SEJENAK BELAJAR PERGERAKAN DEMOKRASI DI JEPANG

Rak buku yang terbuka ini setidaknya cukup  mampu menggugah semangat membaca yang mengendap setelah sekian lama.

Rak buku yang terbuka ini setidaknya cukup mampu menggugah semangat membaca yang mengendap setelah sekian lama.

Sudah lama nian rasanya saya tidak membaca buku. Dua hari lalu, akhirnya saya kembali membaca. Bukunya pun bukan buku baru.

 
Buku karya I Ketut Suradjaja itu bahkan usianya lebih tua dari istri saya, terbitan tahun 1984.

 
Buku itu judul “Pergerakan Demokrasi Jepang”. Tebalnya kurang dari 200 halaman, dan baru saja hari ini saya selesai membacanya (lagi).
 
Beberapa teman dekat mungkin tahu, saya memang tertarik dengan sejarah pergerakan demokrasi di Jepang. Masih sangat minim sebenarnya wawasan saya, tapi toh siapa yang peduli, ini toh sekadar memuaskan dahaga pribadi saya.
 
Buku ini menjelaskan pergerakan demokrasi di Jepang yang cukup panjang dan berliku, termasuk dengan mengirim beberapa utusannya untuk belajar peradaban negara modern di Eropa.
 
Buku ini juga menjelaskan peralihan budaya feodal menuju upaya menciptakan peradaban modern di era Meiji masih ambivalen. Meski Jepang menjadi negara pertama di Asia yang memiliki UU modern, namun di sisi lain di bawah kepemimpinan Kaisar baru yang masih berusia 15 tahun pada tahun 1867 juga belum menghilangkan budaya oligarki di pemerintahan, plus belum diakuinya hak warga negara, melainkan sebagai pengikut kaisar.
 
Terselip pula kisah yang cukup menyita perhatian saya sendiri. Di halaman 106, di tengah tarik ulur Jepang ingin melakukan invasi ke Korea Selatan. Rupanya keadaan di Korea pada saat itu (tahun 1882) juga tengah tidak stabil, terutama setelah sang raja muda (putra raja Taiwunkun) mengambil kebijakan melarang agama Kristen di Korea, bahkan memperlakukan pengaut agama Kristen secara kejam, bahkan mengadakan pembunuhan-pembunuhan kejam terhadap pemeluk agama ini.
 
Tindakan-tindakan ini yang kemudian mendorong kebijakan anti orang asing di Korea, termasuk anti Jepang yang dianggap “orang-orang biadab dari Timur.”
 
Peristiwa ini menyita perhatian saya, karena seolah meralat pandangan Stereotipe sebagian kalangan di negeri ini, jika masyarakat ras kuning identik dengan agama Kristen.
 
Buat saya sendiri, hal ini semakin menegaskan jika perjalanan menuju kesempurnaan pengenalan agama tidaklah melekat pada melekat pada suku, ras, warna kulit, ataupun istilah lain yang mewakili pandangan Stereotipe.
 
Di tengah masyarakat, perjalanan mencari kebenaran Tuhan bisa terasa kompleks.
 
Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada hari ini, saya teringat pada satu cerita tentang Beliau yang saya percayai.
 
Di tengah perjalanan, Nabi Muhammad SAW dan para pengikut sempat berhenti di tengah hutan untuk melaksanakan shalat fardhu berjamaah. Selesai shalat, sebagian pengikut berkata (kira-kira), “Ya, Rasulullah, bolehkan kami menetap saja di hutan ini, agar lebih tenang beribadah?”
 
“Jangan, kita harus kembali ke masyarakat,” begitu kira-kira jawaban Baginda Rasulullah SAW.
 
Mungkin itupula mengapa Rasulullah menganjurkan cinta yang horizontal kepada sesama umat manusia (Habblumminnas).
 
ALLAHUMMA SHOLLI ALA MUHAMMAD.
 
Bogor, 121216

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

2 Responses to SEJENAK BELAJAR PERGERAKAN DEMOKRASI DI JEPANG

  1. darwinarya says:

    Mantap nian, Bang! Membaca memang wajib. Membuka gerbang dunia. Harus selalu dibiasakan membaca, agar tak jadi malas dikemudian hari nanti 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s