Film Athirah: Penghapus Sebagian Rindu

poster-film-athirah-1Saya bukan penggemar pak JK, bahkan mungkin tidak akan pernah. Pasalnya banyak pemikiran dan tindakan beliau yang saya kurang setuju.

Tapi terlepas dari itu, setelah melihat trailer-nya di YouTube dan cerita behind the scenes-nya, saya merasa harus menonton film Athirah karya Miles Film yang bercerita tentang kehidupan ibunda pak JK kental dengan narasi budaya Bugis – Makassar. Sebagai manusia berdarah Bugis dan tumbuh kembang di Makassar, film ini seperti akan mampu menghapus sebagian rasa rinduku pada kampung halaman.

Ya, Makassar buatku adalah tempatku belajar berbudaya, belajar mengejar cita dan cinta, terpuruk kala patah hati, bercerita pada senja di Losari dan deretan pepohonan di Tamalanrea KM. 10, tenggelam dalam dunia hitam, lalu bangkit untuk sebuah keyakinan seberapa pun bodohnya dan terbelakangnya diri, kaki harus tetap berjejak, dada harus tegak dan kepala harus menatap ke atas serta ke depan. Sederhananya, budaya daerahku mengajarkan jika laki-laki Bugis tidak boleh cengeng dan kalah. Laki-laki Bugis harus berdiri untuk keyakinan yang dipikirnya benar.

Saya tidak ingin mengatakan budaya Bugis sebagai yang terbagus, ataupun Makassar adalah tempat tumbuh kembang terbaik di dunia. Saya hanya ingin mengatakan berbanggalah pada kita yang punya latar belakang budaya daerah. Pasalnya menurutku budaya daerah adalah identitas yang mengiringi perjalanan hidup kita hingga penghujung waktu nanti.

Budaya daerah menjadi lentera kita untuk melihat, bahkan di saat gelap datang. Budaya daerah punya serupa poros yang mampu membuat kita tidak lantas absurd di tengah pergolakan jaman. Budaya daerah adalah kebanggaan bagi kita yang memilikinya, inheren di dalam tubuh kita.

Seperti kata putri sulungku berulang-ulang meski agak lebay, “Ayah, Oka orang Bugis, kan?”

“Iya, nak. Selalu itu.”

Dia ulangi lagi acap kali, sampai jengah juga aku mendengarnya. “Yah, tidak harus diulang-ulang juga, nak.”

Kembali ke soal film Athirah, saya lantas berujar pada istri, “Bunda, kayaknya kita harus nonton bareng nih film Athirah, biar dirimu lebih mengenal latar belakang budaya laki-laki yang menikahimu. Apalagi ada syutingnya di Sengkang lho, bunda.”

“Terus anak-anak yang jaga siapa kalau kita nonton bareng?” jawab istriku singkat.

“Hehehehe, iya juga sih,” gumamku dalam hati.

Dengan niat ingin tetap menonton ternyata ada dua jadwal tayang di CCM dekat rumah. Siap, insya Allah saya harus kudu nonton neeh, guys

Bogor, 2 Oktober 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s