SHALAT DI MASJID ORANG CINA

Dimanapun usahakanlah untuk tetap bahagia dan bersyukur.
Dimanapun usahakanlah untuk tetap bahagia dan bersyukur.

Kamis (6/10), saya mampir shalat Dzuhur yang agak telat dan Ashar berjamaah di sebuah Masjid keren di seberang danau Sunter. Namanya Masjid Ramlie Mustofa.

Kaligrafi Surah Al-Fatihah dan artinya.
Kaligrafi Surah Al-Fatihah dan artinya.

Saat hendak masuk ke dalam pekarangan Masjid, seorang sekuriti berpakaian biru memberikan salam “Assalamualaikum” seraya merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Seorang rekannya yang lain berjaga di dalam pos selepas pagar masuk. Mereka meminta saya dan rekan untuk menitipkan tas yang kami bawa.

Rupanya tas tidak diperkenankan dibawa masuk, namun kami diberi nomor penitipan untuk menegaskan jika barang-barang kami insya Allah aman.

Kaligrafi surah Al-Qari'ah dan artinya.
Kaligrafi surah Al-Qari’ah dan artinya.

Uniknya di halaman depan Masjid tersebut, ada dua Surat Alfatihah dan Surah Al-Qari’ah. Kedua surat ini tidak berdiri sendiri dalam penjelasannya, namun ada dua kaligrafi bahasa lain yaitu Indonesia dan Mandarin.

“Masjid ini yang punya memang orang Cina muallaf, bro,” kata seorang senior sekaligus partner kerjaku saat ini.

Sebelum memutuskan untuk wudhu, saya dan rekan senior tersebut bergantian mengabadikan momen foto jika kami pernah mampir ke Masjid ini.

Keheningan yang indah di areal sang imam.
Keheningan yang indah di areal sang imam.

Saat masuk ke tempat wudhu-nya yang Masya Allah keren bingits, juru parkir di depan tergopoh-gopoh ke arah kami. “Ini siapa yang kunci motornya ketinggalan di motor yah, pak?”

Rupanya rekanku yang kelupaan.

Selepas wudhu, saya agak kebingungan mencari tempat shalatnya. Ruangan yang selantai dengan tempat wudhu ternyata tidak menunjukkan sebagai tanda-tanda tempat menjalankan shalat. Saya sempat sekilas melihat ada dua lift juga, namun saya memutuskan bertanya kepada seseorang yang seperti penjaga di Masjid tersebut.

“Tempat shalat-nya dimana yah, pak?”

“Naik ke atas, pak,” jawab bapak itu.

Masuk ke dalam tempat shalat di lantai dua, saya hanya bisa takzim. Saya jadi saya semakin yakin jika keyakinan (agama), suku dan ras adalah otoritas hidayah Tuhan YME. Kalau kata istriku, “Amaluna Amalukum, untukku amalanku, untukmu amalanmu.”

Desain pilarnya yang besar mengingatkan pada suasana di perguruan Bu tong pay yang didirikan pesilat tangguh Thio Sam Hong.
Desain pilarnya yang besar mengingatkan pada suasana di perguruan Bu tong pay yang didirikan pesilat tangguh Thio Sam Hong.

Ruangan tempat shalat itu seperti menggabungkan kesan kita seyogyanya luruh sebagai hamba yang sangat kecil di antara semesta tidak berbatas. Meski demikian luruh yang saya maksud bukan berarti takluk dalam gelap, tapi lebih kepada rasa syukur atas iman yang masih diberikan kesempatan melekat di dalam dada. Meski mungkin kadarnya di hatiku sangat kecil dan tidak berbanding dengan kadar iman para pemuka agama sebenarnya. Tetap saja saya bersyukur.

Arsitektur di tempat sang imam dipenuhi nuansa kaca yang membuat cahaya sore itu masuk menerabas, seolah menunjukkan agar kami bisa lebih khidmat pada saat menjalankan ibadah shalat nanti.

Sementara di bagian tengahnya nampak menjulang bagian bawah kubah di atas sana. Pilar-pilarnya yang besar dan bersih putih seolah mengingatkanku pada desain bangunan pilar di kuil Bu tong pay di kisah silat To Liong To, tempat dimana Thio Sam Hong mengajar para muridnya termasuk ayah dari Thio Bu Kie.

Lamunanku di antara selepas shalat Dzuhur yang agak telat dan menanti waktu Ashar akhirnya buyar oleh suara tabuan bedug dan adzan Ashar yang berkumandang.

Selepas shalat dan memakai sepatu, saya jadi teringat katakanlah pada seorang kawan (katakanlah kawan karena saya menganggapnya datar dan sederajat saja). Ia seorang petahana kepala daerah yang juga beretnis Cina namun dari kalangan non muslim. Yang satu dia suka marah-marah seperti seorang ibu walikota di kota bagian Timur pulau ini, namun dia setahu saya belum sempat menampar sopir angkot bandel seperti seorang bapak walikota yang tengah menjadi idola di sebuah jejaring sosial.

Ya sayang, teman saya itu berbeda dibanding ibu dan bapak walikota yang beragama Islam. Ia pun jadi bulan-bulanan sasaran tembak, seolah melupakan kiprah dan nyalinya melawan mafia anggaran, menyediakan tempat penampungan buat orang-orang yang tidak tertib administratif dalam membangun perumahan, atau membuat kebijakan untuk membayar gaji penyapu jalanan sesuai UMP.

“Bapak saya dulu berpesan supaya saja jadi pejabat, karena saat menjadi pengusaha tidak sanggup membantu banyak orang miskin,” katanya.

Atas nama kemanusiaan yang setara, pernyataannya ini membuat saya terharu. Sayang seberapa keras pun dia berbuat baik, tetap saja ada stigma dia bukan orang baik. Padahal sekali lagi, Tuhan Yang Maha Kuasa punya otoritas penuh jauh di atas benak kita yang lebih kecil dibanding sebutir pasir, untuk menitipkan kebaikan pada semua mahluk ciptaan-Nya.

Oh dunya, kalau kata seorang teman. Kenapa masih saja kita terpaku pada pandangan primordial, tanpa ingin mencernanya lebih lanjut jika kebaikan bisa saja tersemai dan dipetik darimanapun.

Berhentilah sejenak mencermati, sebelum menempelkan label kesalahan hanya karena berbeda suku, ras dan agama. Please, stop play god to judge other, cos’ we are not.

Bogor, 7 Oktober 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s