Kisah Persahabatan Tengleng Abok

 

sumber foto: atulhost.com
sumber foto: atulhost.com

Matahari pagi mulai menyeruak di bawah sana, jarum jam menara yang menjadi ikon kota pun baru saja berdentang menunjukkan pukul enam pagi.

Dua blok di bawah sana, tempat Tengleng tengah terkesiap juga telah memulai aktivitasnya.

Ya, dua blok di bawah sana adalah pasar induk di kabupaten ini. Untuk sampai ke sana harus menuruni banyak anak tangga, dan jumlahnya ada dua.

Deretan tangga pertama lebarnya enam meter dan ada sekitar 40 anak tangga yang harus dituruni untuk sampai ke blok berikut dimana banya ruko dan penjaja makanan.

Nah, untuk sampai ke pasar induk harus menuruni lagi sekitar 33 anak tangga, dengan lebar empat meter.

Itulah jumlah anak tangga yang harus dituruni Tengleng di pagi itu. Sebenarnya ia tidak kesiangan, namun selepas subuh tadi ia masih harus berbenah di rumah dulu.

Kini usia Tengleng sudah 18 tahun. Dengan susah payah, selepas SMA tahun lalu, Tengleng bisa melanjutkan kuliah di sebuah PTN yang jaraknya sekitar 15 km dari ibukota provinsi. Tapi dari kota Tengleng tinggal butuh dua jam perjalanan jika menggunakan sepeda motor.

Sejak kelas kecil Tengleng memang sudah memiliki jiwa wirausaha, dan sejak kelas tiga SMP, ia telah mengelola usaha kerajinan dari barang bekas untuk dijual. Lumayan setelah berjalan empat tahun dan kini di era internet, Tengeleng sudah mulai bisa memasarkan produk kerajinannya ke sejumlah kota besar di negeri ini. Bahkan sudah ada pula yang dipesan ke luar negeri, meski jumlahnya belum dalam skala besar.

Pagi itu bukanlah pagi yang baik buat Tengleng. Ia harus bergegas ke arah pasar sana, dimana terminal bus ukuran sedang berada tepat di samping pasar. Ya, terminal tersebut merupakan akses satu-satunya akses warga  untuk ke kota lain antar provinsi dengan menggunakan bus.

Tengleng harus berusaha menjaga agar Abok, sahabatnya yang sudah kayak saudara sejak kecil untuk tidak pergi. Subuh tadi, Abok hanya berkata singkat jika dia sudah tidak mungkin tinggal dan harus meninggalkan tanah kelahiran tercinta.

“Sudah aku pikirkan matang-matang, keputusanku sudah bulat,” kata Abok di ujung telepon.

Dan yah, setibanya Tengleng di terminal, bus itu baru saja pergi 10 menit yang lalu. Tengleng melihat petunjuk waktu di jam tangannya, “6:12.”

“Hmm, selamat jalan, sahabatku. Semoga Tuhan menyertai.”

Tengleng dan Abok sudah menjadi teman permainan sejak kecil. SD dan SMP bareng sekelas. SMA saja mereka berpisah di kelas dua, Tengleng masuk IPS, sementara Abok masuk IPA.

Saat kuliah pun, mereka bisa berhasil tembus di PTN terbesar di provinsi. Tengleng masuk ilmu komunikasi, sementara Abok masuk Teknik Industri.

Keduanya pun suka berwirausaha, bedanya Abok yang suka utak-atik yang berbau teknikal lebih suka mengembangkan produk seperti alat bantu penghemat konsumsi BBM untuk mobil-mobil pikap pengangkut sayur di pasar.

Abok juga berhasil membuat alat penghasil listrik dari tenaga sinar surya dan air. Alat yang ia produksi dia pasarkan dengan harga cukup terjangkau. Banyak pedagang di pasar induk dan industri kerajinan makanan kemasan di kota mereka bahkan di daerah tetangga yang telah membeli produk buatan Abok.

“Yang penting sudah menutupi biaya produksi dan bisa nambah jajan. Syukur-syukur bisa nambah beli buku kuliah,” kata Abok.

Seminggu sebelum petaka itu datang, keduanya baru saja menyelesaikan ujian semester dua. Abok dan Tengleng agak jarang bertemu selama sepekan itu. Masing-masing anak sulung dari dua bersaudara itu tengah sibuk dengan urusan masing-masing. Apalagi Tengleng baru saja jadian dengan Ikun, salah satu dara cantik yang baru masuk kuliah di PTN provinsi itu dan mengambil jurusan ekonomi studi pembangunan.

Hingga tiba-tiba sore itu adik Tengleng, si Ennung, berlari ke ruang tamu saat Tengleng lagi sibuk mempersiapkan bahan barang bekas untuk pesanan konsumen.

Anak dara usia 15 tahun bilang dengan nada agak panik, “Abok lagi di sidang di kantor desa, kak. Dia tadi berkelahi dengan tujuh pemuda mabuk di dekat pos kambling dekat kompleks perumahan baru.”

Tengleng seketika terkesiap. Ia tahu Abok meski sudah belajar silat tradisional kampung sejak kecil, namun terakhir kali ia berkelahi waktu kelas enam SD. Tengleng juga latihan silat di padepokan yang sama Abok.

Tengleng lalu menyalakan mesin motornya, bergegas di kantor desa. Di sana, orang-orang banyak yang berkerumun dan melihat dari luar kisi-kisi jendela.

“Abok, kamu mestinya gak main hakim sendiri, dan gak perlu bawa-bawa ayat kepercayaan yang tidak kamu anut kepada mereka,” kata seorang tokoh masyarakat yang juga merupakan pemuka religi kondang yang duduk tepat di samping kepala desa.

