TAKWA, BEKERJA & MENIKMATI HIDUP

Bunda mengenang masa kecil di sebuah jembatan penghubung perum Gaperi dan Bojong Gede

Bunda mengenang masa kecil di sebuah jembatan penghubung perum Gaperi dan Bojong Gede.

Sudah dua hari dalam dua pekan terakhir, saya berjalan kaki bersama bunda. Kami tidak menghitung jaraknya, tapi kira-kira setiap perjalanan makan waktu sekitar 3 jam.

Saya sempat sih mengestimasi di Google Map untuk perjalanan pertama yaitu sekitar 9 km, dan perjalanan kedua lebih jauh lagi. “Kali ini kayaknya kejauhan, ayah,” kata bunda pada perjalanan kedua. 

Mana setiap perjalanan kaki tidak dilakukan di pagi hari, tapi dimulai setelah mengantar ketiga anak kami ke sekolah. Setelah itu motor kami titipkan di areal sekolah, sebelum mulai jalan kaki.

Buatku pribadi, perjalanan kaki ini punya banyak makna mulai menjawab tantangan bunda, olahraga, sekalian menikmati hidup.

Ya, di saat orang-orang banyak yang berjibaku dengan rutinitas mencari rejeki, saya bersyukur Tuhan memberikanku jalan pekerjaan yang aku harapkan yaitu menjadi seorang ronin, samurai tak bertuan (tapi tetap ber-Tuhan pasti dong).

Di rumah, setidaknya masih ada biaya hidup untuk sepekan ke depan dan itu juga menjadi salah satu pertimbangan untuk jeda dulu hari ini.

Kubah Masjid nan jauh di sana, jalan kampung menuju perum Graha Kartika.

Kubah Masjid nan jauh di sana, jalan kampung menuju perum Graha Kartika.

Di perjalanan kaki kedua ini dimulai pukul delapan pagi. Kami melintasi rute jalan raya Tegar Beriman, jalan raya Sukahati, masuk ke perumahan Gaperi, melintasi jalan Lembah Hijau, masuk ke kompleks perumahan, melalui jalan perkampungan, hingga masuk lagi ke sebuah kompleks perumahan yang lain Graha Kartika.

Perjalanan kedua ini juga melintasi dua jembatan yang di bawahnya mengalir aliran sungai Ciliwung. Di jembatan kedua yang menghubungkan kompleks Gaperi dengan Bojong Gede, bunda sempat berhenti sejenak. Dia mengenang masa kecilnya saat bermain di aliran air sungai di Desa Babakan, Ciamis. Suasana di jembatan tersebut memang enak dilihat, air sungai masih mengalir jernih di antara pepohonan bambu di sisi – sisinya. Bahkan terkadang masih ada kabut di saat subuh menjelang pagi.

Menyerah, saatnya dihibahkan. Masa baktinya sudah usai.

Menyerah, saatnya dihibahkan. Masa baktinya sudah usai.

Saya pun suka berhenti sejenak di situ, kalau bersepeda.

Ya, Indonesia ini memang indah. Kemarin saat melintasi daerah Tapos 2 di Bogor, saya merasa takzim dengan suasananya. Ruas jalanan yang sempit seolah tidak menjadi soal dengan panorama yang ada. Rute yang terus menanjak menuju lokasi dibayar dengan suasana perkebunan mulai dari sawi hingga durian montong ada. Sementara di kejauhan, nampak deretan pegunungan yang seolah mengapit daerah itu.

Saya tidak menyangka tidak terlalu jauh dari Jakarta yang penuh sesak dengan polusi dan emosi, ada pemandangan alam yang sedemikian menyejukkan.

Saya sempat juga melintasi jalan kecil beberapa kilometer ke dalam dimana masih terhampar sawah yang hijau dan perkebunan ubi.

Dalam hati saya berujar, “Indonesia ini memang indah. Bahkan, jika kita orang Indonesia tidak lantas masuk surga di nirwana nanti tetaplah harus bersyukur, karena terlahir di negeri yang sangat demikian indah alamnya.”

Saat melintasi jalur pulang dari arah Tapos 2, saya bersua dengan dua angkot. Di kaca belakang dua angkot itu tertempel stiker yang mengingatkanku pada masa kecil di era tahun 80an – 90an, stikernya bertuliskan “Tumaritis”. Ya, buat anak-anak di eraku, nama Tumaritis mengingatkan pada komikus Tatang Suhendra alias Tatang S yang sangat gape menuliskan kisah Punakawan Petruk – Gareng – Semar – Bagong dari desa Tumaritis.

Meski harga komiknya murah dan di jual di emper di depan sekolah, namun isi komik Tatang S menurutku sangat ringan dan menghibur. Banyak kisah superhero diplesetkan tanpa terkesan murahan, malah menurutku membuatku sadar atau tidak sadar bangga menjadi orang Indonesia.

Lamunanku tentang indahnya Indonesia itu tidak berlangsung lama. Sebuah suara membuyarkannya, “Ayah, jadi beliin jus buah gak? Jangan yang manis tapinya, yang anti kolestrol saja,” kata bunda.

“Tapi kan tadi sudah makan bubur Cirebon,” kataku bercanda melihat mimik istriku agak bersungut, sambil tetap memesan.

Sang penjual pun sigap menyiapkan dua gelas plastik jus buah sehat, dan perjalanan kaki hari itu pun berakhir. Tinggal 1 kilometer lagi menuju sekolah anak-anak kami, menjemput mereka dan kembali ke rumah.

Ya, bahagia itu sekali lagi menurutku sederhana. Buatku, cukuplah bertakwa, bekerja dan menikmati hidup. Semoga hal ini dapat kupegang selalu…

Bogor, 4 Oktober 2016

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Travelling. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s