan berpendidikan. Satu bahasa lain yah bahasa binatang atau bahasa jalanan.”

Dan saya setuju dengan pendapat itu, jakarta butuh manusia setengah dewa setengah preman seperti ahok yang sudah terbukti kiprah dan kinerjanya.

Di atas itu, pilkada jakarta kali ini seru sekaligus menjadi ujian rasionalitas kelas menengah DKI, apakah lebih mengapresiasi hasil kerja yang riil atau bertaruh pada simbol-simbol baru yang masih perlu pembuktian.

di era 3.0, ahok (IMHO) bukanlah menjadi pemimpin vertikal, dia pemimpin horisontal alias datar. Dia hanya salah satu warga jakarta yang punya kemampuan lebih dalam hal tata kota dan masalah administratif untuk kota tersebut.

Jika terpilih lagi, ahok juga bukanlah raja. Terlalu jauh untuk dia menjadi rezim otoriter. Jika terpilih lagi, ahok hanyalah semacam CEO tata kota dan administrasi Jakarta. Atasannya? Ya, seluruh warga Jakarta yang membayar pajak daerah dan kawan-kawannya yang membayar gaji Ahok. Ya, seluruh warga Jakarta merupakan pemegang saham, dan berhak mencabut mandat jika terjadi ahok dianggap gagal.

Jika sudah demikian, siapa sebenarnya yang menjadi bos atau atasan?

Seperti kata ahok di acara dialog tivi dengan rosi, “Apapun yang yang terjadi dan saya lakukan tidak ada hubungannya dengan agama dan suku saya. Ini murni karena ahok.”

Ya, setuju, bro ahok. Lagipula kalau segala yang menyangkut ahok itu haram, memang siapa pula yang mencipta seorang ahok, Tuhan juga kan?!

Di atas itu lagi, saya percaya Tuhan punya Kuasa untuk memberikan rahmatNya pada setiap mahluk ciptaanNya, tidak terpaku pada persepsi kita yang terbatas.

Jadi soal ahok, ini murni cara pikir, cara pandang, dan kemasan isu untuk menjatuhkan yang bertahun-tahun abadi di negeri ini. Masih gak bisa move on? Yauweslah…

Bogor, 26 September 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s