Ada memar di muka Abok, tapi Tengleng tahu rasa sakit si Abok lebih pada pernyataan pemuka religi itu.

Satu dari tujuh pemuda mabuk yang mengeroyok si Abok adalah putra tokoh masyarakat itu dari bini ketiga.

Tokoh masyarakat itu memang dikenal tajir, punya beberapa rumah, banyak pengikut, beberapa hektar sawah dan kebun. Bisnis utamanya yah sebagai pemuka religi yang kerap diundang kemana-mana, bahkan sampai luar negeri. Beberapa kali juga masuk tivi nasional dan daerah, apalagi jika menjelang momen pemilihan kepala daerah.

Tujuh pemuda itu rupanya tengah merayakan kelulusan SMA dari putra tokoh masyarakat tersebut, kala adik semata wayang yang tengah melintas digoda.

Aling adik Abok yang baru mau masuk SMA itu mengadu pada sang kakak.

“Mestinya kalian bisa menghargai warga sekampung dong. Apalagi mabuk-mabukan itu bukan budaya kita, dan dilarang agama,” kata Abok berusaha tenang di tengah mata-mata yang siap menghajarnya.

“Diam kamu, Bok. Kamu tuh bukan warga kampung sini, matamu sipit dan warna kulitmu kuning. Pulang sana,” kata putra tokoh masyarakat itu.

“Hmm, saya memang kenal dua bahasa untuk penyelesaian masalah. Satu, bahasa manusia buat bisa diajak komunikasi pakai mulut. Kedua, bahasa binatang buat yang bisa mengerti kalau sudah digebuk.”

Maka terjadilah momen yang cukup menggemparkan itu. Abok diusir dari desa. Tengleng pun tahu itu akhir batas kesabaran Abok pada budaya diskriminatif yang masih hidup di kampungnya.

Yang tidak disangka Tengleng, saat Aling mengirimkan pesan WhatsApp di smartphone-nya selepas Subuh, “Kakak sudah siap-siap pergi pagi ini, Bang. Meninggalkan saya dan papa. Tekadnya sudah bulat merantau.”

Tengleng tidak menduga, ia hanya bisa melihat wajah sahabat dekatnya itu lewat kisi-kisi jendela kantor desa untuk mungkin yang terakhir kalinya.

Sudah aku pikirkan matang-matang, keputusanku sudah bulat,” kata Abok di ujung telepon.

Dan yah, setibanya Tengleng di terminal, bus itu baru saja pergi 10 menit yang lalu. Tengleng melihat petunjuk waktu di jam tangannya, “6:12.”

“Hmm, selamat jalan, sahabatku. Semoga Tuhan menyertai.”

Waktu pun terus berjalan. Tengleng masih memikirkan Abok, namun ia harus melanjutkan hidup. Selepas kuliah S1 di usia 23 tahun, Tengleng langsung mempersunting Ikun yang sedang tahap akhir skripsinya. Setahun kemudian, keduanya dikarunia buah hati pertama, anak perempuan. Tahun itu, Ikun juga akhirnya bisa menyelesaikan kuliahnya.

Tengleng dan Ikun terus fokus pada pengembangan unit usaha, terlebih kini pesanan lampu hias makin banyak dari pelanggan, khususnya dari kalangan pengusaha penginapan, perkantoran dan ruko usaha.

Dari Aling, Tengleng sesekali mendapat info soal Abok yang hidup di salah satu provinsi di bagian timur negeri.

“Kakak juga sudah menikah, bang. Dia juga sudah menyelesaikan kuliah di universitas terbuka. Kakak bilang, suatu saat jika saatnya sudah tepat, dia akan menghubungi abang,” kata Aling yang kini sudah di semester enam PTN kebanggaan provinsi mereka.

Dia ambil jurusan akuntansi. Katanya buat bekal ngelanjutin bisnis makanan kemasan punya papanya.

Enam tahun berlalu, akhirnya Abok menghubungi Tengleng.

“Halo, saudaraku. Maaf, saya baru bisa bicara sekarang. Sibuk sekali soalnya awak di sini. Saya juga seiman denganmu sekarang, bro. Bukan karena paksaan, atau karena religi sebelumnya jelek, bukan. Semua ajaran religi itu baik. Saya akhirnya jatuh cinta pertama, karena di sini saya bisa menyembah Tuhan lebih sering tiap hari. Saya juga sudah menikah dengan salah satu dara cantik  di sini. Sekarang, saya kerjakan beberapa hal di sini mulai dari membantu sistem pengairan warga dari mata air di kaki gunung, membuat sistem listrik dari tenaga air, sampai ngurusin sistem distribusi hasil kerajinan masyarakat setempat ke luar negeri. Saya juga punya dua bengkel kecil-kecilan yang khusus menangani perawatan dan perbaikan truk. Kapan-kapan ada waktu luang, ajaklah keluargamu ke sini. Rumahku memang sebagian dari kayu, namun ada sebagian juga dari batu, dan yang pasti masih mampu menampung keluargamu dengan leluasa. Papa dan Aling juga sudah beberapa kali ke sini. Sudah saya ajak pindah juga mereka ke sini, karena masyarakatnya lebih terbuka dengan perbedaan. Dan yang kujamin kamu bakal suka, di sini laut, gunung, hutan bersahabat semua. Tuhan seakan mengirimkan cinta lebih banyak ke sini. Eh, kok kamu banyak diam saja? Well, sudah dulu yah. Pekerjaan mulai memanggil nih. Jangan lupa di-save nomor teleponku, brader.”

Tengleng pun tersenyum. Badai yang sangat tidak adil beberapa waktu lalu telah mengajarkan makna banyak buat sahabat terbaiknya.

“Terima kasih Tuhan, telah menjaga saudaraku dengan baik.”

Bogor, 7 Desember 2016

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s