POLITIK SENGKUNI KEMBALI GAGAL

sumber gambar: http://www.museointernazionaledelcinema.it/
sumber gambar: http://www.museointernazionaledelcinema.it/

Benakku tiba-tiba melayang ke tahun 1998, sebelum reformasi terjadi. Areal Koperasi Mahasiswa (Kopma) Universitas Hasanuddin tiba-tiba ramai oleh para aktivis. Katanya ada tokoh reformasi yang berhasil diajak masuk kampus untuk mencerahkan.

Bapak yang dianggap tokoh itu berperawakan kecil, seorang profesor dari pulau Jawa. Jujur, saya belum pernah mendengar ataupun membaca cara pandangnya terhadap perkembangan negeri ini. Saat itu, saya berpikir, tidak ada salahnya melihat seperti apa bapak yang dianggap tokoh itu berbicara.

Massa mulai berkerumun menyemut di areal Kopma-UH. Si bapak mulai bicara yang menurut saya substansinya biasa saja, hingga seorang mahasiswa bertanya padanya dan menurut saya, jawaban si bapak itu agak mengkerdilkan sang mahasiswa. Dalam benak saya lantas muncul kesimpulan, bapak ini hanyalah figur yang ingin membonceng situasi demi popularitas dirinya.

Waktu pun berlalu, sang bapak yang pernah menjabat ketua salah satu organisasi religi terbesar kemudian menjadi salah satu inisiator berdirinya sebuah partai politik baru di negeri ini. Ia pun pernah menjabat ketua legislatif di negeri ini. Pernah pula mengajukan diri menjadi calon petinggi eksekutif nomor uno di negeri ini, namun gagal.

Soal pendidikan formal, jangan tanya. Si bapak sudah kategori puncak, bro sis, orang gelarnya saja sampai profesor. Sementara saya, meski sampai selesai kuliah S1 di negeri lebih kepada keberuntungan. Yup, dari SD sampai SMA bisa sekolah terbaik lebih kepada karena saya punya Papa yang jago lobi-lobi untuk meyakinkan putra-putrinya bisa sekolah di sekolah terbaik di Makassar, meski lewat jalur belakang.

Kalaupun saya mungkin dianggap pintar beberapa kenalan, yang pasti bukan karena pendidikan formal. Orang pas kuliah saja, saya pernah demo empat hari tutup rektorat, karena sistem pendidikan yang menurut saya sama sekali tidak mencerahkan. Tidak ada satupun mata kuliah selama saya kuliah yang mencerahkan saya, setidaknya itu anggapan pribadi sih…

Jadi kalau saya dianggap pintar, yang pasti bukan karena sekolah formal, tapi lebih karena sekolah jalanan yang mengajarkan saya bertahan, berpikir dan bertindak lebih baik sekarang dan ke depan. Mungkin karena kepala saya terlalu keras untuk tunduk dan menyerah pada keadaan.

Kembali soal si bapak profesor tadi, saya jadi ingat tokoh Gollum di film Lord of the Ring. Kecil, berwajah bulat, bertelinga baplang dan kalau bicara suka berdesis kayak ular. Ups, soal terakhir itu juga yang mungkin ada hubungannya dengan judul tulisan ini.

Dalam kisah pewayangan, sengkuni dilukiskan sebagai tokoh licik yang suka menghasut dengan berdesis dan merupakan personifikasi kekacauan di muka bumi.

Yup, si bapak tadi agak – agak mirip karakternya dengan sengkuni, kerjanya suka menghasut, kalau bicara berdesis dan kalau ngomong gak bisa dipegang kata-katanya. Beruntung, hasutan si bapak gak pernah manjur di negeri ini, meski nampaknya dia gak pernah menyerah untuk memainkan perannya.

Terakhir dia muncul di wilayah utara ibukota, menghasut para tokoh dari forum wilayah kepemimpinan level terbawah di ibukota, namun waktu kembali membuktikan sekaligus menyelamatkan negeri ini dari ulah si bapak tukang hasut.

Dia gagal maning, son…

Saya jadi ingat omongan seorang teman, “Bukan sekolah tinggi dan banyak buku bacaan yang telah kau baca yang lantas membuatmu bijak, tapi lebih kepada pikiran dan hatimu untuk melihat dan bersikap.”

Bener juga sih… Oh iya, artikel ini sebagian besar fiksi. Hanya ingin menuangkan pemikiran yang terlintas, karena gak bisa tidur gara-gara suara nyamuk yang balapan di sekitar kupingku. Jadi kalau ada kesamaan karakter dengan tokoh di dunia nyata, itu hanya kebetulan saja yah, guys…

Damai, cinta dan keras kepala…

Bogor, 27 September 2016

Jam 3:37 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s