PERANG MELAWAN BALAPAN NYAMUK

skeeter2Sudah sepekan terakhir, di kamar rumah kami ada satu hal yang sangat mengganggu khususnya di saat tidur, yaitu “balapan” nyamuk.

Sudah sejak dulu, kalau ada nyamuk bergiang-ngiang itu saya pasti sulit tidur.

Alhasil sebelum tidur, saya atau bunda menyemprot pembasmi para pembalap liar tersebut di satu-satunya kamar di rumah yang baru selesai dan bisa ditempati.

Itupun belum cukup, hingga beberapa hari lalu saya membeli raket pembunuh nyamuk di sebuah toko retail terbesar kedua di Indonesia. Harganya lumayan, tapi karena dapatnya dari voucher hadiah yang gak berasa pastinya…

Maka selama beberapa hari terakhir, misi perang melawan pembalap liar itu pun semakin memuncak. Sebelum berangkat bobok, saya dan bunda gantian mengangkat raket dan menyergap para pembalap liar tersebut di hampir semua tempat di dalam kamar. Mulai gorden, selimut, bantal, guling, hingga hampir semua sisi dinding yang terbuka.

Cukup? Belum! Dua hari terakhir, saya pun selalu terjaga di waktu dini. Selain tetap dipersenjatai raket nyamuk, kedua telapak tangan saya siap menjadi senjata perang. Meski acap kali saya lebih sering menggunakan telapak tangan.

Hasilnya beberapa nyamuk terpanggang hitam di rangkaian jaringan raket. Selebihnya penyet saya tepok saat menempel di dinding kamar.

Gugurnya banyak kawanan pembalap liar ini sepertinya membuat kawan-kawannya yang tersisa terlihat agak enggan muncul terang-terangan.

Semalam sambil menonton pertandingan MU versus Zorya di pentas Liga Eropa, saya berusaha tetap terjaga. Setidaknya tiga nyamuk gugur, satu terpanggang dan dua tertepok penyet.

Di saat kelopak mataku mulai berat, masih terlihat satu atau dua bayangan nyamuk berkelebat. Rasanya energi mulai habis, perlu istirahat sejenak dari perang ini meski kasihan juga kalau anak-anak sampai gatal kakinya dan menggaruk-garuk.

“Maaf, nak. Ayah tidur dulu sejenak, sebelum pagi benar-benar menjelang.”

Entah saya yang lelah atau para nyamuk yang tersisa juga agak kecapaian berperang, di sisa waktu sebelum matahari terbit itu tidak terdengar lagi suara knalpot dari para nyamuk.

Hingga…

“Ayah, sudah shalat Subuh belum? Sudah pagi tuh,” kata bunda menbangunkanku.

Sampai nanti malam lagi yah, nyamuk. Semoga kalian sudah pada kapok, jangan datang lagi yah.

Bogor, 30 September 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s