ADIK PAPAKU YANG PALING CANTIK PULANG DI HARI JUMAT

Alm. Pung Nure'
Alm. Pung Nure’

Jumat pagi (21/10) pukul 9:32 WIB, sebuah pesan WA masuk ke smartphone-ku dari Anti adikku.

“Pung Nure meninggal.”

Kakiku yang tengah berdiri di kereta langsung terasa lemas, mataku agak berkaca. Kupandang suasana di luar kereta, “Satu lagi perjalanan hidup orang dekat yang selesai, adik almarhum papaku yang paling cantik menamatkan kisahnya di bumi manusia.”

Aku tiba-tiba ingat kata-kata bunda istriku, “Pung Nure itu cantik banget yah, ayah. Baik lagi.”

Ya, sayang Pung Nure memang sudah cukup lama kena diabetes. Badannya sejak lama sudah kurus, walaupun paras kecantikannya tetap kelihatan di antara aura kelelahan yang tidak dapat disembunyikan karena sakit berkepanjangan.

Sebelum Pung Nure wafat Jumat pagi di Makassar dan sedianya dikebumikan di Sengkang, sempat dirawat hampir tiga bulan dan nyaris sebulan terakhir dalam keadaan koma.

Pasti ada rasa kesedihan mendalam di hati suami dan anak-anaknya yang ditinggalkan. Terlebih pada dua anak laki-lakinya belum menikah, baru adik sepupuku yang sulung perempuan yang sudah menikah dan punya anak satu.

Terlepas dari kesedihan yang mendalam, aku ingat kata-kata sebagian pemuka di religiku, jika “pulang” di hari Jum’at adalah yang paling baik.

Selamat jalan, Pung Nure’. Semoga Khusnul Khotimah.

TENTANG PUNG NURE’ DI MEMOARKU YANG TERBATAS

Saya memang tidak banyak bersua dengan Pung Nure’ sejak mulai saat tumbuh remaja hingga beranakpinak saat ini. Saat SMA dan kuliah di Makassar, Pung Nure’ bersama suami dan anak-anaknya menetap di kabupaten Sidrap yang jaraknya lebih dari 200 km dari kota Makassar.

Hanya semasa SD saat ke Sengkang dulu, saya sering ketemu Pung Nure’ di rumah kakekku Pung Beddu’ Latif di Amessangeng Sengkang.

Baru beberapa tahun lalu kami sempat bersua lagi di Jakarta selama beberapa hari. Sikapnya tidak ada yang berubah, tetap seperti dulu seorang tante yang baik, suka tersenyum dan ramah. Nampak nian sosok keibuan pada tanteku itu.

Tutur katanya ringan seperti biasa, banyak bercanda, senyumnya yang menenangkan dan menambah aura kecantikannya. Inilah memoar terbatas yang masih terngiang di benakku.

Sekali lagi, selamat jalan, tanteku sayang. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik di sisi-Nya, aaamiiin yaa rabbal alamin.

Bogor, 21 Oktober 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s