SEKALI LAGI BELAJAR KEHIDUPAN: MELIHATLAH OBJEKTIF DAN PETAKANLAH SECARA SEDERHANA

sumber image: http://bjstlh.com/
sumber image: http://bjstlh.com/

Duduklah sekali, anak-anakku. Ayah baru saja berusia 41 tahun beberapa hari lalu.

“Ayah tua yah?”

Iya, nak. Ayah semakin berumur. Untuk itu, duduklah sekali lagi, dengar cerita ayah semoga dapat menjadi pembelajaran. 

Ke depan, saat kalian dewasa akan banyak pandangan yang terlihat benar masing-masing dan sangat mungkin berbenturan.

Menurut ayah, ada beberapa penyebab dari hal ini. Pertama, adalah faktor fanatisme. Hal ini menurut ayah, bisa mengaburkan objektivitas dalam melihat dan menilai hal yang tengah terjadi. Implikasinya penilaian yang timbul disertai faktor emosional dan alur napas yang berat.

Kedua, adalah kepentingan duniawi yang terlampau besar. Ya, dorongan sikap impulsif akibat peluang atau celah yang ada, acapkali menjadi godaan yang sulit ditolak. Hal ini menurut pengamatan ayah tidak hanya terjadi pada kaum awam, namun juga pada kaum mapan, kaum terpelajar bahkan lulusan luar negeri terbaik sekalipun, hingga yang paling mencengangkan datang dari kaum yang selama ini dikenal religius.

Sederhananya godaan tidak hanya bisa menggoyahkan iman orang awam, tapi juga yang kelihatan lebih tinggi di kehidupan sosial. Namanya juga di bumi manusia, nak, tidak ada yang sempurna.

“Lantas solusinya bagaimana, ayah?”

Sebelum mencoba memberi jawaban, ayah ingin bilang jika rasa sabar dan bersyukur itu harus dimiliki sebagai kunci. Kaya bahkan berlimpah secara materi sekalipun belum tentu membuat kita sabar dan bersyukur. Sudah banyak fakta yang ayah lihat, kalau orang – orang kaya raya atau super terpelajar yang ayah tahu akhirnya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di ruang hukum karena tindakan yang kurang baik atau yang paling umum disebut tindak korupsi atau memakan yang bukan haknya.

Makna yang bisa dipelajari dari hal-hal itu yaitu bahagia itu tidak harus memaksakan keadaan secara berlebihan. Baik poin pertama dan kedua soal akar masalah di atas memiliki keterkaitan, yaitu akibat fanatisme dan sikap impulsif yang oportunis. Ya, kita memang harus bekerja keras dan sebisa mungkin kaya raya supaya bisa berbagi kepada sesama juga, tapi jangan membuat kita gelap mata memaksakan keadaan yang membuat alur napas kita menjadi berat.

Bahagia itu menurut ayah tetap sederhana. Bisa melihat ke belakang tentang rekam jejak kita, untuk melihat telah begitu banyak nikmat kehidupan yang Tuhan telah berikan agar kita bersyukur. Setelah itu tetap lanjutkan perjalanan, berani belajar hal-hal baru untuk mengembangkan kemampuan diri tanpa beban karena hidup toh dimulai dari titik nol.

Jangan segan berbuat salah, karena itu akan membatasi kita untuk mencoba lebih baik. Tentu saja yang ayah maksud di sini adalah kesalahan dalam perjuangan memperbaiki diri menuju lebih baik, bukan menjerumuskan diri pada kesalahan yang disengaja atau tidak perlu.

Hidup memang harus diperjuangkan, termasuk kemuliannya. Untuk itu pula kita harus selalu berdoa. Kalau sebagai muslim, jangan pernah tinggalkan shalat dan baca Al-Qur’an serta maknanya. Shalat sunnah-lah jika bisa seperti Dhuha dan Tahajjud. Puasa penuh di bulan Ramadhan buat yang laki, serta jika kuat puasa sunnah seperti Senin Kamis.

Jangan makan dan minum yang dilarang oleh agama, ataupun bukan hak kita. Hal ini selain untuk memohon agar Tuhan tetap bersama kita di sepanjang jalan, juga mengajarkan kita mental dan semangat juang untuk tidak pernah menyerah.

Kenapa? Karena Tuhan insya Allah akan bersama kita orang-orang yang berusaha tetap baik di sepanjang jalan.

Selamat berjuang, anak-anakku. Insya Allah Tuhan akan selalu bersama umat-Nya yang sabar dan pandai bersyukur. Sekali lagi, bahagia itu sederhana…

Bogor, 11 November 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s